Part 4
Kau bukan yang pertama bagiku
Kau bukan orang pertama yang mengisi hatiku
Kau bukan juga orang pertama mengusik mimpi dalam tidurku
Namun Ku ingin,
Kau yang terakhir ada di sana, berdiam lama hingga tubuh in tak bernyawa
Entah sudah berapa kali ia tuliskan kalimat itu di setiap lembar buku diarynya… ia ulang lagi, ia baca, ia perhatikan satu persatu kalimat yang ia buat… Lama ia diam hingga suara dering HP mengagetkannya…. Dilihatnya nomor yang tertera di layar… tidak ada nama di sana namun ia hapal betul dengan nomor itu sejak beberapa tahun lalu….
“Waalaikumsalam. Ada apa ton?” Tanya Keysa pada suara di seberang. Ditariknya nafas dalam-dalam.
“Oke besok kita ketemu di tempat biasa…”ucap Keysa lagi dan tak lama kemudian ia tutup telfonnya. Ia kembali diam, ditariknya nafasnya perlahan menenangkan hatinya. Ia baringkan kepalanya, terasa lelah sekali terutama setelah kejadian siang tadi saat dirinya dan Roni bertemu dengan Anton di klinik. Dan ia pun akhirnya tertidur…
Pagi-pagi sekali ia bangun dan hari ini ia meminta ijin untuk tidak masuk kerja dengan alasan ada sesuatu yang harus di urus di luar kota. Keysa bahkan meminta Roni untuk tidak menjemputnya. Yaa… hari ini Keysa akan pergi bersama Anton dan ia pun tidak memberitahu ibunya mengenai masalah ini.
“Aku antar Key?” Tanya Roni saat Keysa menelfonnya, dan Keysa bersikukuh untuk menolaknya dan tidak memberitahu Roni mengenai pertemuannya dengan Anton, yaa tidak saat ini batinnya. Keysa segera menjalankan mobilnya menuju tempat yang mereka janjikan.
“Akhirnya kau datang Key” ucap Anton saat dilihatnya Keysa telah tiba dipantai.
Keysa hanya tersenyum…
Anton mengajak Keysa menikmati pemandangan pantai seperti dulu saat mereka masih bersama. Bergandengan tangan, menikmati kehadiran masing-masing. Dan Keysa tidak menolak dengan semua itu. Ia tahu masih ada Anton di sana, di hatinya.
Hampir seharian mereka bersama, mengulang kembali memori kebersamaan mereka. Mengulang kembali setiap jengkal kenangan yang telah terlewati dan membayar jarak yang telah memisahkan mereka selama ini.
Hingga tanpa terasa hari sudah mulai hampir senja, mereka menghentikan kegiatan mereka. Mereka duduk berdampingan menatap matahari yang mulai meredupkan sinarnya.
Tak lama mereka memutuskan untuk pulang. Keysa menuju tempat mobilnya diparkir.
“Key, besok boleh aku menjemputmu di klinik?” Tanya Anton pada Keysa saat membukakan pintu mobil Keysa.
“Aku rasa, kita tahu posisi kita masing-masing Ton.” Jawab Keysa sambil tersenyum.
Dan Anton melepas Keysa hari itu.
Keysa jalankan mobilnya menuju rumah, dihidupkan kedua ponselnya selama perjalanan setelah seharian ia non-aktifkan. Ada 10 pesan masuk dari Roni yang berusaha mencarinya. Keysa sangat merasa bersalah pada Roni. Ingin sekali ia segera menghubungi Roni, namun ia tunda karna akan lebih baik jika semua ia jelaskan setelah ia tiba di rumah. Ia segera memacu lebih cepat laju mobilnya agar segera sampai di rumah.
Tanpa diduga Roni ada di sana, duduk di teras rumahnya. Keysa terkejut melihat kehadiran Roni, namun entah kenapa ia merasa begitu merindukan Roni.
“Key,kamu baik-baik saja?” Tanya Roni saat melihat Keysa datang.
Keysa tidak segera menjawab, ia segera menghampiri Roni.
“AKu baik-baik kok. Kamu sudah dari tadi Ron?” Tanya Keysa yang kemudian duduk bersandar pada bahu Roni. Digenggamnya erat tangan Roni.
“Tanganmu dingin Key.” Ucap Roni.
Dan Keysa hanya tersenyum. Akhirnya mereka duduk berdua. Roni tidak ingin mendesak Keysa lebih dari itu, karna ia tahu Keysa tidak bisa didesak meskipun ia ingin sekali melakukannya.
