Jumat, 29 Maret 2013

-PUISI CINTA ANGEL- (PART 2)

Part 2



Untaian kata ini ku tahu pasti takkan dapat kau pahami
Perasaan hati ini, ku yakini takkan pernah kau mengerti
Dan jeritan hati ini, takkan mungkin kan kau cari
Tapi tak bisakah kau diam dan merasakan
Ketulusan dan keikhlasan cinta??
Karna ia bicara dengan sejuta makna, meski tanpa kata-kata
From: Angel
To: RAP



“Woi, sini cepet liat.” Teriak Doni pada temen-temen satu kelasnya.
            “Angel bikin puisi lagi tu, tadi gue dah baca. Gila keren banget tu cewek, puisinya semua dari hati. Pinter banget tu cewek bikin puisi, tiap hari Senin pasti puisinya dah nongol di MADING sekolah. Siapa sie sebenernya si Angel itu? Trus siapa juga si RAP itu ya?” komentar Doni panjang lebar yang gak sadar temen-temen sekelasnya dah pada ngacir sendiri-sendiri ke MADING untuk baca puisi  “Angel”.
Pagi itu belum begitu banyak murid yang datang, tapi hampir semua anak menuju MADING sekolah untuk melihat puisi “Angel” yang kayaknya udah jadi langganan mingguan yang ditunggu anak-anak.
Kadang sangking penasarannya, mereka rela keliling sekolah cuma buat nyari yang namanya Angel, setelah itu dengan begonya, “Doni CS akan meminta ”Angel-angel” itu untuk bikin puisi di depan mereka, tapi tetep aja hasilnya nihil.
Keyla duduk di atas mejanya tepat di pinggir jendela sehingga ia dapat melihat dari dalam kelas orang-orang yang baru masuk dari pintu gerbang sekolah. Sudah beberapa minggu sejak Sika bertanya padanya tentang “Angel”, Keyla merasa rahasianya masih cukup aman. Melihat tingkah teman-temannya itu Keyla cuma bisa senyum-senyum sendiri.
“Hei, pagi-pagi udah ngelamun.” Teriak Rangga mengagetkan Keyla yang masih asik melihat pemandangan di luar jendela.
“Oh, Hei.” Jawab Keyla tampak terkejut. “Kamu bikin kaget aja”.
“Kamu yang ngelamun pagi-pagi. Ada masalah apa? Gak ikutan ngeliat puisi di mading?” Tanya Rangga.
“Gak deh, kurang kerjaan. Nanti aja sekalian ke kantin. Kamu sendiri gak mau baca?” Tanya Keyla menyelidik, sebagian dalam dirinya takut jika Rangga akan tahu dialah yang telah menulis puisi itu, tapi sebagian lain dari hatainya ingin jika Rangga membaca puisi yang memang ditujukan kepadanya.
“Nanti juga. Kenapa aku ngerasa puisi itu untuk aku ya.” Komentar Rangga tiba-tiba yang mampu membuat Keyla langsung menoleh kea rah Rangga.
“Apa? Huuuh, GR kamu. Masih belum ilang juga narsiz kamu.” Ucap Keyla sambil meninju lengan Rangga untuk menutupi rasa terkejutnya. Keyla yang terkejut jadi tampak gugup dan gak tahu harus bicara apa. Kata-kata itu keluar begitu saja.
“Aaaaw……. Sakit tahu.” Teriak Rangga spontan mendapatkan tinjuan kecil dari Keyla. “He…he..he… GR dikit boleh kan, coba pikir siapa lagi yang punya inisial RAP di sekolah kita?” bela Rangga.
“Yaaaa, kali aja bukan inisial nama. Entahlah..” jawab Keyla menyembunyikan kepanikannya. Jantungnya sudah berdetak gak karuan sejak Rangga datang, ditambah lagi kalimat yang Rangga katakan barusan membuat Keyla semakin gugup.
“Menurut kamu gimana puisi itu? Kamu udah baca yang puisi minggu lalu kan?” Tanya Rangga mengagetkan Keyla.
“Eh, maksud kamu, gimana apanya?” Tanya Keyla tampak gugup.
“Ya isinyalah.  Kamu kan suka bikin puisi, apa tanggapan kamu tentang penulis itu?”
“Gak tahu deh, kamu sendiri gimana tanggapan kamu? Kalo seandainya itu untuk kamu beneran apa yang bakal kamu lakuin ke penulis itu?” Tanya Keyla.
“Tanggapan ku sama kayak temen yang lain. Aku suka puisi itu. Kalo seandainya puisi itu memang untuk aku, aku akan sangat berterimakasih sama orang itu. Aku ngerasa penulisnya punya cinta yang bener-bener tulus, gak gampang jadi pengagum rahasia itu. tapi mungkin akan lebih baik kalau dia bilang jujur aja sama orang yang dia sayang.”
Komentar Rangga membuat Keyla diam seribu bahasa. “Andai kamu tahu itu aku yang nulis, apa kamu juga bakal bilang seperti itu Ga?” Tanya Keyla dalam hati, dipandangnya wajah yang selama ini telah mengganggu malam-malamya.
“Hei, kok ngelamun lagi. Kenapa kamu ngeliatin aku kayak gitu?” Tanya Rangga mengagetkan Keyla.
“Gak....gak ada apa-apa. Kamu aja yang GR. Udah deh jangan ngomongin ini lagi, sana balik ke bangku kamu.” Paksa Keyla pada Rangga, di dorongnya Rangga untuk menjauh darinya. Keyla benar-benar tidak ingin Rangga tahu dialah yang menulis puisi itu. biarkan ia sendiri yang menyimpan cinta untuk sahabatnya itu.
“Iya…iya aku ke bangkuku. Galak banget si.” Omel Rangga.
Tak lama bel tanda panggilan masuk berbunyi. Seperti biasa, Sika teman sebangkunya pasti terlambat lagi. Udah jadi langganan kalo Sika selalu terlambat. Tak lama, sahabat yang ditunggunya itu berlari masuk kelas.
“Huh, akhirnya sampe juga.” Celetuk Sika begitu tiba dibangkunya.
“Loe ini seneng banget terlambat. Untung upacara belum mulai. Bisa disuruh nungggu di luar Loe kalau terlambat.” Omel Keyla.
“Ya…ya… udah deh jangan berisik, capek ni gue. Biar gue ngatur nafas dulu. Minta tisue dong.” Cerosocos Sika masih tampak kelelahan.
“Gak ada, habis, kemarin kan Loe yang ngabisin. Lain kali Loe bawa tisue sendiri.”
“Pelit banget sie Loe. Besok gue bawa satu kotak gede, Loe gak boleh minta.” Omel Sika lagi sambil menjulurkan lidahnya.
“Bagus deh, jadi tisue gue aman. Weeek…….” Balas Keyla kepada sahabatnya disertai bunyi bel peringatan upacara akan segera dimulai berbunyi.
Semua anak segera menuju ke lapangan upacara. Hari itu matahari sangat tidak bersahabat karena sengatannya sangat membakar kulit. Untung hari itu yang piket sebagai pembina upacara adalah Pak Mansyur yang terkenal paling tidak suka bicara, sehingga upacara cepat selesai.
Selesainya upacara, anak-anak yang sudah bersiap berlari tertahan kembali oleh suara Ibu Mirna yang akan memberikan pengumuman. Teriknya matahari pagi itu semakin panas lagi ketika mereka mendangar pengumuman bahwa dua minggu lagi akan ada ujian semester. Anak-anak langsung bersorak dengan keluhan masing-masing tak terkecuali Keyla dan Sika yang hanya dibalas ucapan “Selamat Belajar” oleh Bu Mirna.
Setelah pengumuman selesai, anak-anak berhamburan ke kelas masing-masing. Ada juga anak-anak yang pergi ke kantin untuk mengisi perut dan segera kembali ke dalam kelas sebelum pelajaran dimulai. Keyla dan Sika pun segera duduk dibangku mereka. Mereka sibuk mendiskusikan tentang ujian semester dan mengatur jadwal belajar bersama. Tanpa mereka sadari Doni, Rangga, dan Lia sudah ada di sebelah mereka.
“Kapan kita belajar bareng?” Tanya Doni yang diikuti oleh anggukan dari Rangga dan Lia.
Keyla dan Sika yang tidak menyadari kedatangan mereka kontan terkejut.
“Hei, kalian ngagetin  aja.” Timpal Sika. “Ni ku ma Keyla lagi nyusun jadwal. Kalian liat aja dulu, kalo ada yang gak sesuai boleh kita ganti. Kita juga ada jadwal tempat untuk belajar biar gak bosen. Gimana?” Tanya Sika lagi pada teman-temannya.
Rangga, Doni, Lia, dan Keyla hanya mengangguk-angguk tanda setuju. Tak perlu waktu lama untuk mereka sepakat dengan jadwal belajar bersama seminggu 3 kali setelah selesai sholat Ashar di gilir setiap rumah dan akan di mulai hari ini.
……………………….
           
Hari ujian semester semain dekat. Tak terasa sudah hampir dua minggu mereka belajar bersama. Ini hari terakhir mereka belajar bersama sebelum hari Seninnya mereka ujian semester. Hari ini giliran rumah Keyla yang digunakan untuk belajar. Sudah setengah jalan mereka belajar, dan terlihat mereka mulai jenuh. Rangga dan Doni sudah mulai tidak fokus. Lia dan Sika justru sudah menggosip tentang artis Korea Lee Min Hoo. Sedangkan Keyla sendiri sudah mulai ngantuk.
            “Istirahat dulu 15 menit gimana?” Usul Rangga tiba-tiba.
Anak-anak lainnya yang merasa setuju segera saling pandang dan mengangguk. Akhirnya mereka sepakat untuk istirahat. Sika segera pergi ke kamar Keyla untuk meminjam novel Keyla dan kemudian mulai membacanya, yang lain sibuk dengan kegiatan masing-masing.
Lima menit berlalu, mereka sepakat lagi untuk memulai belajar kembali karna waktu sudah semakin sore kecuali Sika. Sika yang kesal karena diminta untuk berhenti membaca segera dengan kesal melempar novel Keyla ke kursi, dan tanpa diketahui oleh yang lainnya, Rangga melihat sebuah kertas jatuh dari buku tersebut dan diambilnya. Tadinya ia ingin memberitahu Sika, namun ia mengurungkan niat setelah dibacanya sekilas terdapat puisi yang begitu bagus tertulis dikertas itu dengan nama Keyla dibawahnya dan ada nama Rangga Aditia Putra di sana disebut. Rangga terkejut melihat puisi itu. Entah kenapa perasaannya jadi kacau. Ia begitu tersentuh dengan puisi itu. Dilihatnya Keyla, diperhatikannya wajah sahabatnya itu. Sahabat yang selama ini ia sayangi dan yang selalu ingin ia lindungi meskipun ia sendiri sudah memiliki pacar.
“Hei, Rangga. Kok malah ngelamun. Pake acara ngeliatin Keyla gitu lagi.” Tanya Doni mengagetkan Rangga. Rangga dan Keyla yang merasa namanya disebut saling memandang, tanpa mereka sadari ada perasaan ganjil dalam hati mereka. Rangga hanya tersenyum salah tingkah, begitu juga dengan Keyla. Sika yang melihat hal ini segera mengembalikan fokus teman-temannya untuk belajar kembali. Karena ia tahu, jika tidak segera dihentikan, fokus Keyla akan berantakan lagi setelah dua minggu ini perasaan Keyla pada Rangga mulai dapat teralihkan. Sika tidak ingin sahabatnya tersakiti.
Akhirnya hari itu mereka selesai belajar bersama. Rangga dan Doni pamit pulang sedangkan Keyla, Sika dan Lia masih sibuk bergosip di kamar Keyla. Rangga tadinya ingin mengambil puisi yang ia temukan tadi, namun ia tidak ingin sahabatnya malu padanya jika Keyla tau bahwa ia sudah tahu tentang puisi itu. Ia kembalikan puisinya ke dalam novel Keyla. Dan hari itu berakhir dengan perasaan campur aduk di dalam hati Rangga tanpa ada seorang pun yang tau termasuk Keyla.
…………………………

Kejadian tentang puisi yang ditemukan Rangga itupun mulai terlupakan, serta puisi “Angel” juga mulai teralihkan karena perhatian anak-anak terfokus pada soal-soal ujian dihadapan mereka. Selama satu minggu mereka menghadapi ujian. Bagi anak-anak ini adalah minggu yang begitu melelahkan. Wajah kusut, pucat dan lemas terlihat dari wajah-wajah mereka setiap pulang sekolah tak terkecuali bagi Keyla CS.
“Key, kita jalan-jalan yuk hari ini. Aku pusing banget.” Ajak Lia.
Sika yang ada di sana segera mengiyakan dan merayu Keyla untuk ikut. Dan akhirnya merekapun pergi berjalan-jalan ke danau yang tidak begitu jauh dari rumah mereka. Rangga, Doni dan Adit tidak ketinggalan.
………………………………………

Tidak ada komentar:

Posting Komentar