Sabtu, 11 Mei 2013

MENEMUKAN JIWA YANG TEPAT (part 1)


MENEMUKAN JIWA YANG TEPAT

“Beda ya nduk sama waktu pertama ketemu dulu.” Kalimat kedua yang diucapkannya di pertemuan kami…
“Masak mau jadi anak SMA terus…” jawaban bodoh yang keluar begitu saja dari bibirku dan ku pamerkan senyum termanis yang ku punya yang berharap bisa membuatnya berhenti untuk mengungkit masa-masa itu.
Canggung, malu, gugup, tidak tahu lagi bagaimana aku menggambarkannya. Yaa… pertemuan kedua setelah hampir 8 tahun lalu pertemuan pertama kami. Kami bertemu saat itu ketika aku berencana melanjutkan studiku di tempat dia melanjutkan studi. Dan mengingat saat itu, aku tidak bisa menggambarkan bagaimana kusutnya wajahku dulu, culunnya anak SMA, dengan baju dan jilbab yang entah tabrak lari darimana saja yang penting ada, dengan pipiku yang cubby…. Ooooh alangkah culunnya aku dulu bila dibandingkan dengan dirinya yang sudah mulai bekerja di kantor intansi pemerintah dengan gaji yang sangat fantastis saat ikut dan membuat ku tertarik untuk masuk ke sana…
Dan justru kalimat itu yang muncul yang dia ucapkan … sumpah, andai bisa kabur detik itu juga, ingin menghilang aku rasanya.
Aku sibuk mengatur bagaimana jantungku untuk tidak meloncat kesana kemari, ku perhatikan laki-laki di depanku terlihat santai dengan ketenangan yang tak bisa tergambarkan. Simple dan elegan… dan itu yang membuatnya menarik dan yang selalu ku suka ketika melihat seseorang… tidak banyak tetek bengek yang dia kenakan, celana jins, hem pendek polo simple berkerah sanghai dengan sepatu cats… menarik untuk dilihat.
“Cuma aku agaknya yang salah tingkah”. Batinku sambil membolak balik ponsel yang ku pegang. “Please dunk Ra… jangan bikin malu”. Ocehan-ocehan setan jahat dan malaikat baik di otakku makin membuatku gugup.
Beberapa menit awal kami hanya diam sambil menunggu pelayan mengantarkan menu untuk kami. Hari itu Waroeng Steak and Shake tempat kami makan cukup ramai… Aku mengajaknya ke sana karna tidak ada tempat lain yang ku kenal di kota ini, padahal sudah hampir satu tahun aku berada di Malang, tapi tak satupun tempat makan enak nyaman untuk makan dan ngobrol di pertemuan pertama yang aku tahu karna aku tidak pernah keluar. Dan dia Oke-oke saja meskipun awalnya sempat protes dan kurang setuju, dengan sedikit memaksa ku sampaikan bahwa aku ingin makan steak, dan hasilnya disini kami sekarang.
Tanpa basa basi dan sungkan dia minta dipesankan Blackpaper dan lemon squash yang sama dengan pilihanku saat pelayan datang mengantarkan menu. Entah memang dia mau ikut-ikut ataukah memang itu menu faforitnya aku tidak tahu… tapi aku suka gayanya yang apa adanya, tidak canggung dan tidak malu. Mungkin disesuaikan dengan umurnya yang beda 4 tahun dariku itu berarti 29 tahun umurnya. Aku tahu umurnya saat pertemuan kami pertama dulu ternyata dia alumni SMP yang sama denganku. Hanya saat aku masuk SMP dia sudah lulus 1 tahun dari SMP itu.
“Kok bengong.” Ucapnya mengagetkanku setelah kami selesai memesan menu dan menunggu pelayan mengantarkan pesanan kami.
“Jadi, gimana kabarnya Om…” Tanyaku basa basi, pertanyaan bodoh ku rasa. For your information, itulah panggilanku ke dia. Karna entah dari mana dari keluarga mbah buyut atau apalah aku gak ngerti gimana silsilahnya, aku memanggil kakak perempuannya dengan sebutan tante, jadilah aku memanggilanya Om. Ku rasa itu panggilan yang tepat saat itu karna kami tidak pernah bersapa ria dengan baik sebelumnya.
“Loh kok senyum?” Tanya ku bingung ketika bukan jawaban yang ku dapat justru senyum manis yang super manis yang ngebuat ku meleleh. “Ya Allah… ada ya Engkau menciptakan mahluk se manis dan se keren ini.” Batinku dalam hati terpesona melihat sederetan gigi putih yang ia pamerkan di sela senyum manisnya.
“Hisss… jangan senyum-senyum terus gitu dunk… Makin salting nie.” Kalimat itu keluar begitu saja melihat laki-laki di depanku yang senyum-senyum sambil memperhatikan semua tingkahku. Ku pasang wajah jutekku dan ku alihkan pandanganku melihat sekeliling kami.
