NOT
SCARY MOVIE
Tertarik dengan penejelasan
seorang teman pada presentasi Ujian Bahasa Inggris kami hari ini (26 Maret 2013).
Kira-kira arti yang bisa saya tangkap begini “Kehidupan perawat layaknya sebuah
filem”. Dijabarkan dalam slidenya
bagaimana dia bisa menyebutkannya. Menyedihkan menurut saya melihat apa yang di
sampaikannya terkait fenomena yang ada.
Ada beberapa judul film yang
mengangkat tema perawat dengan berbagai
judul “SUSTER ……” atau “SUSTER ……” dan masih banyak lagi yang bisa temen-temen
liat di youtube atau di mana saja. Jika
kita mau memeriksa satu persatu dengan detail, hampir kesemua judul tersebut
menampilkan perawat dalam wajah horror “scary
movie”. Dimana tokoh utamanya seorang perawat yang menjadi hantu wanita
bergentayangan.
Banyak sekali pertanyaan di benak
saya yang akhirnya berkembang dan dikembangkan akibat sebuah sentilan dari
presentasi seorang teman. “Tidak kah mereka pernah dirawat? Pernah masuk rumah
sakit mungkin? jika bukan mereka keluarganya mungkin? Apakah itu dibuat
berdasarkan pengalaman mereka selama menerima perawatan dari seorang suster di
rumah sakit?”
Tidak dapat dilihatkah
bagaimana seorang perawat mampu berjaga semalaman hanya untuk memastikan
pasiennya dalam kondisi aman. Bagi orang lain yang dengan nyenyaknya dapat
tidur di kasur empuk di rumah mereka dengan selimut tebal yang melapisi tubuh,
perawat sibuk mengecek tetesan infuse hanya agar pasien tidak kekurangan
cairan.
Sangat disayangkan sekali
jika stigma masyarakat kepada perawat masih sangat buruk. Sebagai seorang
perawat meskipun saya tidak bekerja di rumah sakit, tetapi saya juga lulusan keperawatan
dan saya seorang perawat pendidik yang berusaha mendidik perawat-perawat baru yang
nantinya akan bekerja merawat masyarakat dengan sepenuh hatinya. Sama dengan
profesi lainnya. untuk menjadi seorang Nurse
profesional kami harus menempuh 5 tahun perkuliahan. Empat tahun kami habiskan
dengan perkuliahan di kampus dan klinik (rumah sakit) untuk berpraktik agar
kami bisa lulus Sarjana Keperawatan (S. Kep) dan 1 tahun berikutnya kami habiskan
wakrtu pendidikan dengan berpraktik di rumah sakit.
Dalam kurikulum kami, yang kami
utamakan adalah bagaimana kami mampu memenuhi kebutuhan dasar manusia dengan
kompetensi-kompetensi yang harus kami miliki. Kami membantu pasien untuk
memenuhi kebuthan dasarnya. Kebutuhan dasar manusia menurut Herarki Maslow dari
buku Fundamental of Nursing antaralain
kebutuhan fisiologis dasar (oksigenasi, cairan, nutrisi, temperature,
eliminasi, tempat tinggal, istirahat, seksualitas), kebutuhan rasa ama dan
keselamatan (fisik dan psikologis), kebutuhan mencintai dan dicintai, kebutuhan
harga diri, dan kebutuhan aktualisasi diri pasien (Potter Perry, 2005). Ya…semua yang kami lakukan yang kadang disebut
sebagai pekerjaan “pembantu” adalah untuk memberikan pelayanan yang terbaik
kepada masyarakat. Kami melayani dengan hati, dengan kompetensi dan pengetahuan
yang kami miliki.
Bahkan untuk lulus menjadi
perawat yang punya caring dan
performa yang bagus saat kami akan lulus sarjana, kampus kami membekali kami
dengan “Pelatihan Dasar Pengembangan Diri untuk Perawat”. Yang isi di dalamnya
kami diajarkan mengenai; Pengembangan diri, kepercayaan diri, performa prima,
komunikasi efektif, public speaking, etiket bisnis, pelayanan prima dan total
performa.
Dalam kurikulum pembelajaran
kami, Kami juga diajarkan bagaimana harus berkomunikasi dengan baik dengan pembelajaran “Komunikasi
Terapeutik”. Sekedar informasi, komunikasi terapeutik adalah komunikasi
yang mendorong proses penyembuhan klien (Depkes RI, 1997). Dalam pengertian
lain mengatakan bahwa komunikasi terapeutik adalah proses yang digunakan oleh
perawat memakai pendekatan yang direncanakan secara sadar, bertujuan dan
kegiatannya dipusatkan pada klien. Komunikasi terapeutik termasuk komunikasi
interpersonal dengan titik tolak saling memberikan pengertian antara perawat
dengan klien.
Dapat dibayangkan bagaimana kami
diajarkan untuk menjadi perawat yang memiliki carring, attitude yang
baik, senyum, sopan, santun, berwibawa, tetap tampil cantik dan prima meskipun
badan letih tak berdaya. Semua itu kami dapatkan selama pendidikan kami. Begitu
lengkapnya semua pembelajaran kami hanya untuk memberikan pelayanan yang
terbaik bagi pasien dan mempercepat kesembuhan pasien, bukan untuk memperparah
kondisi pasien. Kami akan datang pada pasien dengan senyum termanis kami ^-^
bukan dengan wajah seram seperti hantu @-@.
Thank
to: Antoni
EFM (aku copas ide presentasinya mas Antoni), Dr. Retty, Ika Subekti (untuk
sarannya) dan teman-teman Emergensi Nursing UB.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar