Jumat, 29 Maret 2013

-PUISI CINTA ANGEL- (PART 3)

Part 3



Tlah ku sebut namamu dalam tiap hela nafasku
Namun kau tak pernah berbalik tuk menyapaku
Tlah ku relakan seluruh waktuku tuk memikirkanmu
Namun tak juga kau hadir dalam nyataku
Tlah lama ku berdiri di sampingmu,
Menopangmu, membantumu bangkit dari keterpurukanmu,
Namun tak juga kau mengerti akan arti kehadiranku di sisimu,
Dengan putus asa,
Lalu kuteriakkan cintaku ketengah luas samudra
Namun yang kudengar bukan jawabmu
Hanya deburan ombak dan deru suara angin yang berLoemba
Mengantar kembali jeritanku yang tak pernah sampai padamu
From: Angel
To: RAP




“Hei, coba liat lagi di mading.”Teriak Doni pada Rangga dan teman-teman yang lainnya. Anak-anak yang penasaran melihat kehebohan Doni segera melihat ke arah mading tidak terkecuali Rangga. Hanya Sika dan Keyla yang tidak ikut. Mereka berdua seakan tahu, apa yang dihebohkan oleh Doni dan anak-anak yang lainnya.
            “Gimana menurul Loe?” Tanya Doni pada Rangga yang masih berdiri mematung di depan madding.
            “Hei, Ga…” dipanggilanya lagi Rangga yang tidak juga menyahut dan kemudian ditepuknya bahu Rangga. Rangga kaget dengan hal itu.
            “Loe Don bikin kaget gue aja.” Jawab Rangga.
            “Lagian Elo pake bengong gitu. Kenapa Loe?” Tanya Doni.
            “Btw Ga, Kok gue ngerasa itu puisi buat Elo ya Ga…” Celetuk Doni yang membuat Rangga terkejut dan hatinya langsung berdetak kencang.
Rangga tidak tahu harus berkomentar apa. Ia pernah melihat puisi itu di rumah Keyla. Puisi yang sama yang ditulis tangan oleh Keyla waktu itu. Puisi itu untuknya. Rangga masih tidak percaya bahwa selama ini “Angel” adalah Keyla.
            “Ga..Kok Loe jadi autis gitu sie. Loe Kenapa si Ga?” Tanya Doni yang tidak mengerti dengan sikap Rangga.
Rangga yang masih bingung segera pergi ke kelas, tanpa terasa kaki Rangga segera menuju ke arah bangku Keyla.
            Keyla yang sedang membaca buku terkejut dengan kedatang Rangga dan Doni yang masih berteriak-teriak memanggil nama Rangga.
            “Hei Ga… kamu bikin kaget aja. Kenapa Doni teriak-teriak itu?” Sapa Keyla pada Rangga.
Rangga yang masih tidak tahu harus bicara apa hanya bisa memandang Keyla dan kemudian menggenggam tangan Keyla dan mengajaknya ikut dengannya.
            “Ikut aku bentar yuk Key.” Ajak Rangga sambil menarik tangan Keyla.
Keyla dan yang lain yang melihat tingkah Rangga menjadi bingung, termasuk Laras pacar Rangga yang sejak tadi memperhatikan mereka.
            “Key, Ikut aku ya... Kita cabut bentar satu pelajaran ini, penting.” Pinta Rangga. Keyla yang bingung hanya bisa mengikuti ajakan Rangga. Keyla sudah hapal betul sikap Rangga yang tidak mau banyak bicara.
Sebelum mereka pergi, Rangga meminta Doni dan Sika untuk mengatakan pada guru bahwa mereka ada urusan OSIS sehingga harus ijin jam pelajaran. Laras yang memperhatikan sikap Rangga merasa sangat sedih. Rangga bahkan tidak melihat ke arahnya untuk berpamitan. Sedangkan Sika, entah kenapa hati Sika tidak tenang. Ia tahu, pasti ada yang tidak beres dengan Rangga dan Keyla. Ia takut Rangga sudah tahu siapa ‘Angel’ itu sebenarnya.
……………………………
           
“Ga, Ngapain kita di sini?” Tanya Keyla pada Rangga setelah mereka turun dari motor. Rangga mengajak Keyla ke danau tempat faforit mereka.
Rangga masih diam, dia tidak tahu harus bicara apa. Dia tidak tahu apa yang ia lakukan.
            “Ga?” Sapa Keyla lagi dan Rangga masih tetap diam. Keyla kemudian duduk di kursi pinggiran danau. Ia nikmati pemandangan danau siang itu. Dibiarkannya Rangga yang masih diam. Keyla tahu Rangga tidak bisa dipaksa.
            Sudah hamper 15 menit mereka di sana dan mereka hanya diam. Rangga duduk bersandar di motornya dan diperhatikannya Keyla sejak tadi. Keyla melihat ke arah danau sehingga tidak melihat bahwa Rangga memperhatikannya.
            ”Apa yang harus aku lakukan Key?” Tanya Rangga pada dirinya sendiri.
Lama ia berpikir, akhirnya ia memutuskan untuk mendekati Keyla. Ia berjalan ke arah Keyla. Ia duduk di sebelah Keyla, dipeluknya gadis itu erat dari belakang. Keyla yang sempat terkejut mendapatkan pelukan yang tiba-tiba dari Rangga sempat terkejut dan berusaha melepaskan diri. Namun Rangga justru semkin erat memeluknya. Lama mereka berpelukan, Keyla dapat merasakan detak jantung Rangga yang tidak beraturan, dan Rangga juga dapat merasakan kegugupan Keyla dan suara nafas Keyla.
Rangga mulai mengendurkan pelukannya.
            “Key.” Panggil Rangga dan Keyla hanya menatap mata Rangga.
            “Aku bingung, aku gak tahu apa yang ku rasakan selama ini ke kamu. Aku punya Laras dan aku tahu itu. Tapi aku ngerasa selalu terlalu protect ke kamu. Aku gak suka kalo kamu deket atau dideketin cowok lain. Tadinya kupikir aku bersikap itu karna aku gak mau kamu disakitin mereka. Tapi sekarang aku sadar aku sayang kamu Key.” Ucap Rangga. Keyla yang terkejut hanya bisa menatap Rangga. Tanpa terasa air matanya mengalir.
Keyla menangis. Semua yang ada dihatinya tumpah bersamaan air mata yang jatuh dipipinya tanpa harus ia ungkapkan isi hatinya. Air matanya sudah mewakili semua isi hatinya, kerinduannya selama ini pada Rangga.
“Key, aku tahu aku gak adil sama kamu selama ini. Aku tahu aku jahat sama kamu. Aku gak pernah perhatiin perasaan kamu. Aku sibuk dengan perasaanku sendiri tanpa aku lihat perasaanmu. Maafin aku Key.” Ucap Rangga lagi.
Tangis Keyla semakin tumpah. Rangga hanya bisa memeluknya. Keyla menangis dipelukan Rangga. Dipelukanya gadis itu erat. Sekarang ia tahu siapa yang ia sayangi, tapi ia juga tidak tega menyakiti Laras.
Lama mereka terdiam, suara isak tangis Keyla pun sudah mulai mereda. Keyla sudah mulai kembali tenang.
“Ga, aku yakin kamu sudah tahu siapa ‘Angel’ dan siapa RAP yang selama ini ada di madding. Dan aku juga gak akan menutupi itu dari kamu. Aku gak akan minta maaf karena aku menyimpan perasaan ke kamu. Toh selama ini aku gak pernah bikin kamu susah. Aku juga gak mau ada yang tersakiti dengan perasaanku, bukan kamu dan juga bukan Laras atau orang-orang lainnya. Aku gak mau ada yang sakit hati gara-gara perasaanku ini. Kamu tenang aja Ga, kamu gak perlu pusing dan ngerasa gak enak dengan perasaanku ke kamu. Aku bisa mengontrolnya. Puisi itu aku tulis hanya untuk menumpahkan semua yang ku rasa yang gak bisa ku sampaikan ke kamu langsung. Dan itu sudah membuatku lega. Makasih Ga karna kamu udah sayang sama aku. Aku sangat terlindungi selama ini. Tapi mungkin mulai saat ini aku ingin kita melupakan semuanya. Kita mulai lagi dengan Keyla dan Rangga yang dulu memulai persahabatan.” Pinta Keyla dengan tenang.
            Rangga yang tidak menyangka gadis disebelahnya ini akan bicara setegar itu merasa sangat bersalah. Ia tahu betul sikap Keyla, ia tahu sahabatnya ini selalu mementingkan perasaan orang lain dibandingkan dirinya, namun ia tidak menyangka kalimat itu yang akan diucapkan Keyla. Entah kenapa Rangga tidak terima dengan permintaan Keyla.
            “Key,” ucap Rangga sambil memalingkan wajah Keyla agar menatapnya.
            “Key, lihat mataku. Kamu yakin dengan yang kamu ucapkan? Kamu yakin akan melepaskan aku meskipun aku bilang aku sayang sama kamu?” Tanya Rangga lagi pada Keyla.
Keyla yang sudah bertekat dan menguatkan hatinya di depan Rangga hanya bisa mengangguk sambil menatap mata Rangga. Rangga yang berusaha menolak keputusan itu hanya bisa pasrah.
“Ga, sebelum ku lepasin kamu. Aku pengen bilang langsung ke kamu. Aku sayang kamu Ga. Aku sayang kamu lebih dari yang kamu tahu dari puisi-puisi yang kutulis. Tapi aku juga tahu, kamu bukan punya ku dan aku gak akan mengambil sesuatu yang bukan punya ku. Makasih udah sayang sama aku juga. Dan tetap ijinin aku untuk terus jadi sahabatmu. Karna ku rasa hanya dengan itu perasaan sayang kita akan kekal dan tidak akan saling menyakiti nantinya. Aku sayang kamu Ga.” Ucap Keyla tegar langsung di depang Rangga.
Rangga yang tidak kuat melihat wajah Keyla kemudian memeluknya. Ia tahu, keputusan yang sudah diambil Keyla tidak dapat diganggu lagi. Hari itu ia pun memutuskan untuk menyimpan rasa sayangnya pada Keyla. Ia yakin, jika memang mereka jodoh, ia dan Keyla akan dipertemukan dan disatukan kedalam perasaan sayang yang lebih murni dan suci tanpa harus menyakiti orang lain yang ada disekitar mereka.