“Jelek kalo ngambek nduk.” Usapan lembut itu kurasakan di kepalaku dari telapak tangannya. Spontan pandanganku langsung berhenti tepat di matanya. Senyum itu, tatapan itu, mata itu.. semuanya ada didirinya… Hangat, melindungi, dewasa, tenang.
“OMG…. Gila ya nie cowok. Gak ngerti apa aku lagi ngatur giamana perasaanku dan justru dia mau bikin jantungku bener-bener berhenti dengan sikapnya kali ini. Aku jamin wajahku merah kuning hijau bak tomat di rebus, di kukus…” Makin salting aku dibuatnya… bener-bener dia tahu gimana memanfaatkan pesonanya.  
“Jangan panggil Om dunk tua banget, panggil aja Kakak atau Mamas. Lagian umur kita Cuma beda 4 tahun.”
“Idiiih, mau memudakan usia. Ayo ku antar ke toilet biar bisa liat di cermin gimana kerutannya udah ada di semua wajahnya…” ucapku jahil.
Dan itu membuatnya tertawa. Aku suka gayanya, tawanya, senyumnya, caranya menenangkanku… Aku suka semua darinya. Sejauh ini belum ada nilai minus yang mampu menguranginya. Dia tidak terlalu tampan, kulitnya coklat bersih, tapi dia menarik untuk di pandang dan tidak membosankan saat bicara dengannya.
Suasana mulai mencair, sambil menunggu pesanan kami datang kami ceritakan satu persatu tentang kami masing-masing. Semua dari A sampai Z yang kami harap bisa menjadi awal baik bagi hubungan kami nantinya. Tidak mengada-ada, hanya mencoba menyampaikan apa yang perlu diketahui dari satu sama lain dan mempelajari karakter masing-masing. Tidak akan cukup satu malam untuk saling mengerti, semuanya akan berjalan berproses bersama menumbuhkan kepercayaan dari masing-masing dan penerimaan satu sama lain.
Ya…. Laki-laki ini lah yang telah meminta keluarganya untuk datang ke kedua orang tuaku dan memintaku sebagai istrinya. Aku bahkan tidak tahu semua itu. Tidak pernah berkomunikasi dengannya sejak beberapa tahun lalu, bahkan disetiap kesempatan kami ada di satu kota yang sama, tidak pernah terpikir olehku untuk bertemu dengannya saat keluarganya dan keluargaku menyarankan untuk bertemu. Ya…. Mungkin kami masih dengan masa lalu kami masing-masing sebelumnya. Tidak perlu dibahas itu, itu lah masa lalu. Dan sekarang ia disini, di depanku dihadapanku, untuk kami mengenal satu sama lain.
Aku ingat beberapa hari lalu sebelum ia menghubungiku meminta bertemu, Mama menelfonku.
“Dek, baju yang mama suruh kamu jahit di Mbak Ayu udah jadi?”
“Sudah ma… Kenapa?”
“Besok di bawa ya waktu pulang libur lebaran.”
“Iya… gak disuruh juga nanti Rara bawa Ma… kok tumben mama ngurusin baju-baju segala. Agaknya sejak aku putus mama heboh banget ngurusin bajuku, wajahku, penampilanku... gak biasanya ma..”
“Kamu itu dek…”…. Dan bla bla blab la…….
Jadilah aku bengong tingkat dewa entah kalimat apa lagi yang keluar dari mama sudah tidak ku dengarkan lagi. Karna yang terekam di otakku adalah “Lebaran nanti keluarganya tante Dian mau datang kesini, kamu inget adeknya yang dulu datang? Dia mau ngelamar kamu.”
Air mata itu menetes di pipiku… Selalu ada keajaiban di setiap doaku.
Dan sekarang laki-laki itu ada di hadapanku, meminta bertemu secara langsung.
Tidak banyak kata yang dia ucapkan saat pertama kali menghubungiku tak lama berselang dari telfon mama yang memberitahukan tentangnya. Tidak banyak kalimat basa-basi, hanya meminta untuk bertemu dan dia akan menjelaskan semuanya.
Ya…. Dan dia di sini, di hadapanku… dia di depanku.
“Sudah denger dari Bapak nduk?” Tanyanya setelah pesanan kami datang.
Tak tau jawaban yang tepat harus ku berikan, senyum dan anggukan ku ku harap sudah mewakili jawabanku. Dan ku lanjutkan kembali kegiatanku memotong daging di hadapanku.
“Jadi, sebelum keluarga kita melanjutkan secara resmi, aku ingin bertanya padamu apa kamu mau jadi istriku?” Tanya nya begitu saja.
Kaget, spontan langsung pandanganku ku alihkan dari potongan daging didepanku, ku alihkan kepadanya, melihat ke arahnya.. dan ternyata sejak tadi dia memperhatikanku dan dia belum menyentuh sama sekali makanannya.
Diam, ku perhatikan wajahnya lekat, aku mencari kejujuran dalam matanya, berharap ku dapat menemukan sebentuk harapan indah bagi kami kelak di dalam hatinya.
“Kamu belum siap?” Tanyanya lagi, mungkin melihat responku yang diam sejak tadi.
“Bukan, hanya gak nyangka aja kalo hari ini kita membahas itu.” Jawabku jujur dan ku berikan senyum ku.
“Aku tidak ingin memberikan janji banyak padamu dan mengumbar hal-hal yang mungkin belum tentu dapat dilakukan. Lebaran kemarin aku ke rumahmu, tapi ternyata kamu sudah berangkat ke Malang. Sebenarnya saat itu aku berencana mendekatimu, namun yang ku dengar selama pemvbicaraan dengan keluargamu, kamu telah memiliki calon suami. Dan akhirnya aku mundur. Baru satu bulan ini aku dengar dari Mbak Dian kalau hubungan kalian berakhir. Mendengar itu spontan ku meminta Mbak Dian untuk menanyakanmu pada Orang tuamu karna ku tak ingin terlambat. Aku rasa kita sudah dewasa satu sama lain, aku tidak ingin hanya sekedar berkenalan, menunjukkan kelebihan masing-masing, tanpa tahu arah dan tujuan. Aku sengaja tidak mendekatimu lebih dulu, aku mencari informasi tentangmu dari kakakku. Dan aku rasa kamu adalah perempuan yang ingin ku jadikan tempatku berbagi suka dukaku.” Banyak kalimat yang diucapkannya, dan aku simak dengan baik semuanya. Melihat setiap detail kejujuran dari kata-katanya.
“Aku tahu kita tak banyak saling mengenal. Aku bukan orang yang pandai berbasa basi atau melakukan pendekatan dengan wanita. Aku ingin kita saling mengenal setelah ini, dan aku harap kita bisa melakukannya di sisa umur hidup kita dengan kebersamaan kita.” Kalimat terakhirnya membuatku menahan nafas. Ada keyakinan di sana. Ada kesungguhan yang aku lihat. Aku suka caranya menyampaikan keinginannya… yang paling aku suka adalah sikapnya dengan langsung meminta keluarganya menemui orangtuaku. Buatku itu cukup menunjukkan ia serius.
“Bisa aku minta waktu?” Jawaban yang terlintas begitu saja.
“Ambilah waktu selama yang kau inginkan dan aku akan menunggu.”
“Aku hanya butuh waktu 3 hari untuk memutuskan. Tanyakanlah lagi 3 hari dari hari ini. Dan aku akan menjawabnya. Aku hanya butuh waktu untuk memantapkan hatiku.”
“Dan aku harap jawabanmu dalah “Iya”.”
Dan aku hanya tersenyum… tak ada lagi percakapan serius yang kami bicarakan. Semua percakapan mengalir. Tidak ada yang berlebihan darinya, aku tahu dia memiliki segalanya, karir yang baik, rumah yang tidak terlalu besar tapi cukup untuk membangun keluarga kecil yang aku impikan, dari keluarga baik-baik yang kami kenal dekat yang hampir tidak ada celah dan cacat dari keluarganya, dan yang paling penting untukku ku harap dia mampu menjadi imam bagiku itu lebih dari cukup.
Semua percakapan kami mengalir, dia supel, pandai bercanda, dan dari setiap kata-kata yang diucapkannya menunjukkan kedewasaan pola pikirnya dan pengetahuannya yang luas, tidak dibuat-buat. Tidak banyak bicara tapi dia cukup tahu apa yang harus ia bicarakan.
Hari itu kami akhiri pertemuan kami dengan dia mengantarku pulang dan dia kembali ke penginapannya.
Bisa dibayangkan, aku tidak dapat tidur hingga pukul 11 malam. Takut semua yang terjadi hanya mimpi indah yang ketika ku bangun semuanya lenyap. Aku tidak ingin kecewa kedua kalinya.
Ponsel ku berbunyi tiba-tiba… sempat terkejut karna ku yakin tadi ku sedang melamun ria. Melihat nama di layar, jantungku semakin berdetak tak menentu.
“Belum tidur nduk?” Tanya suara di seberang yang ku tahu dialah yang menelfon.
“Belum, gak bisa tidur.” Jawabku jujur.
“Apa yang dipikirkan?”
“Banyak, tapi gak tahu mana yang mau diselesaikan dulu.” Jawabku lagi.
“Tidurlah, nanti sakit. Besok bangun pagi ya… Katanya mau temani aku ke Batu.”
“Iya dah kalo gitu, Rara tidur dulu Mas.”
“Oke… jangan lupa doa. Nite”.
Dan telfon itu pun terputus,… berusaha ku pejamkan mata… dengan segala doa yang ku ingat ku ucapkan dalam hatiku. Berharap semuanya adalah nyata bukan hanya angan dan bayangan semata.

Ku percaya pada-Mu
Kuasa-Mu telah menghadirkannya dalam kehidupanku
Biarkan mata ini terpejam sesaat
Dan ketika ku bangun
Jadikanlah mimpi indah ini nyata dalam hidupku esok, lusa, nanti hingga akhir diri ini
Jawaban dari-Mu atas setiap bait doa yang ku panjatkan pada-Mu










2 komentar: