Rabu, 27 Maret 2013

NOT SCARY MOVIE


NOT SCARY MOVIE

Tertarik dengan penejelasan seorang teman pada presentasi Ujian Bahasa Inggris kami hari ini (26 Maret 2013). Kira-kira arti yang bisa saya tangkap begini “Kehidupan perawat layaknya sebuah filem”.  Dijabarkan dalam slidenya bagaimana dia bisa menyebutkannya. Menyedihkan menurut saya melihat apa yang di sampaikannya terkait fenomena yang ada.
Ada beberapa judul film yang mengangkat tema perawat  dengan berbagai judul “SUSTER ……” atau “SUSTER ……” dan masih banyak lagi yang bisa temen-temen liat di youtube atau di mana saja. Jika kita mau memeriksa satu persatu dengan detail, hampir kesemua judul tersebut menampilkan perawat dalam wajah horror “scary movie”. Dimana tokoh utamanya seorang perawat yang menjadi hantu wanita bergentayangan.
Banyak sekali pertanyaan di benak saya yang akhirnya berkembang dan dikembangkan akibat sebuah sentilan dari presentasi seorang teman. “Tidak kah mereka pernah dirawat? Pernah masuk rumah sakit mungkin? jika bukan mereka keluarganya mungkin? Apakah itu dibuat berdasarkan pengalaman mereka selama menerima perawatan dari seorang suster di rumah sakit?”
Tidak dapat dilihatkah bagaimana seorang perawat mampu berjaga semalaman hanya untuk memastikan pasiennya dalam kondisi aman. Bagi orang lain yang dengan nyenyaknya dapat tidur di kasur empuk di rumah mereka dengan selimut tebal yang melapisi tubuh, perawat sibuk mengecek tetesan infuse hanya agar pasien tidak kekurangan cairan.
Sangat disayangkan sekali jika stigma masyarakat kepada perawat masih sangat buruk. Sebagai seorang perawat meskipun saya tidak bekerja di rumah sakit, tetapi saya juga lulusan keperawatan dan saya seorang perawat pendidik yang berusaha mendidik perawat-perawat baru yang nantinya akan bekerja merawat masyarakat dengan sepenuh hatinya. Sama dengan profesi lainnya. untuk menjadi seorang Nurse profesional kami harus menempuh 5 tahun perkuliahan. Empat tahun kami habiskan dengan perkuliahan di kampus dan klinik (rumah sakit) untuk berpraktik agar kami bisa lulus Sarjana Keperawatan (S. Kep) dan 1 tahun berikutnya kami habiskan wakrtu pendidikan dengan berpraktik di rumah sakit.
Dalam kurikulum kami, yang kami utamakan adalah bagaimana kami mampu memenuhi kebutuhan dasar manusia dengan kompetensi-kompetensi yang harus kami miliki. Kami membantu pasien untuk memenuhi kebuthan dasarnya. Kebutuhan dasar manusia menurut Herarki Maslow dari buku Fundamental of Nursing antaralain kebutuhan fisiologis dasar (oksigenasi, cairan, nutrisi, temperature, eliminasi, tempat tinggal, istirahat, seksualitas), kebutuhan rasa ama dan keselamatan (fisik dan psikologis), kebutuhan mencintai dan dicintai, kebutuhan harga diri, dan kebutuhan aktualisasi diri pasien (Potter Perry, 2005).  Ya…semua yang kami lakukan yang kadang disebut sebagai pekerjaan “pembantu” adalah untuk memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat. Kami melayani dengan hati, dengan kompetensi dan pengetahuan yang kami miliki.
Bahkan untuk lulus menjadi perawat yang punya caring dan performa yang bagus saat kami akan lulus sarjana, kampus kami membekali kami dengan “Pelatihan Dasar Pengembangan Diri untuk Perawat”. Yang isi di dalamnya kami diajarkan mengenai; Pengembangan diri, kepercayaan diri, performa prima, komunikasi efektif, public speaking, etiket bisnis, pelayanan prima dan total performa.
Dalam kurikulum pembelajaran kami, Kami juga diajarkan bagaimana harus  berkomunikasi dengan baik dengan pembelajaran “Komunikasi Terapeutik”.  Sekedar informasi, komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang mendorong proses penyembuhan klien (Depkes RI, 1997). Dalam pengertian lain mengatakan bahwa komunikasi terapeutik adalah proses yang digunakan oleh perawat memakai pendekatan yang direncanakan secara sadar, bertujuan dan kegiatannya dipusatkan pada klien. Komunikasi terapeutik termasuk komunikasi interpersonal dengan titik tolak saling memberikan pengertian antara perawat dengan klien.
Dapat dibayangkan bagaimana kami diajarkan untuk menjadi perawat yang memiliki carring, attitude yang baik, senyum, sopan, santun, berwibawa, tetap tampil cantik dan prima meskipun badan letih tak berdaya. Semua itu kami dapatkan selama pendidikan kami. Begitu lengkapnya semua pembelajaran kami hanya untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi pasien dan mempercepat kesembuhan pasien, bukan untuk memperparah kondisi pasien. Kami akan datang pada pasien dengan senyum termanis kami ^-^ bukan dengan wajah seram seperti hantu @-@.

Thank to: Antoni EFM (aku copas ide presentasinya mas Antoni), Dr. Retty, Ika Subekti (untuk sarannya) dan teman-teman Emergensi Nursing UB.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar