Untaian kata ini ku tahu pasti takkan dapat kau pahami
Perasaan hati ini, ku yakini takkan pernah kau mengerti
Dan jeritan hati ini, takkan mungkin kan kau cari
Tapi tak bisakah kau diam dan merasakan
Ketulusan dan keikhlasan cinta??
Karna ia bicara dengan sejuta makna, meski tanpa kata-kata
From: Angel
To: RAP
“Woi,
sini cepet liat.” Teriak Doni pada temen-temen satu kelasnya.
“Angel bikin puisi lagi tu, tadi gue
dah baca. Gila keren banget tu cewek, puisinya semua dari hati. Pinter banget tu
cewek bikin puisi, tiap hari Senin pasti puisinya dah nongol di MADING sekolah.
Siapa sie sebenernya si Angel itu? Trus siapa juga si RAP itu ya?” komentar Doni
panjang lebar yang gak sadar temen-temen sekelasnya dah pada ngacir
sendiri-sendiri ke MADING untuk baca puisi “Angel”.
Pagi
itu belum begitu banyak murid yang datang, tapi hampir semua anak menuju MADING
sekolah untuk melihat puisi “Angel” yang kayaknya udah jadi langganan mingguan yang
ditunggu anak-anak.
Kadang
sangking penasarannya, mereka rela keliling sekolah cuma buat nyari yang
namanya Angel, setelah itu dengan begonya, “Doni CS akan meminta ”Angel-angel”
itu untuk bikin puisi di depan mereka, tapi tetep aja hasilnya nihil.
Keyla
duduk di atas mejanya tepat di pinggir jendela sehingga ia dapat melihat dari
dalam kelas orang-orang yang baru masuk dari pintu gerbang sekolah. Sudah
beberapa minggu sejak Sika bertanya padanya tentang “Angel”, Keyla merasa
rahasianya masih cukup aman. Melihat tingkah teman-temannya itu Keyla cuma bisa
senyum-senyum sendiri.
“Hei,
pagi-pagi udah ngelamun.” Teriak Rangga mengagetkan Keyla yang masih asik
melihat pemandangan di luar jendela.
“Oh,
Hei.” Jawab Keyla tampak terkejut. “Kamu bikin kaget aja”.
“Kamu
yang ngelamun pagi-pagi. Ada masalah apa? Gak ikutan ngeliat puisi di mading?”
Tanya Rangga.
“Gak
deh, kurang kerjaan. Nanti aja sekalian ke kantin. Kamu sendiri gak mau baca?”
Tanya Keyla menyelidik, sebagian dalam dirinya takut jika Rangga akan tahu
dialah yang telah menulis puisi itu, tapi sebagian lain dari hatainya ingin
jika Rangga membaca puisi yang memang ditujukan kepadanya.
“Nanti
juga. Kenapa aku ngerasa puisi itu untuk aku ya.” Komentar Rangga tiba-tiba
yang mampu membuat Keyla langsung menoleh kea rah Rangga.
“Apa?
Huuuh, GR kamu. Masih belum ilang juga narsiz kamu.” Ucap Keyla sambil meninju
lengan Rangga untuk menutupi rasa terkejutnya. Keyla yang terkejut jadi tampak
gugup dan gak tahu harus bicara apa. Kata-kata itu keluar begitu saja.
“Aaaaw…….
Sakit tahu.” Teriak Rangga spontan mendapatkan tinjuan kecil dari Keyla.
“He…he..he… GR dikit boleh kan, coba pikir siapa lagi yang punya inisial RAP di
sekolah kita?” bela Rangga.
“Yaaaa,
kali aja bukan inisial nama. Entahlah..” jawab Keyla menyembunyikan
kepanikannya. Jantungnya sudah berdetak gak karuan sejak Rangga datang,
ditambah lagi kalimat yang Rangga katakan barusan membuat Keyla semakin gugup.
“Menurut
kamu gimana puisi itu? Kamu udah baca yang puisi minggu lalu kan?” Tanya Rangga
mengagetkan Keyla.
“Eh,
maksud kamu, gimana apanya?” Tanya Keyla tampak gugup.
“Ya
isinyalah. Kamu kan suka bikin puisi,
apa tanggapan kamu tentang penulis itu?”
“Gak
tahu deh, kamu sendiri gimana tanggapan kamu? Kalo seandainya itu untuk kamu
beneran apa yang bakal kamu lakuin ke penulis itu?” Tanya Keyla.
“Tanggapan
ku sama kayak temen yang lain. Aku suka puisi itu. Kalo seandainya puisi itu
memang untuk aku, aku akan sangat berterimakasih sama orang itu. Aku ngerasa
penulisnya punya cinta yang bener-bener tulus, gak gampang jadi pengagum
rahasia itu. tapi mungkin akan lebih baik kalau dia bilang jujur aja sama orang
yang dia sayang.”
Komentar
Rangga membuat Keyla diam seribu bahasa. “Andai kamu tahu itu aku yang nulis,
apa kamu juga bakal bilang seperti itu Ga?” Tanya Keyla dalam hati,
dipandangnya wajah yang selama ini telah mengganggu malam-malamya.
“Hei,
kok ngelamun lagi. Kenapa kamu ngeliatin aku kayak gitu?” Tanya Rangga mengagetkan
Keyla.
“Gak....gak
ada apa-apa. Kamu aja yang GR. Udah deh jangan ngomongin ini lagi, sana balik
ke bangku kamu.” Paksa Keyla pada Rangga, di dorongnya Rangga untuk menjauh
darinya. Keyla benar-benar tidak ingin Rangga tahu dialah yang menulis puisi itu.
biarkan ia sendiri yang menyimpan cinta untuk sahabatnya itu.
“Iya…iya
aku ke bangkuku. Galak banget si.” Omel Rangga.
Tak
lama bel tanda panggilan masuk berbunyi. Seperti biasa, Sika teman sebangkunya pasti
terlambat lagi. Udah jadi langganan kalo Sika selalu terlambat. Tak lama,
sahabat yang ditunggunya itu berlari masuk kelas.
“Huh,
akhirnya sampe juga.” Celetuk Sika begitu tiba dibangkunya.
“Loe
ini seneng banget terlambat. Untung upacara belum mulai. Bisa disuruh nungggu
di luar Loe kalau terlambat.” Omel Keyla.
“Ya…ya…
udah deh jangan berisik, capek ni gue. Biar gue ngatur nafas dulu. Minta tisue
dong.” Cerosocos Sika masih tampak kelelahan.
“Gak
ada, habis, kemarin kan Loe yang ngabisin. Lain kali Loe bawa tisue sendiri.”
“Pelit
banget sie Loe. Besok gue bawa satu kotak gede, Loe gak boleh minta.” Omel Sika
lagi sambil menjulurkan lidahnya.
“Bagus
deh, jadi tisue gue aman. Weeek…….” Balas Keyla kepada sahabatnya disertai
bunyi bel peringatan upacara akan segera dimulai berbunyi.
Semua
anak segera menuju ke lapangan upacara. Hari itu matahari sangat tidak
bersahabat karena sengatannya sangat membakar kulit. Untung hari itu yang piket
sebagai pembina upacara adalah Pak Mansyur yang terkenal paling tidak suka
bicara, sehingga upacara cepat selesai.
Selesainya
upacara, anak-anak yang sudah bersiap berlari tertahan kembali oleh suara Ibu
Mirna yang akan memberikan pengumuman. Teriknya matahari pagi itu semakin panas
lagi ketika mereka mendangar pengumuman bahwa dua minggu lagi akan ada ujian
semester. Anak-anak langsung bersorak dengan keluhan masing-masing tak
terkecuali Keyla dan Sika yang hanya dibalas ucapan “Selamat Belajar” oleh Bu
Mirna.
Setelah
pengumuman selesai, anak-anak berhamburan ke kelas masing-masing. Ada juga
anak-anak yang pergi ke kantin untuk mengisi perut dan segera kembali ke dalam
kelas sebelum pelajaran dimulai. Keyla dan Sika pun segera duduk dibangku
mereka. Mereka sibuk mendiskusikan tentang ujian semester dan mengatur jadwal
belajar bersama. Tanpa mereka sadari Doni, Rangga, dan Lia sudah ada di sebelah
mereka.
“Kapan
kita belajar bareng?” Tanya Doni yang diikuti oleh anggukan dari Rangga dan
Lia.
Keyla
dan Sika yang tidak menyadari kedatangan mereka kontan terkejut.
“Hei,
kalian ngagetin aja.” Timpal Sika. “Ni
ku ma Keyla lagi nyusun jadwal. Kalian liat aja dulu, kalo ada yang gak sesuai
boleh kita ganti. Kita juga ada jadwal tempat untuk belajar biar gak bosen.
Gimana?” Tanya Sika lagi pada teman-temannya.
Rangga,
Doni, Lia, dan Keyla hanya mengangguk-angguk tanda setuju. Tak perlu waktu lama
untuk mereka sepakat dengan jadwal belajar bersama seminggu 3 kali setelah
selesai sholat Ashar di gilir setiap rumah dan akan di mulai hari ini.
……………………….
Hari
ujian semester semain dekat. Tak terasa sudah hampir dua minggu mereka belajar
bersama. Ini hari terakhir mereka belajar bersama sebelum hari Seninnya mereka
ujian semester. Hari ini giliran rumah Keyla yang digunakan untuk belajar.
Sudah setengah jalan mereka belajar, dan terlihat mereka mulai jenuh. Rangga
dan Doni sudah mulai tidak fokus. Lia dan Sika justru sudah menggosip tentang
artis Korea Lee Min Hoo. Sedangkan Keyla sendiri sudah mulai ngantuk.
“Istirahat dulu 15 menit gimana?”
Usul Rangga tiba-tiba.
Anak-anak
lainnya yang merasa setuju segera saling pandang dan mengangguk. Akhirnya
mereka sepakat untuk istirahat. Sika segera pergi ke kamar Keyla untuk meminjam
novel Keyla dan kemudian mulai membacanya, yang lain sibuk dengan kegiatan
masing-masing.
Lima
menit berlalu, mereka sepakat lagi untuk memulai belajar kembali karna waktu
sudah semakin sore kecuali Sika. Sika yang kesal karena diminta untuk berhenti
membaca segera dengan kesal melempar novel Keyla ke kursi, dan tanpa diketahui
oleh yang lainnya, Rangga melihat sebuah kertas jatuh dari buku tersebut dan
diambilnya. Tadinya ia ingin memberitahu Sika, namun ia mengurungkan niat
setelah dibacanya sekilas terdapat puisi yang begitu bagus tertulis dikertas
itu dengan nama Keyla dibawahnya dan ada nama Rangga Aditia Putra di sana
disebut. Rangga terkejut melihat puisi itu. Entah kenapa perasaannya jadi
kacau. Ia begitu tersentuh dengan puisi itu. Dilihatnya Keyla, diperhatikannya
wajah sahabatnya itu. Sahabat yang selama ini ia sayangi dan yang selalu ingin
ia lindungi meskipun ia sendiri sudah memiliki pacar.
“Hei,
Rangga. Kok malah ngelamun. Pake acara ngeliatin Keyla gitu lagi.” Tanya Doni
mengagetkan Rangga. Rangga dan Keyla yang merasa namanya disebut saling
memandang, tanpa mereka sadari ada perasaan ganjil dalam hati mereka. Rangga
hanya tersenyum salah tingkah, begitu juga dengan Keyla. Sika yang melihat hal
ini segera mengembalikan fokus teman-temannya untuk belajar kembali. Karena ia
tahu, jika tidak segera dihentikan, fokus Keyla akan berantakan lagi setelah
dua minggu ini perasaan Keyla pada Rangga mulai dapat teralihkan. Sika tidak
ingin sahabatnya tersakiti.
Akhirnya
hari itu mereka selesai belajar bersama. Rangga dan Doni pamit pulang sedangkan
Keyla, Sika dan Lia masih sibuk bergosip di kamar Keyla. Rangga tadinya ingin
mengambil puisi yang ia temukan tadi, namun ia tidak ingin sahabatnya malu
padanya jika Keyla tau bahwa ia sudah tahu tentang puisi itu. Ia kembalikan
puisinya ke dalam novel Keyla. Dan hari itu berakhir dengan perasaan campur
aduk di dalam hati Rangga tanpa ada seorang pun yang tau termasuk Keyla.
…………………………
Kejadian
tentang puisi yang ditemukan Rangga itupun mulai terlupakan, serta puisi
“Angel” juga mulai teralihkan karena perhatian anak-anak terfokus pada
soal-soal ujian dihadapan mereka. Selama satu minggu mereka menghadapi ujian.
Bagi anak-anak ini adalah minggu yang begitu melelahkan. Wajah kusut, pucat dan
lemas terlihat dari wajah-wajah mereka setiap pulang sekolah tak terkecuali
bagi Keyla CS.
“Key,
kita jalan-jalan yuk hari ini. Aku pusing banget.” Ajak Lia.
Sika
yang ada di sana segera mengiyakan dan merayu Keyla untuk ikut. Dan akhirnya
merekapun pergi berjalan-jalan ke danau yang tidak begitu jauh dari rumah
mereka. Rangga, Doni dan Adit tidak ketinggalan.
………………………………………
Tidak ada komentar:
Posting Komentar