Siang itu juga mereka kembali ke sekolah setelah bekas tangis di wajah Keyla mulai tidak terlihat. Beruntung mereka masih sempat mengikuti jam pelajaran Kimia sehingga mereka tidak mendapatkan hukuman. Mereka sepakat akan memulai semuanya dari awal dan menyimpan semuanya. Hanya mereka yang tahu kejadian hari itu. Kejadian yang akan jadi kenangan untuk mereka berdua.


------------------------



Terimakasih cinta
Untuk segala perasaan yang tlah kau berikan padaku
Mungkin bukan saat ini, mungkin besok, lusa ataukah nanti
Kita akan dipertemukan dalam cinta yang abadi
From: Angel
To: RAP



Ga, kenapa kamu senyum gitu? Coba perhatiin deh Ga, kenapa si Angel isi puisinya begitu ya? Gue jadi sedih ngebacanya.” cerocos Doni pada Rangga tak berhenti. Dan yang diajak bicara masih juga mematung di depan madding. Diperhatikannya tulisan dimading itu. Ia tahu, perasaan sayangnya pada Keyla tidak akan berubah begitu juga dengan perasaan Keyla padanya. Puisi itu menjadi puisi terakhir dari ‘Angel’ yang tertempel di mading sekolah. Sejak saat itu puisi cinta ‘Angel’ tidak pernah lagi terpampang di sana. Karena rasa sayang mereka sudah menemukan muaranya, dihati mereka “Rangga dan Keyla”.  

…..The End…..

-PUISI CINTA ANGEL- (PART 2)

Part 2



Untaian kata ini ku tahu pasti takkan dapat kau pahami
Perasaan hati ini, ku yakini takkan pernah kau mengerti
Dan jeritan hati ini, takkan mungkin kan kau cari
Tapi tak bisakah kau diam dan merasakan
Ketulusan dan keikhlasan cinta??
Karna ia bicara dengan sejuta makna, meski tanpa kata-kata
From: Angel
To: RAP



“Woi, sini cepet liat.” Teriak Doni pada temen-temen satu kelasnya.
            “Angel bikin puisi lagi tu, tadi gue dah baca. Gila keren banget tu cewek, puisinya semua dari hati. Pinter banget tu cewek bikin puisi, tiap hari Senin pasti puisinya dah nongol di MADING sekolah. Siapa sie sebenernya si Angel itu? Trus siapa juga si RAP itu ya?” komentar Doni panjang lebar yang gak sadar temen-temen sekelasnya dah pada ngacir sendiri-sendiri ke MADING untuk baca puisi  “Angel”.
Pagi itu belum begitu banyak murid yang datang, tapi hampir semua anak menuju MADING sekolah untuk melihat puisi “Angel” yang kayaknya udah jadi langganan mingguan yang ditunggu anak-anak.
Kadang sangking penasarannya, mereka rela keliling sekolah cuma buat nyari yang namanya Angel, setelah itu dengan begonya, “Doni CS akan meminta ”Angel-angel” itu untuk bikin puisi di depan mereka, tapi tetep aja hasilnya nihil.
Keyla duduk di atas mejanya tepat di pinggir jendela sehingga ia dapat melihat dari dalam kelas orang-orang yang baru masuk dari pintu gerbang sekolah. Sudah beberapa minggu sejak Sika bertanya padanya tentang “Angel”, Keyla merasa rahasianya masih cukup aman. Melihat tingkah teman-temannya itu Keyla cuma bisa senyum-senyum sendiri.
“Hei, pagi-pagi udah ngelamun.” Teriak Rangga mengagetkan Keyla yang masih asik melihat pemandangan di luar jendela.
“Oh, Hei.” Jawab Keyla tampak terkejut. “Kamu bikin kaget aja”.
“Kamu yang ngelamun pagi-pagi. Ada masalah apa? Gak ikutan ngeliat puisi di mading?” Tanya Rangga.
“Gak deh, kurang kerjaan. Nanti aja sekalian ke kantin. Kamu sendiri gak mau baca?” Tanya Keyla menyelidik, sebagian dalam dirinya takut jika Rangga akan tahu dialah yang telah menulis puisi itu, tapi sebagian lain dari hatainya ingin jika Rangga membaca puisi yang memang ditujukan kepadanya.
“Nanti juga. Kenapa aku ngerasa puisi itu untuk aku ya.” Komentar Rangga tiba-tiba yang mampu membuat Keyla langsung menoleh kea rah Rangga.
“Apa? Huuuh, GR kamu. Masih belum ilang juga narsiz kamu.” Ucap Keyla sambil meninju lengan Rangga untuk menutupi rasa terkejutnya. Keyla yang terkejut jadi tampak gugup dan gak tahu harus bicara apa. Kata-kata itu keluar begitu saja.
“Aaaaw……. Sakit tahu.” Teriak Rangga spontan mendapatkan tinjuan kecil dari Keyla. “He…he..he… GR dikit boleh kan, coba pikir siapa lagi yang punya inisial RAP di sekolah kita?” bela Rangga.
“Yaaaa, kali aja bukan inisial nama. Entahlah..” jawab Keyla menyembunyikan kepanikannya. Jantungnya sudah berdetak gak karuan sejak Rangga datang, ditambah lagi kalimat yang Rangga katakan barusan membuat Keyla semakin gugup.
“Menurut kamu gimana puisi itu? Kamu udah baca yang puisi minggu lalu kan?” Tanya Rangga mengagetkan Keyla.
“Eh, maksud kamu, gimana apanya?” Tanya Keyla tampak gugup.
“Ya isinyalah.  Kamu kan suka bikin puisi, apa tanggapan kamu tentang penulis itu?”
“Gak tahu deh, kamu sendiri gimana tanggapan kamu? Kalo seandainya itu untuk kamu beneran apa yang bakal kamu lakuin ke penulis itu?” Tanya Keyla.
“Tanggapan ku sama kayak temen yang lain. Aku suka puisi itu. Kalo seandainya puisi itu memang untuk aku, aku akan sangat berterimakasih sama orang itu. Aku ngerasa penulisnya punya cinta yang bener-bener tulus, gak gampang jadi pengagum rahasia itu. tapi mungkin akan lebih baik kalau dia bilang jujur aja sama orang yang dia sayang.”
Komentar Rangga membuat Keyla diam seribu bahasa. “Andai kamu tahu itu aku yang nulis, apa kamu juga bakal bilang seperti itu Ga?” Tanya Keyla dalam hati, dipandangnya wajah yang selama ini telah mengganggu malam-malamya.
“Hei, kok ngelamun lagi. Kenapa kamu ngeliatin aku kayak gitu?” Tanya Rangga mengagetkan Keyla.
“Gak....gak ada apa-apa. Kamu aja yang GR. Udah deh jangan ngomongin ini lagi, sana balik ke bangku kamu.” Paksa Keyla pada Rangga, di dorongnya Rangga untuk menjauh darinya. Keyla benar-benar tidak ingin Rangga tahu dialah yang menulis puisi itu. biarkan ia sendiri yang menyimpan cinta untuk sahabatnya itu.
“Iya…iya aku ke bangkuku. Galak banget si.” Omel Rangga.
Tak lama bel tanda panggilan masuk berbunyi. Seperti biasa, Sika teman sebangkunya pasti terlambat lagi. Udah jadi langganan kalo Sika selalu terlambat. Tak lama, sahabat yang ditunggunya itu berlari masuk kelas.
“Huh, akhirnya sampe juga.” Celetuk Sika begitu tiba dibangkunya.
“Loe ini seneng banget terlambat. Untung upacara belum mulai. Bisa disuruh nungggu di luar Loe kalau terlambat.” Omel Keyla.
“Ya…ya… udah deh jangan berisik, capek ni gue. Biar gue ngatur nafas dulu. Minta tisue dong.” Cerosocos Sika masih tampak kelelahan.
“Gak ada, habis, kemarin kan Loe yang ngabisin. Lain kali Loe bawa tisue sendiri.”
“Pelit banget sie Loe. Besok gue bawa satu kotak gede, Loe gak boleh minta.” Omel Sika lagi sambil menjulurkan lidahnya.
“Bagus deh, jadi tisue gue aman. Weeek…….” Balas Keyla kepada sahabatnya disertai bunyi bel peringatan upacara akan segera dimulai berbunyi.
Semua anak segera menuju ke lapangan upacara. Hari itu matahari sangat tidak bersahabat karena sengatannya sangat membakar kulit. Untung hari itu yang piket sebagai pembina upacara adalah Pak Mansyur yang terkenal paling tidak suka bicara, sehingga upacara cepat selesai.
Selesainya upacara, anak-anak yang sudah bersiap berlari tertahan kembali oleh suara Ibu Mirna yang akan memberikan pengumuman. Teriknya matahari pagi itu semakin panas lagi ketika mereka mendangar pengumuman bahwa dua minggu lagi akan ada ujian semester. Anak-anak langsung bersorak dengan keluhan masing-masing tak terkecuali Keyla dan Sika yang hanya dibalas ucapan “Selamat Belajar” oleh Bu Mirna.
Setelah pengumuman selesai, anak-anak berhamburan ke kelas masing-masing. Ada juga anak-anak yang pergi ke kantin untuk mengisi perut dan segera kembali ke dalam kelas sebelum pelajaran dimulai. Keyla dan Sika pun segera duduk dibangku mereka. Mereka sibuk mendiskusikan tentang ujian semester dan mengatur jadwal belajar bersama. Tanpa mereka sadari Doni, Rangga, dan Lia sudah ada di sebelah mereka.
“Kapan kita belajar bareng?” Tanya Doni yang diikuti oleh anggukan dari Rangga dan Lia.
Keyla dan Sika yang tidak menyadari kedatangan mereka kontan terkejut.
“Hei, kalian ngagetin  aja.” Timpal Sika. “Ni ku ma Keyla lagi nyusun jadwal. Kalian liat aja dulu, kalo ada yang gak sesuai boleh kita ganti. Kita juga ada jadwal tempat untuk belajar biar gak bosen. Gimana?” Tanya Sika lagi pada teman-temannya.
Rangga, Doni, Lia, dan Keyla hanya mengangguk-angguk tanda setuju. Tak perlu waktu lama untuk mereka sepakat dengan jadwal belajar bersama seminggu 3 kali setelah selesai sholat Ashar di gilir setiap rumah dan akan di mulai hari ini.
……………………….
           
Hari ujian semester semain dekat. Tak terasa sudah hampir dua minggu mereka belajar bersama. Ini hari terakhir mereka belajar bersama sebelum hari Seninnya mereka ujian semester. Hari ini giliran rumah Keyla yang digunakan untuk belajar. Sudah setengah jalan mereka belajar, dan terlihat mereka mulai jenuh. Rangga dan Doni sudah mulai tidak fokus. Lia dan Sika justru sudah menggosip tentang artis Korea Lee Min Hoo. Sedangkan Keyla sendiri sudah mulai ngantuk.
            “Istirahat dulu 15 menit gimana?” Usul Rangga tiba-tiba.
Anak-anak lainnya yang merasa setuju segera saling pandang dan mengangguk. Akhirnya mereka sepakat untuk istirahat. Sika segera pergi ke kamar Keyla untuk meminjam novel Keyla dan kemudian mulai membacanya, yang lain sibuk dengan kegiatan masing-masing.
Lima menit berlalu, mereka sepakat lagi untuk memulai belajar kembali karna waktu sudah semakin sore kecuali Sika. Sika yang kesal karena diminta untuk berhenti membaca segera dengan kesal melempar novel Keyla ke kursi, dan tanpa diketahui oleh yang lainnya, Rangga melihat sebuah kertas jatuh dari buku tersebut dan diambilnya. Tadinya ia ingin memberitahu Sika, namun ia mengurungkan niat setelah dibacanya sekilas terdapat puisi yang begitu bagus tertulis dikertas itu dengan nama Keyla dibawahnya dan ada nama Rangga Aditia Putra di sana disebut. Rangga terkejut melihat puisi itu. Entah kenapa perasaannya jadi kacau. Ia begitu tersentuh dengan puisi itu. Dilihatnya Keyla, diperhatikannya wajah sahabatnya itu. Sahabat yang selama ini ia sayangi dan yang selalu ingin ia lindungi meskipun ia sendiri sudah memiliki pacar.
“Hei, Rangga. Kok malah ngelamun. Pake acara ngeliatin Keyla gitu lagi.” Tanya Doni mengagetkan Rangga. Rangga dan Keyla yang merasa namanya disebut saling memandang, tanpa mereka sadari ada perasaan ganjil dalam hati mereka. Rangga hanya tersenyum salah tingkah, begitu juga dengan Keyla. Sika yang melihat hal ini segera mengembalikan fokus teman-temannya untuk belajar kembali. Karena ia tahu, jika tidak segera dihentikan, fokus Keyla akan berantakan lagi setelah dua minggu ini perasaan Keyla pada Rangga mulai dapat teralihkan. Sika tidak ingin sahabatnya tersakiti.
Akhirnya hari itu mereka selesai belajar bersama. Rangga dan Doni pamit pulang sedangkan Keyla, Sika dan Lia masih sibuk bergosip di kamar Keyla. Rangga tadinya ingin mengambil puisi yang ia temukan tadi, namun ia tidak ingin sahabatnya malu padanya jika Keyla tau bahwa ia sudah tahu tentang puisi itu. Ia kembalikan puisinya ke dalam novel Keyla. Dan hari itu berakhir dengan perasaan campur aduk di dalam hati Rangga tanpa ada seorang pun yang tau termasuk Keyla.
…………………………

Kejadian tentang puisi yang ditemukan Rangga itupun mulai terlupakan, serta puisi “Angel” juga mulai teralihkan karena perhatian anak-anak terfokus pada soal-soal ujian dihadapan mereka. Selama satu minggu mereka menghadapi ujian. Bagi anak-anak ini adalah minggu yang begitu melelahkan. Wajah kusut, pucat dan lemas terlihat dari wajah-wajah mereka setiap pulang sekolah tak terkecuali bagi Keyla CS.
“Key, kita jalan-jalan yuk hari ini. Aku pusing banget.” Ajak Lia.
Sika yang ada di sana segera mengiyakan dan merayu Keyla untuk ikut. Dan akhirnya merekapun pergi berjalan-jalan ke danau yang tidak begitu jauh dari rumah mereka. Rangga, Doni dan Adit tidak ketinggalan.
………………………………………

-PUISI CINTA ANGEL- (PART 1)

part 1


Dalam hening kehidupan malam,
Ku terduduk dalam diam Menikmati sinar rembulan, yang terlihat terang benderang
Sepintas….. ku melihat, senyum tipis sang rembulan ^^
Dibalas kerdip sinar sang bintang
yang selalu setia dalam diam  Menemani sang pujaan, dalam sunyi kehidupan
Takkan pernah kulupakan,
Betapa indah pemandangan malam
Buatku terbuai dalam lamunan, merangkai mimpi tanpa kepastian
Mencari sebuah jawaban yang bergelantungan dalam angan
Andai… mampu ku dapatkan, sedikit sinar harapan,
Bagai cahaya rembulan yang takkan  pernah padam
Bersama bintang, hingga akhir zaman
Hanya kesabaran
Yang dapat mengantarkan semua angan dan harapan
Menjadi suatu kenyataan
Bagai kau rembulan dan bintang

Frpm: ANGEL
To: RAP




“Berapa lama lagi Loe sanggup bertahan?” Tanya Sika pada sahabat kesayangannya siang itu setelah bel terakhir berbunyi.
Keyla yang sibuk ngeberesin buku-bukunya ditambah lagi suara ribut anak satu kelas yang kegirangan karena mereka bebas dari “penjara” sekolah gak begitu memperhatikan ucapan Sika.
“Loe barusan ngomong apa? Gue gak denger.” Ucap Keyla kepada teman sebangkunya.
“Gue mau ngomong ma Loe sebelum pulang.” Balas Sika singkat.
Keyla tampak bingung, ni orang aneh banget. Tumben kayak gini, batin Keyla dalam hati.
“Ok. Apapun itu, pasti penting banget, habis tampang Loe serius banget, gue jadi ngeri ngeliatnya. Boleh deh, daripada gue ditelen mentah-mentah sama Loe. Ups…Jangan lupa bilang Roy dulu Loe mau pulang bareng Gue, ntar dia ngambek lagi.” Tambah Keyla pada sahabatnya itu.
“Udah, tadi gue dah bilang.”

Tak berap lama kelas mulai tampak kosong, anak-anak udah pada kabur sendiri-sendiri setelah stress mikirin soal-soal Kimia yang dikasih Pak Ruslan yang terkenal kiler banget.
            “Ok, Loe mau ngomong apa ma gue?” Tanya Keyla langsung setelah kelas mulai sepi. Mereka duduk di atas meja sambil menghadap ke lapangan basket yang masih ada penghuninya.
            “Sebelum gue ngomong, gue mau tanya dulu ke Loe. Loe yakin gak ada yang mau Loe ceritain ke gue?” tanya Sika balik.
Keyla yang gak ngerti apa yang dimaksud Sika semakin bingung dengan sikap sahabatnya ini.
            “Loe kenapa sie? Loe ada masalah ya sama Roy?” tanya Keyla bener-bener gak ngerti.
            “Loe yakin gak ada yang Loe sembunyiin dari gue? Gue mau Loe jujur, Gue selalu cerita semua masalah gue ke Loe. Tapi gue yakin Loe nyembunyiin sesuatu dari gue.” Ucap Sika.
            “Aaah, kok ribet gini sie. Gue gak ngerti maksud Loe. Mending Loe langsung bilang aja ke gue ada apa sebenernya. Loe tahu kan gue gak suka basa-basi.” Pinta Keyla.
            “Ok, Angel.” Ucap Sika tiba-tiba pada Keyla.
Kalimat itu ngebuat Keyla syok. Kontan saja Keyla segera melihat ke arah sahabatnya. “Apa cuma perasaan gue aja atau emang tadi Sika manggil gue Angel? Gila, darimana Sika tahu tentang nama itu?” Tanya Keyla dalam hati, khawatir dan cemas. Takut semuanya akan terbongkar dan tamatlah riwayatnya.
            “Loe, Loe tadi manggil gue apa?” tanya Keyla pura-pura bodoh meskipun tidak mampu menutupi ekspresi wajahnya yang cemas.
Sika yang melihat perubahan pada wajah sahabatnya itu jadi semakin yakin dengan dugaannya selama ini kalau “Angel” si pengirim puisi untuk RAP yang ditempel di mading itu adalah sahabatnya sendiri yang sekarang sedang duduk di sebelahnya.
            “Kenapa? Loe kaget gue bisa tahu? Gak usah kaget kayak gitu, gue kenal Loe dah hampir 10 tahun. Gue duduk sebangku sama Loe udah hampir dua tahun ini. Gue kenal Loe lebih dari yang Loe tahu. Gue kesel, kenapa Loe gak pernah cerita tentang ini  ke gue? Kenapa Loe gak percaya sama gue?” Omel Sika ke sahabatanya.
            Keyla yang mendapat kalimat panjang lebar dari Sika makin mati gaya gak tau mau jawab apa lagi kecuali minta maaf.
            “OK, gue minta maaf. Gue emang salah.” ucap Keyla pada sahabatnya. Keyla bener-bener gak nyangka kalo sahabatnya bakal tahu tentang semua ini. Rahasia yang selalu Keyla simpan rapat-rapat, rahasia yang selalu Keyla tutupin dari semua orang tentang semua perasaanya selama dua tahun ini pada Rangga sahabatnya. Cowok yang pernah nyakitin Keyla, Cowok yang udah jadian sama temen satu kelasnya, cowok yang juga mempercayakan semua rahasia hidupnya ke Keyla, cowok yang selalu cerita tentang selingkuhan-selingkuhannya. Tapi tetep aja Keyla masih sayang sama dia. Cuma Rangga yang bisa bikin dirinya nyaman dan ngerasa dilindungi meskipun sebagai sahabat.
            “Ok, buat gue itu sekarang gak penting.” Ucap Sika memecah kebisuan mereka. “Yang mau gue tahu, sampe’ kapan Loe bakal diem-diem mengagumi dia? Sampe’ kapan Loe bakal nyakitin diri Loe sendiri? Sampe’ kapan Loe bakal bertahan ada di deket dia, ngedengerin semua cerita dia tentang semua cewek yang lagi dia deketin? Sampe’ kapan Loe sanggup?”  Lanjut Sika kesal.
            “Gue gak tahu sampe’ kapan. Yang gue tahu, sampe’ kapanpun dan berapa kalipun Loe tanya itu ke gue, jawaban gue tetep sama, Gue gak tahu sampe’ kapan semua ini berakhir.” Jawab Keyla. Dia sendiripun gak tahu sampe’ kapan dia akan terus berbuat ini. Semua ulahnya udah ngebuat satu sekolah gempar dan menebak-nebak siapa “Angel”. Beruntung buat Keyla, karena disekolah dia dikenal sebagai cewek pinter, plus paling deket sama Rangga selain pacar Rangga pastinya, Keyla gak pernah dijadikan salah satu kandidat sebagai “Angel” dari temen-temennya.
            “Loe puas kayak gini?” tanya Sika lagi.
            “Menurut Loe?” tanya Keyla balik. “Pernah Loe liat ada cewek yang puas kalau orang yang selama ini disayanginya, yang selama ini deket dengannya bukan miliknya tapi jadii milik orang lain? Menurut Loe, gue puas dengan itu? Apa Loe liat ada tampang kepuasan diwajah gue? Tapi gue lega udah bisa ngungkapin semua isi hati gue, meskipun cuma lewat tulisan.” Jawab Keyla.
            “Key, Loe bukan cuma sahabat buat gue. Loe udah gue anggep kakak gue. Gue gak rela ngeliat Loe menderita kayak gini.” Ungkap Sika sedih melihat kondisi sahabatnya.
            “Trus gue mesti gimana? Ngelupain dia? Atau mungkin Loe punya ide yang lebih gila lagi dengan nyuruh gue bilang ke dia kalau gue “Angel” itu?” Jawab Keyla putus asa.
            “Key, kok Loe ngomongnya gitu sie. Gue cuma gak pengen Loe kenapa-kenapa.”
            “Sika, kalau Loe anggep gue kakak, please banget. Loe gak perlu terlibat dalam masalah ini. Gue nyaman dengan apa yang gue lakuin sekarang. Please banget Loe percaya ma gue. Kalaupun ada masalah, gue akan langsung bilang ke Loe, gue janji.” Pinta Keyla. Keyla tidak ingin sahabatnya ikut masuk ke dalam masalahnya. Bukannya ia tidak percaya, tapi menurutnya lebih baik hanya dia yang tahu semuanya tanpa melibatkan satu orangpun.
            “Ok. Kalau itu mau Loe. Gue percaya ma Loe. Tapi Loe bener-bener harus pegang janji Loe, kalau ada apa-apa Loe harus cerita ke gue.” Pinta Sika.
            “Ok. Gue janji. Ya udah yuk dah sore, laper nie, tadi istirahat kedua gak sempet makan gara-gara guru kiler itu. Kita balik sekarang.” Ajak Keyla.
Sore itu entah apa yang dirasakkan kedua sahabat itu masing-masing di dalam hatinya, tapi keduanya berharap semoga semuanya baik.

                                                ……………………………………………

Rabu, 27 Maret 2013

NOT SCARY MOVIE


NOT SCARY MOVIE

Tertarik dengan penejelasan seorang teman pada presentasi Ujian Bahasa Inggris kami hari ini (26 Maret 2013). Kira-kira arti yang bisa saya tangkap begini “Kehidupan perawat layaknya sebuah filem”.  Dijabarkan dalam slidenya bagaimana dia bisa menyebutkannya. Menyedihkan menurut saya melihat apa yang di sampaikannya terkait fenomena yang ada.
Ada beberapa judul film yang mengangkat tema perawat  dengan berbagai judul “SUSTER ……” atau “SUSTER ……” dan masih banyak lagi yang bisa temen-temen liat di youtube atau di mana saja. Jika kita mau memeriksa satu persatu dengan detail, hampir kesemua judul tersebut menampilkan perawat dalam wajah horror “scary movie”. Dimana tokoh utamanya seorang perawat yang menjadi hantu wanita bergentayangan.
Banyak sekali pertanyaan di benak saya yang akhirnya berkembang dan dikembangkan akibat sebuah sentilan dari presentasi seorang teman. “Tidak kah mereka pernah dirawat? Pernah masuk rumah sakit mungkin? jika bukan mereka keluarganya mungkin? Apakah itu dibuat berdasarkan pengalaman mereka selama menerima perawatan dari seorang suster di rumah sakit?”
Tidak dapat dilihatkah bagaimana seorang perawat mampu berjaga semalaman hanya untuk memastikan pasiennya dalam kondisi aman. Bagi orang lain yang dengan nyenyaknya dapat tidur di kasur empuk di rumah mereka dengan selimut tebal yang melapisi tubuh, perawat sibuk mengecek tetesan infuse hanya agar pasien tidak kekurangan cairan.
Sangat disayangkan sekali jika stigma masyarakat kepada perawat masih sangat buruk. Sebagai seorang perawat meskipun saya tidak bekerja di rumah sakit, tetapi saya juga lulusan keperawatan dan saya seorang perawat pendidik yang berusaha mendidik perawat-perawat baru yang nantinya akan bekerja merawat masyarakat dengan sepenuh hatinya. Sama dengan profesi lainnya. untuk menjadi seorang Nurse profesional kami harus menempuh 5 tahun perkuliahan. Empat tahun kami habiskan dengan perkuliahan di kampus dan klinik (rumah sakit) untuk berpraktik agar kami bisa lulus Sarjana Keperawatan (S. Kep) dan 1 tahun berikutnya kami habiskan wakrtu pendidikan dengan berpraktik di rumah sakit.
Dalam kurikulum kami, yang kami utamakan adalah bagaimana kami mampu memenuhi kebutuhan dasar manusia dengan kompetensi-kompetensi yang harus kami miliki. Kami membantu pasien untuk memenuhi kebuthan dasarnya. Kebutuhan dasar manusia menurut Herarki Maslow dari buku Fundamental of Nursing antaralain kebutuhan fisiologis dasar (oksigenasi, cairan, nutrisi, temperature, eliminasi, tempat tinggal, istirahat, seksualitas), kebutuhan rasa ama dan keselamatan (fisik dan psikologis), kebutuhan mencintai dan dicintai, kebutuhan harga diri, dan kebutuhan aktualisasi diri pasien (Potter Perry, 2005).  Ya…semua yang kami lakukan yang kadang disebut sebagai pekerjaan “pembantu” adalah untuk memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat. Kami melayani dengan hati, dengan kompetensi dan pengetahuan yang kami miliki.
Bahkan untuk lulus menjadi perawat yang punya caring dan performa yang bagus saat kami akan lulus sarjana, kampus kami membekali kami dengan “Pelatihan Dasar Pengembangan Diri untuk Perawat”. Yang isi di dalamnya kami diajarkan mengenai; Pengembangan diri, kepercayaan diri, performa prima, komunikasi efektif, public speaking, etiket bisnis, pelayanan prima dan total performa.
Dalam kurikulum pembelajaran kami, Kami juga diajarkan bagaimana harus  berkomunikasi dengan baik dengan pembelajaran “Komunikasi Terapeutik”.  Sekedar informasi, komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang mendorong proses penyembuhan klien (Depkes RI, 1997). Dalam pengertian lain mengatakan bahwa komunikasi terapeutik adalah proses yang digunakan oleh perawat memakai pendekatan yang direncanakan secara sadar, bertujuan dan kegiatannya dipusatkan pada klien. Komunikasi terapeutik termasuk komunikasi interpersonal dengan titik tolak saling memberikan pengertian antara perawat dengan klien.
Dapat dibayangkan bagaimana kami diajarkan untuk menjadi perawat yang memiliki carring, attitude yang baik, senyum, sopan, santun, berwibawa, tetap tampil cantik dan prima meskipun badan letih tak berdaya. Semua itu kami dapatkan selama pendidikan kami. Begitu lengkapnya semua pembelajaran kami hanya untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi pasien dan mempercepat kesembuhan pasien, bukan untuk memperparah kondisi pasien. Kami akan datang pada pasien dengan senyum termanis kami ^-^ bukan dengan wajah seram seperti hantu @-@.

Thank to: Antoni EFM (aku copas ide presentasinya mas Antoni), Dr. Retty, Ika Subekti (untuk sarannya) dan teman-teman Emergensi Nursing UB.

Selasa, 26 Maret 2013

Inilah Aku Sejak Dulu


Inilah aku sejak dulu…
Dah hanya ini yang tak pernah berubah dari ku
Maaf ma jika ku tak pintar bercerita tentang hari-hariku
Maaf pa jika ku tak pandai merangkai kata tentang apa yang terjadi padaku disetiap waktu yang kuhabiskan dengan merindukan kalian berada di sisiku
Aku merindukan kalian….
Tapi selalu tak mampu ku ungkapkan…
Yang perlu kalian tau bukan ku tak ingin bercerita,,,
Aku senang mendengar suara kalian, cukup untuk mengurangi rinduku…
Aku lebih senang mendengar cerita kalian dibanding membahas tentangku
Karena sejak dulu ku selalu tak tau apa yang akan ku sampaikan pada kalian
Cukup kalian tau aku baik, aku sehat, aku bisa makan, aku cukup dan aku bahagia
Selalu itu yang bisa ku katakan pada kalian
Kalian tentu sangat paham dengan watak dan karakter anakmu yang satu ini
Bukan ku tak ingin berbagi
Tapi ku tak bisa menyampaikannya….
Sudah cukup satu kali saja aku membuat kalian khawatir…
Cukup itu dan tak kan pernah ku ulangi lagi…
Maaf maa telah membuatmu khawatir…
Aku merindukan kalian memelukku…
Aku merindukan kalian mencium keningku…
Aku merindukan kalian….

DIA BUKAN ALASAN UNTUKKU MENANGIS DAN TERTAWA


DIA BUKAN ALASAN UNTUKKU MENANGIS DAN TERTAWA

“Ia datang. Pada akhirnya Ia benar-benar kembali,”  keluhnya. Ditariknya nafas dalam-dalam, dihembuskannya perlahan berusaha menenangkan diri. Berkali-kali hal itu ia lakukan, tetapi hatinya masih tetap sakit. Wajahnya terlihat lesu, pucat, tatapannya kosong. Tak satupun bintang yang menarik baginya malam itu, karena ada hal yang lebih menyita perhatiannya. Pertemuannya dengan masa lalunya.
Siang itu, semua yang berusaha ia lupakan 2 tahun terakhir semuanya terurai kembali dihadapannya, semuanya terlihat nyata.
“Tak bisakah kau ijinkan aku hidup tenang?” tanyanya dalam hati, lebih pada dirinya sendiri.
Malam itu ia kembali pada rutinitasnya beberapa tahun lalu, duduk  menyendiri, menatap langit yang tak berujung, hitam kelam.
--------------------------------
Pagi-pagi sekali Keysa bangun, dilihatnya jam bekernya telah menunjukkan pukul 5 pagi. Setelah sholat subuh, seperti biasa, ia segera mandi dan bersiap pergi kerja.
“Semangat Key, kamu harus bangkit.” Ucap Keysa pada bayangannya dicermin. “Dia sudah tidak berarti lagi bagi hidupmu kan? Kamu bisa melalui ini, 2 tahun ini kamu berhasil, jadi jangan sia-siakan kerja kerasmu Key.” Ucapnya lagi mantap masih memandang bayangan dirinya dalam cermin. Ditatapnya bayangannya dicermin, diperhatikaannya lekat-lekat wajahnya. Ia masih tak mengerti mengapa dulu laki-laki itu tega meninggalkannya. Meninggalkannya begitu saja dengan alasan keluarga hingga detik ini. Dan sekarang ia kembali, membuat dadanya terasa sesak. Ia tak mau meminta penjelasan apapun, tidak pada orang yang bahkan tidak pernah mencarinya selama 2 tahun ini untuk meminta maaf.
Setelah sadar dari lamunannya, tatapan Keysa kemudian beralih ke jam di tangannya “sudah waktunya berangkat” ucapnya, ditatapnya kembali penampilannya hari itu di dalam cermin “sempuran” batinnya dalam hati. Kemudian ia berangkat setelah berpamitan pada kedua orang tuanya.
-------------------------------------------
Keysa tiba ditempat praktiknya, dilihatnya sudah ada beberapa orang yang duduk di ruang tunggu pasien. Keysa segera mempercepat langkahnya memasuki klinik.
“Pagi dok.” Sapa security ramah sambil membukakan pintu ketika dilihatnya Keysa hendak masuk.
“Pagi Pak Ahmad.” Jawab Keysa sambil memberikan senyum termanisnya pagi itu pada security itu yang di bajunya tertulis nama Ahmad.
Baru beberapa langkah Keysa berjalan, Pak Ahmad kembali memanggilnya.
“Dokter Keysa sebentar.”
Keysa yang sempat terkejut kontan saja langsung berbalik melihat kembali ke arah Pak Ahmad berdiri.
“Iya Pak.” Jawab Keysa tanpa melupakan untuk tersenyum, karena itu modal utamanya, keramahan.
“Ada yang menunggu dokter sejak tadi pagi, tapi sekarang sudah pulang, baru saja sebelum dokter datang.” Keysa yang merasa itu hal wajar sedikit mengangkat alisnya tak mengerti. Toh selama ini ia memang selalu ditunggu pasien-pasiennya.
“Sepertinya saya baru melihatnya dok. Seorang laki-laki, dari pakaiannya sepertinya dia bukan orang sembarangan karena penampilannya rapi sekali. Dan sepertinya juga dia kemari bukan untuk berobat.” Ucap Pak Ahmad kemudian seakan mengarti kebingungan Keysa.
Keysa berpikir sejenak siapa yang mencarinya. Karena tidak memiliki ide, Keysa segera mengabaikan orang itu.
“Terimakasih Pak. Kalau dia perlu penting dengan saya, pasti dia akan datang lagi.” Ucap Keysa yang kemudian pamit untuk masuk keruangannya.
Hari itu pasien Keysa cukup banyak. Ia bersyukur, kesibukannya selama ini sebagai dokter telah membantunya melupakan masalahnya selama 2 tahun ini.
Setelah selesai dengan semua pasiennya, Keysa memutuskan untuk pulang.
“Mbak Laras.” Panggil Keysa pada perawat yang selalu setia mendampinginya ini ketika dilihatnya Laras sedang sibuk dengan daftar-daftar pasien.
“Iya dok.” jawab Laras yang segera beralih ke arah Keysa.
“Sudah selesai kan Mbak? Aku boleh pulang duluan?” Tanya Keysa pada Laras.
Laras hanya tersenyum dan mengangguk.
“Heeem…habis ini  dokter Roni yang jaga?” tanya Keysa kembali sebelum ia benar-benar pergi.
“Iya dok. Nanti dokter Roni sampai jam 9  malam. Sebentar lagi juga datang. Nggak mau nunggu dok?” Tanya Laras kemudian sambil tersenyum. Keysa yang mengerti bahwa Laras sedang menggodanya hanya tersenyum dan menggelengkan kepalnya, kemudian ia berpamitan pada perawat itu.
Klinik tempat Laras bekerja adalah klinik 24 jam yang dibangunnya bersama empat teman kuliahnya. Sehingga mereka mengatur jadwal piket setiap harinya selain piket mereka di rumah sakit. Diantara ke empat temannya tersebut, belakangan Keysa merasakan ada yang aneh dari perhatian Roni kepadanya. Keysa senang, namun masih ada masalah yang menurutnya harus lebih dulu ia selesaikan sebelum ia benar-benar mempertimbangkan Roni untuk masuk ke dalam kehidupannya.
Keysa segera menuju tempat parkir. Hari itu ia lelah sekali. Ia hanya ingin segera tiba dirumah dan istirahat.
Baru saja sampai di pintu, dilihatnya laki-laki yang tidak asing baginya yang baru saja dilihatnya lagi dari jauh siang kemarin. Jantungnya seakan berhenti berdetak, kedua kakinya seakan lemas tak berdaya. “Ia datang.” Ucapnya dalam hati. Tatapannya kosong kearah laki-laki itu.
“Dok.” Ucap Pak Ahmad yang kemudian menyadarkan Keysa  yang entah sudah berapa lama berdiri di depan meja security.
Keysa tampak gugup, dilihatnya sekilas Pak Ahmad, kemudian pandangannya kembali beralih ke sosok laki-laki yang sekarang sedang berdiri di luar yang masih belum sadar bahwa Keysa ada di dekat pintu.
“Dok. Laki-laki yang saya katakana tadi pagi, sejak kemarin saya sudah melihatnya dok. Sekarang dia menunggu dokter di luar.” Ucap Pak Ahmad yang kembali menyadarkan Keysa sambil menunjuk kearah laki-laki yang dikenalnya itu.
Keysa yang tiba-tiba diserang ketakutan jadi teramat gugup. Kemudian ia memutuskan untuk segera pergi dari tempat itu sebelum laki-laki itu melihatnya. Diberikannya senyum sekilas kearah Pak Ahmad sebagai ucapan terimakasih yang kemudian membukakan pintu untuk Keysa.
Keysa berjalan cepat ke arah mobilnya diparkir. Ia hanya berharap laki-laki itu tidak melihatnya. Namun terlambat. Tatapan mereka bertemu saat Keysa sekilas melihat kearah laki-laki itu.
“Key.” Ucap laki-laki itu berusaha menghampiri Keysa.
Keysa segera mempercepat langkahnya. Tidak dipeduliakannya panggilan laki-laki itu dan suara langkah kaki yang berusaha mengejar. Diambilnya kunci mobil, dan kemudian dibukanya. Ia hanya ingin segera masuk ke dalam mobil dan pergi. Tepat saat Keysa hendak membuka pintu mobil, tangan laki-laki itu menahannya.
“Keysa, tunggu.” Ucap laki-laki itu pelan.
Keysa hanya terdiam. Menahan detak jantungnya yang mungkin sekarang sudah tidak ia rasakan lagi ketika tangan laki-laki itu menyentuh bahunya. Sentuhan yang selama ini ia kenal dan selalu ia rindukan.
“Key.” Ucap laki-laki itu lirih menunggu reaksi Keysa yang masih tetap diam tak mempedulikannya.
Keysa kemudian mencoba membuka pintu mobilnya tanpa mempedulikan laki-laki itu, namun tangan kiri laki-laki itu menanahannya.
“Key. Please. Bisa kita bicara sebentar?” Pinta laki-laki itu lebih terlihat seperti memohon.
Keysa masih diam, berusaha mengatur nafasnya. Mengatur hatinya, dan yang paling penting mengatur air matanya agar tidak jatuh di depan laki-laki itu.
“Key. Please.” Ucap laki-laki itu lagi.
Keysa yang sudah membulatkan tekad untuk kuat, akhirnya memutuskan untuk menghadapi laki-laki itu.
“Hi, Ton.” Ucap Keysa tiba-tiba.
Laki-laki yang dipanggilnya Anton itu terkejut melihat perubahan Keysa yang tiba-tiba. Hampir saja ia tersentak mundur.
“Key.” Ucap Anton lagi.
Keysa hanya tersenyum memandang lekat wajah laki-laki di depannya.
“Udah lama gak ketemu. Ada perlu apa cari aku?” tanya Keysa ringan dengan senyum diwajahnya, berusaha bersikap biasa. Ditahannya air matanya yang sudah bersiap menyeruak keluar.
Anton yang tidak menyangka akan mendapatkan perlakuan seperti itu dari Keysa hanya bisa diam, dilepasnya genggamannya dari lengan Keysa dan dari pintu mobil. Selama ini ia membayangkan jika Keysa akan berteriak histeris dan memakinya kemudian menangis, namun  ia salah. Keysa yang dilihatnya saat ini tampak anggun dan tenang. Dia jadi gugup sendiri melihat Keysa yang begitu sempurna dimatanya. Keysa yang ini dilihatnya adalah Keysa yang hingga kini membuatnya jatuh cinta. Ia sadar, jika Keysa bersikap seperti ini, itu pertanda buruk untuknya.
“Kok jadi kamu yang diam? Kenapa Ton, bingung?” tanya Keysa kemudian sambil tersenyum, sinis pada Anton. Ditatapnya laki-laki itu tepat dimanik-manik matanya. Laki-laki itu gugup, pikir Keysa. Ia merasa menang.
“Ok, Ton. Kalau sudah tidak ada yang mau dibicarakan lagi. Aku masih ada perlu, bisa kamu minggir sedikit? Aku mau masuk mobil.” Ucap Keysa tegas ketika dilihatnya Anton masih tetap diam tak bereaksi, Keysa segera membuka mobilnya.
Jangan kamu pikir kamu akan lihat Keysa yang akan memohon-mohon penjelasan padamu Ton, kamu gak akan pernah lihat itu. Cukup sudah 2 tahun waktu yang ku berikan, ucap Keysa dalam hatinya setelah ia berhasil duduk di dalam mobilnya. Tak butuh waktu lama untuk Keysa segera meninggalkan Anton yang masih mematung menyaksikan kepergian Keysa.
                                                ---------------
“Kenapa kamu datang lagi?” teriak Keysa disela isak tangisnya. Tangis Keysa tumpah sesaat setelah ia meninggalkan Anton di tempat parkir. Ia tidak ingin Anton melihatnya rapuh, Keysa tidak ingin Anton melihat air matanya.
Dikemudikannya mobilnya ke arah pantai, hari itu ia ingin sendiri. Ia tidak ingin Ibunya tahu masalahnya. Ia tidak ingin Ibunya tahu bahwa Anton kembali hadir dalam kehidupannya. Sudah cukup Anton membuat dirinya dan keluarga besarnya malu. Ia tidak ingin Ibu dan Ayahnya kembali terkenang lagi masalah itu.
Ditepikannya mobilnya di  tepi pantai. Ia kelur mobil, ditinggalkan sepatunya di dalam mobil dan ia berjalan disepanjang tepi pantai itu tanpa alas kaki.
Hatinya tenang ketika air laut membasuh kakinya, mengalirkan sensasi dingin yang mampu menyejukkan jiwanya, membantunya menghapus sedikit demi sedikit sakit dihatinya.
Setelah lelah berjalan ia duduk sendiri menghadap kearah pantai. Sunset itu begitu indah, pikirnya. Dulu ia sering sekali ke pantai ini bersama Anton saat Anton mengunjunginya, duduk berdua sekedar menikmati indahnya sunset di pantai itu terasa menyenangkan. Semua kenangan itu terus bergulir satu persatau. Memberikan sensasi ganjil di hatinya. Dadanya sesak, untuk kesekian kali air matanya jatuh.  
Hanya ini yang tersisa darinya dan Anton, pikirnya. Kenangan indah meskipun menyakitkan ketika diingatnya pengkhianatan Anton padanya.
Setelah lelah, dan sunset itupun menghilang, Keysa memutuskan untuk kembali pulang kerumah. Ia ingin segera tidur malam itu.
                                    ----------------------------
Pukul 10 malam Keysa bersiap tidur, ketika handphonenya berbunyi. Diambilnya handphone itu dari tempatnya, tertera nama Roni di sana. Keysa tersenyum, jauh dilubik hatinya, ia senang.
“Assalamualaikum.” Sapa Keysa ramah.
“Walaikumsalam. Hi Key, udah mau tidur?” tanya suara disebarang.
“Iya tadinya, tapi suara telfon kamu menggangguku.” Ucap Keysya.
“Jadi gak suka nie aku telfon?” Tanya Roni bercanda.
“Iya gak suka, tapi udah terlanjur gak apa deh, lagian kasian orang yang pengen denger suara ku.” Ucap Keysa lagi tertawa geli.
Roni yang mendengar ocehan Keysa jadi tertawa geli. Sejak satu tahun terakhir ini, Roni memang memberikan perhatian lebih pada Keysa. Roni tidak bisa berbohong pada dirinya bahwa sejak dulu ia menyukai Keysa, sejak mereka masih kuliah. Namun Kesay tidak pernah melihatnya karena selalu ada Anton di hati Keysya, hingga akhirnya kesempatan itu datang padanya ketika Anton meninggalkan Keysa.
“Baru pulang Ron?” tanya Keysa.
“Iya, capek banget. Tadi kok gak nunggu aku dateng?” Tanya Roni.
Dan akhirnya malam itu Keysa tidur pukul 12 malam. Keysa selalu merasa nyaman setiap ngobrol dengan Roni. Roni smart, tampan dan yang paling penting bagi Keysa Roni mencintainya, mungkin, pikir Keysa. Malam itu ia melupakan Anton dan tidur dengan tenang membayangkan apa yang akan terjadi esok ketika Roni mengajaknya keluar.
                                    -----------------------------
“Akhirnya.”  Ucap Keysa setelah melihat hasil kerjanya sejak pagi. Keysa tersenyum sendiri melihat wajahnya. Mungkin aku tidak cantik, tapi aku akan membuat semua mata tertuju pada ku karna itu aku, ucap Keysa percaya diri. Hari itu ia ada janji dengan Roni. Kebetulan sekali hari itu Keysa dan Roni libur.
Baru saja Keysa akan keluar kamar, Ibunya memanggilnya.
“Key, Roni sudah datang.” Panggil Ibunya.
Keysa yang memang sudah siap sejak tadi segera mengambil tas dan handphonennya, kemudian dilihatnya sekali lagi bayangannya dicermin “sempurna” ucapnya dan kemudian keluar dari kamar.
“Bu, Keysa pergi dulu ya.” Pamitnya pada ibunya ketika dilihatnya ibunya sedang di dapur.
Ibu Keysa kemudian mengikuti anaknya hingga ke ruang tamu. Tanpa banyak basa-basi, Roni kemudian pamit ke Ibu Keysa untuk mengajak putrinya pergi. Ibu Keysa yang sangat mendukung hubungan mereka tentu saja mengijinkan. Diperhatikannya Keysa dan Roni, terselip sedikit doa dalam hatinya. “Ya Allah, jadikanlah dia jodoh yang tepat dan terbaik untuk anak ku dari-Mu.”. dilihatnya kemudian mereka menghilang.           
Dari kejauhan, seseorang yang sejak tadi memperhatikan Keysa dan Roni kemudian pergi menjalankan mobilnya mengikuti mereka berdua.
                                                ----------------
“Hari ini kita mau kemana Ron?” tanya Keysa pada Roni sesaat setelah mereka berangkat.
“Ada deh. Surprise dong.” Ucap Roni pada Keysa.
Keysa akhirnya mengalah setelah membujuk Roni habis-habisan namun tetap tak berhasil membuat laki-laki itu bicara.
Perjalanannya tidak begitu jauh, kurang lebih satu jam kemudian mereka tiba disebuah vila. Disekitar vila itu merupakan perkebunan teh dan ada hutan cemara di sekeliling vila itu.
Sangat sejuk, pikir Keysa ketika ia turun dari mobil. Dihirupnya udara yang segar dalam-dalam seakan takut jika ia membuka mata nantinya udara itu akan menghilang.
“Bagaimana?” Tanya Roni yang sudah berdiri di sebelahnya.
“Ini keren banget Ron. Aku suka, suka sekali. Makasih ya.” Ucap Keysa tulus sambil merentangkan tangan dan memejamkan mata, berusaha menikmati setiap detik kesegaran udara yang dihirupnya. Hatinya begitu tenang dan nyaman.
Roni hanya tersenyum melihat ulah gadis di sebelahnya ini. Dibiarkannya Keysa menikmati pemandangan disekitarnya terlebih dahulu.
“Key, kita masuk yuk.” Ajak Roni kemudian kepada Keysa. Roni mengajak Keysa masuk ke vila keluarganya. Tidak terlalu besar, namun cukup unik dan klasik menurut pandangan Keysa. Ia menyukainya.
“Key, sini deh. Aku tunjukin sesuatu.” Ajak Roni menarik tangan Keysa setelah mereka ada di dalam rumah.
Keysa yang penasaran hanya bisa mengikuti kemana langkah kaki Roni membawanya. Roni mengajak Keysa naik ke sebuah tangga, sepertinya akan ke atap, pikir Keysa.
Dan ternyata pikirannya benar. Di atap itu ada taman bunga yang indah yang tertata rapi. Ada sebuah ayunan besar di tengah taman itu.
“Indah sekali.” Ucap Keysa yang benar-benar tidak bisa menyembunyikan kekagumannya terutama setelah ia tahu bahwa dari sana ia bisa melihat  jauh  seluruh perkebunan teh dan hutan cemara yang ada di sana yang tersusun rapi. Sangat indah, ucap Keysa lagi dalam hatinya.
“Makasih ya Ron, kamu udah ajak aku ketempat yang indah kayak gini.” Ucap Keysa tulus. Roni hanya tersenyum.
“Kamu akan lebih berterimakasih lagi kalau melihatnya  malam nanti. Kamu akan lihat pemandangan yang berbeda , gelap memang, tapi lampu-lampu dari desa itu akan memantulkan sedikit cahaya sehingga kita bisa melihat indahnya daerah ini pada malam hari.” Ucap Roni kemudian.
“Apa itu berarti kita harus menginap?” tanya Keysa ragu.
“Hanya jika kamu tidak keberatan.” Ucap Roni kemudian.
“Tapi aku belum ijin Ibu tadi.” Ucap Keysa jujur  dan sedikit ragu.
“Aku udah ijin ke Ibu tadi. Kamu boleh telfon Ibu kalau gak percaya.” Ucap Roni menjelaskan. Keysa hanya tersenyum. Roni selalu tahu apa yang ia pikirkan dan butuhkan, karena itulah ia nyaman berada di dekat Roni.
“Ok. Hari ini kita keliling perkebunan dan hutan dulu gimana?” Tawar Roni pada Keysa. Keysa segera mengiyakan tawaran Roni tanpa panjang lebar.
                                                ---------------------
Seharian mereka berdua mengelilingi perkebunan itu, hampir sebaagian perkebunan itu milik keluarga Roni. Beberapa pekerja yang telah mengenal Roni menyapa mereka. Keysa melihat Roni begitu ramah, dewasa, pintar dan tak begitu banyak bicara namun ia tipe orang yang sangat peka. Keysa tidak bisa bohong pada dirinya bahwa ia memang mencintai Roni.
“Kenapa senyum-senyum?” tanya Roni pada Keysa ketika dilihatnya gadis itu tersenyum sendiri.
“Heeem..gak ada apa-apa kok. He..he..” Jawab Keysa yang kemudian memberikan senyum termanisnya pada Roni. Roni yang gemas melihat tingkah Keysa kemudian mengacak-acak raambut Keysa. Keysa yang tidak terima rambutnya berantakan marah-marah pada Roni, dan Roni hanya bisa menghidar serangan-serangan dari Keysa. Akhirnya mereka berdua berkejar-kejaran di sekitar perkebunan itu. Mereka berdua terlihat sebagai pasangan yang sangat bahagia.
“Ron, aku kan gak bawa baju ganti.” Ucap Keysa mengingatkan ketika mereka sudah duduk di rumput depan vila. Keysa duduk disebelah Roni. Disandarkannya kepalanya dibahu Roni.
Roni yang mulanya berpikir sebentar, kemudian memiliki ide untuk mereka berbelanja di pasar terdekat sambil membeli beberapa makanan  untuk bekal mereka nanti malam. Keysa menyetujui ide itu. Akhirnya mereka pergi berbelanja.
                                    ------------------------------
“Gimana? Aneh ya aku pakai baju ini?” tanya Keysa pada Roni ssetelah ia selesai mandi.
Tidak ada baju yang menurut Keysa bagus di pasar itu.
“Heeem…lumayan” ucap Roni  setelah menimbang-nimbang.
Keysa yang tidak terima akhirnya berwajah masam duduk di sebelah Roni yang sedang asik menonton TV. Sebenarnya Roni hanya ingin menggoda Keysa. “Kamu pakai apa aja cocok Key.” Ucap Roni dalam hati ketika dilihatnya Keysa masih cemberut.
“Kita makan apa malam ini Key?” tanya Roni kemudian mengalihkan perhatian Keysa.
“Bagaimana kalau sup jagung saja biar hangat kan tadi kita beli jagung.” Ucap Keysa memberi  usul yang langsung disetujui oleh Roni.
Akhirnya mereka segera masak. Roni memperhatikan Keysa sangat cekatan dalam memasak. Setelah selesai, mereka sepakat untuk makan malam di taaman atas sambil melihat pemandangan di sekitar mereka.
Malam itu sungguh sempurna. Selesai makan, Roni mengajak Keysa duduk di ayunan yang ada ditengah taman. Keysa duduk disebelah Roni. Mereka mengobrol tentang banyak hal, mulai dari pekerjaan, pengetahuan, dan kehidupan.
“Key, dingin ya?” tanya Roni yang melihat Keysa sudah agak menggigil. Keys hanya tersenyum. Waktu memang beranjak semakin malam, tanpa terasa sudah pukul 10 malam. Dipegangnya tangan Keysa, sangat dingin. Kemudia ditariknya gadis itu mendekat kepadanya, dipeluknya Keysa, dimasukkannya kedua tangan Keysa kedalam jaketnya. Keysa hanya menurut.
Mereka masih disana dengan posisi Roni memeluk Keysa dari belakang ketika tanpa sadar seseorang memperhatikannya dari jauh.
“Key, kamu sudah benar-benar melupakan aku?” Tanya laki-laki itu lebih pada dirinya sendiri.
“Key, aku sayang kamu.” Ucap Roni lirih ditelinga Keysa.
Keysa yang masih dalam pelukannya tiba-tiba terdiam. Keysa yakin Roni bisa merasakan denyut jantungnya sekarang karena mereka begitu dekat, dan Keysa juga bisa mendengar detak jantung Roni karena wajah Keysa tepat didada Roni yang sama kuatnya dengan detak jantungnya sendiri.
 “Key.” Panggil Roni kemudian ketika dilihatnya Keysa masih terdiam tak bereaksi.
Keysa hanya menggumam lirih.
“Apa aku punya kesempatan Key?” tanya Roni kemudian.
Lama kemudian keduanya terdiam. Roni masih menunggu reaksi Keysa yang masih tetap dalam pelukannya. Suasanan semakin dingin, Roni mempererat pelukannya pada Keysa dan Keysa tidak melawan.
“Ron.” Panggil Keysa kemudian akhirnya bersuara.
Ditatanya hatinya sendiri agar ia tidak menyakiti Roni. Keysya berusaha menjcari kalimat yang tepat.
“Aku gak tahu apa yang aku rasain ke kamu. Aku nyaman ada di deket kamu. Aku gak ingin kehilangan kamu. Aku gak tahu apa itu benar-benar cinta untuk kamu. Sepertinya memang iya itu cinta, tapi Ron.” Ucap Keysa tiba-tiba berhenti. Ia berhenti sejenak untuk mempersiapkan hatinya.
“Ron, kamu tahu kan nasibku 2 tahun lalu?” Tanya Keysa pada Roni dan Roni hanya mengangguk.
“Ron, sampai detik ini hidupku masih terpengaruh dengan masalah itu. Masih ada dia di sana Ron, di hatiku.” Ucap Keysa. Roni terdiam, merasakan dadanya tiba-tiba sakit mendengar ucapan Keysa. Tanpa sadar, ia mengendurkan pelukannya, Keysa mengyadari itu.
Kemudian Keysa memilih duduk tidak lagi bersandar pada Roni. Di tatapnya wajah Roni lekat-lekat.
“Ron, aku tahu pasti kamu kecewa. Tapi aku ingin kamu tahu yang sebenarnya. Ron, aku yakin aku sayang sama kamu. Tapi aku juga yakin, ketika laki-laki itu datang nantinya, hatiku masih tepengaruh oleh kedatangannya. Dan aku gak mau ngecewain kamu. Aku mau kita memulai hubungan kita di saat aku benar-benar hanya mencintaai kamu Ron. Di saat aku yakin kedatangannya tidak lagi mengganggu pikiran ku.” Ucap Keysa kemudian.
Tanpa sadar Roni langsung memeluk Keysa kembali seerat mungkin seakan tidak akan pernah ia lepaskan.
“Key, aku harap itu benar-benar cinta untukku. Dan aku akan siap nunggu sampai kamu bilang hati kamu hanya untukku.” Ucap Roni.
Keysa hanya mengangguk, berjanji pada dirinya sendiri tidak akan menyakiti Roni.
Malam itu mereka berdua berpelukan erat, seakan tidak mampu melepaskan satu sama lain.  Roni yakin Keysa mencintainya.
“Aku mencintaimu Ron. Aku yakin itu cinta untukmu. Tapi Ijinkan Aku menghapusnya dan meyakinkan diriku bahwa Dia bukan lagi alasan untukku menangis dan tertawa”.  Ucap Keysa dalam hatinya.

Mungkinkah ini cinta?
Setelah ia pergi dan tersakiti
Mungkinkah benar rasa?
Setelah ia hancur
Mungkinkah ia kembali?
Kedalam relup hati
Yang pernah tersakiti,
Yang pernah terhianati
------The End -----