Dan itu yang Keysa suka dari Roni, kesabarannya. “Ron, maaf. Tidak saat ini aku menceritakannya.” Batin Keysa.
Cukup lama mereka diam hingga akhirnya Roni memutuskan untuk pulang dan membiarkan Keysa bersih-bersih dan istirahat. Cukup baginya melihat Keysa baik-baik saja meskipun ia tahu ada yang Keysa sembunyikan darinya.
Malam itu Keysa kembali pada rutinitasnya lagi, mengisi diarynya.
“Aku ingin menjadi satu-satunya wanita yang ada di hatimu, menjaga malammu dari mimpi burukmu, menjadi tempat mu bersandar melepas lelahmu, menjadi istri terbaik bagimu, merawat anak-anakmu…. Dan ijinkan aku menjadi milikmu, menjadi halal bagimu, hanya itu inginku… tidak lebih. Aku ingin menjadi milikmu.”
Selesai ia menulis, ia tutup bukunya dan kemudian ia tidur, berharap semuanya akan lebih baik.
Sejak pertemuan mereka, akhirnya Keysa mulai bertemu dengan Anton kembali tanpa sepengetahuan Roni. Perhatian Keysa mulai teralihkan dari Roni. Semuanya seperti rutinitas biasa. Roni tahu ada yang Keysa sembunyikan, namun ia menunggu Keysa sendiri yang menceritakannya. Hingga suatu hari ia mulai curiga pada Keysa karna sudah hampir satu minggu lebih Keysa seperti mulai menjauh darinya. Roni tahu ada yang tidak beres. Semakin lama ia mencoba bersabar, selama itu pula keinginannnya untuk mencari tahu semakin kuat.
Hingga akhirnya ia putuskan untuk mencari tahu sendiri. Benar dugaannya, Ia melihat Keysa bersama Anton di toko tas sebuah Mall.
Ingin rasanya Roni menghampiri mereka saat itu juga, namun ia tahu tidak mungkin ia membuat kerusuhan di sana.
Keesokan harinya, Roni mencoba bersikap seperti biasa namun Keysa tidak juga menjelaskan apapun. Dan ketika beberapa hari kemudian Roni coba untuk mengikuti Keysa kembali, ternyata Keysa beberapa kali juga bertemu dengan Anton tanpa sepengetahuannya. Sejak saat itu, Roni mulai menghindari Keysa.
Awalnya Keysa tidak menyadari. Satu dua hari ia masih belum menyadari hingga hampir dua minggu ia merasa aneh karna Roni tidak pernah lagi datang menjemputnya dan ke rumahnya. Keysa tahu, ada yang tidak beres dalam hubungan mereka.
Ia putar kembali setiap rekaman yang hampir satu bulan ini terjadi antara mereka. Ia putar kembali semuanya, dan ia sadari, ia yang lebih dulu menjauh dari Roni sejak kehadiran Anton dalam hidupnya kembali. Keysa bertekad untuk menjelaskan semuanya pada Roni. Namun sayang, Roni memilih untuk mengikuti pelatihan manajemenen klinik bagi dokter klinik di Jakarta hingga satu minggu kedepan. Bahkan Keysa tidak mengetahui itu dan justru ia tahu dari teman-temannya yang lain. Awalnya Agus yang akan berangkat, namun ternyata Roni mengajukan diri untuk menggnatikan Agus.
“Ron, kamu sudah sampai?” Tanya Keysa melalui telefon saat tahu Roni telah berangkat ke Jakarta sejak subuh tadi.
“Kenapa tidak kasih tahu aku kalau kamu pergi?” Protes Keysa.
“Masih pentingkah Key kita saling tahu kegiatan kita masing-masing?” Ucap Roni. Jawaban itu mampu membuat Keysa terdiam. Ia tahu Roni telah mengetahui semuanya. Keysa tahu ada yang tidak beres akibat perbuatannya.
“Ron, kapan kamu balik? aku mau bicara.”
“Satu minggu lagi aku selesai. Aku usahakan segera pulang setelah itu. Aku tidak janji.” Ucap Roni datar. Dan kemudian berusaha mengakhiri percakapan mereka.
Keysa masih terdiam merasakan perubahan sikap Roni. Ia tahu semua salahnya, dan harus segera ia bereskan. Ia tidak bisa menunggu lama, apalagi satu minggu lagi ia harus menerima sikap Roni yang dingin kepadanya. Baru saja dua hari Roni pergi, Keysa sudah seperti orang kebakaran jenggot. Ditambah lagi Roni yang tidak memberikan kabar padanya. Dan akhirnya ia putuskan untuk menyusul Roni ke Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar