MENEMUKAN JIWA YANG TEPAT
“Beda
ya nduk sama waktu pertama ketemu dulu.” Kalimat kedua yang diucapkannya di
pertemuan kami…
“Masak
mau jadi anak SMA terus…” jawaban bodoh yang keluar begitu saja dari bibirku
dan ku pamerkan senyum termanis yang ku punya yang berharap bisa membuatnya
berhenti untuk mengungkit masa-masa itu.
Canggung,
malu, gugup, tidak tahu lagi bagaimana aku menggambarkannya. Yaa… pertemuan
kedua setelah hampir 8 tahun lalu pertemuan pertama kami. Kami bertemu saat itu
ketika aku berencana melanjutkan studiku di tempat dia melanjutkan studi. Dan
mengingat saat itu, aku tidak bisa menggambarkan bagaimana kusutnya wajahku
dulu, culunnya anak SMA, dengan baju dan jilbab yang entah tabrak lari darimana
saja yang penting ada, dengan pipiku yang cubby…. Ooooh alangkah culunnya aku
dulu bila dibandingkan dengan dirinya yang sudah mulai bekerja di kantor
intansi pemerintah dengan gaji yang sangat fantastis saat ikut dan membuat ku
tertarik untuk masuk ke sana…
Dan
justru kalimat itu yang muncul yang dia ucapkan … sumpah, andai bisa kabur
detik itu juga, ingin menghilang aku rasanya.
Aku
sibuk mengatur bagaimana jantungku untuk tidak meloncat kesana kemari, ku
perhatikan laki-laki di depanku terlihat santai dengan ketenangan yang tak bisa
tergambarkan. Simple dan elegan… dan itu yang membuatnya menarik dan yang
selalu ku suka ketika melihat seseorang… tidak banyak tetek bengek yang dia
kenakan, celana jins, hem pendek polo simple berkerah sanghai dengan sepatu
cats… menarik untuk dilihat.
“Cuma
aku agaknya yang salah tingkah”. Batinku sambil membolak balik ponsel yang ku
pegang. “Please dunk Ra… jangan bikin malu”. Ocehan-ocehan setan jahat dan malaikat
baik di otakku makin membuatku gugup.
Beberapa
menit awal kami hanya diam sambil menunggu pelayan mengantarkan menu untuk
kami. Hari itu Waroeng Steak and Shake tempat kami makan cukup ramai… Aku
mengajaknya ke sana karna tidak ada tempat lain yang ku kenal di kota ini,
padahal sudah hampir satu tahun aku berada di Malang, tapi tak satupun tempat
makan enak nyaman untuk makan dan ngobrol di pertemuan pertama yang aku tahu
karna aku tidak pernah keluar. Dan dia Oke-oke saja meskipun awalnya sempat
protes dan kurang setuju, dengan sedikit memaksa ku sampaikan bahwa aku ingin
makan steak, dan hasilnya disini kami sekarang.
Tanpa
basa basi dan sungkan dia minta dipesankan Blackpaper dan lemon squash yang
sama dengan pilihanku saat pelayan datang mengantarkan menu. Entah memang dia
mau ikut-ikut ataukah memang itu menu faforitnya aku tidak tahu… tapi aku suka
gayanya yang apa adanya, tidak canggung dan tidak malu. Mungkin disesuaikan
dengan umurnya yang beda 4 tahun dariku itu berarti 29 tahun umurnya. Aku tahu
umurnya saat pertemuan kami pertama dulu ternyata dia alumni SMP yang sama
denganku. Hanya saat aku masuk SMP dia sudah lulus 1 tahun dari SMP itu.
“Kok
bengong.” Ucapnya mengagetkanku setelah kami selesai memesan menu dan menunggu
pelayan mengantarkan pesanan kami.
“Jadi,
gimana kabarnya Om…” Tanyaku basa basi, pertanyaan bodoh ku rasa. For your information, itulah panggilanku
ke dia. Karna entah dari mana dari keluarga mbah buyut atau apalah aku gak
ngerti gimana silsilahnya, aku memanggil kakak perempuannya dengan sebutan
tante, jadilah aku memanggilanya Om. Ku rasa itu panggilan yang tepat saat itu
karna kami tidak pernah bersapa ria dengan baik sebelumnya.
“Loh kok
senyum?” Tanya ku bingung ketika bukan jawaban yang ku dapat justru senyum
manis yang super manis yang ngebuat ku meleleh. “Ya Allah… ada ya Engkau
menciptakan mahluk se manis dan se keren ini.” Batinku dalam hati terpesona
melihat sederetan gigi putih yang ia pamerkan di sela senyum manisnya.
“Hisss…
jangan senyum-senyum terus gitu dunk… Makin salting nie.” Kalimat itu keluar
begitu saja melihat laki-laki di depanku yang senyum-senyum sambil
memperhatikan semua tingkahku. Ku pasang wajah jutekku dan ku alihkan
pandanganku melihat sekeliling kami.
“Jelek
kalo ngambek nduk.” Usapan lembut itu kurasakan di kepalaku dari telapak
tangannya. Spontan pandanganku langsung berhenti tepat di matanya. Senyum itu,
tatapan itu, mata itu.. semuanya ada didirinya… Hangat, melindungi, dewasa,
tenang.
“OMG….
Gila ya nie cowok. Gak ngerti apa aku lagi ngatur giamana perasaanku dan justru
dia mau bikin jantungku bener-bener berhenti dengan sikapnya kali ini. Aku
jamin wajahku merah kuning hijau bak tomat di rebus, di kukus…” Makin salting
aku dibuatnya… bener-bener dia tahu gimana memanfaatkan pesonanya.
“Jangan
panggil Om dunk tua banget, panggil aja Kakak atau Mamas. Lagian umur kita Cuma
beda 4 tahun.”
“Idiiih,
mau memudakan usia. Ayo ku antar ke toilet biar bisa liat di cermin gimana
kerutannya udah ada di semua wajahnya…” ucapku jahil.
Dan itu
membuatnya tertawa. Aku suka gayanya, tawanya, senyumnya, caranya menenangkanku…
Aku suka semua darinya. Sejauh ini belum ada nilai minus yang mampu
menguranginya. Dia tidak terlalu tampan, kulitnya coklat bersih, tapi dia
menarik untuk di pandang dan tidak membosankan saat bicara dengannya.
Suasana
mulai mencair, sambil menunggu pesanan kami datang kami ceritakan satu persatu tentang
kami masing-masing. Semua dari A sampai Z yang kami harap bisa menjadi awal
baik bagi hubungan kami nantinya. Tidak mengada-ada, hanya mencoba menyampaikan
apa yang perlu diketahui dari satu sama lain dan mempelajari karakter
masing-masing. Tidak akan cukup satu malam untuk saling mengerti, semuanya akan
berjalan berproses bersama menumbuhkan kepercayaan dari masing-masing dan
penerimaan satu sama lain.
Ya….
Laki-laki ini lah yang telah meminta keluarganya untuk datang ke kedua orang
tuaku dan memintaku sebagai istrinya. Aku bahkan tidak tahu semua itu. Tidak
pernah berkomunikasi dengannya sejak beberapa tahun lalu, bahkan disetiap
kesempatan kami ada di satu kota yang sama, tidak pernah terpikir olehku untuk
bertemu dengannya saat keluarganya dan keluargaku menyarankan untuk bertemu.
Ya…. Mungkin kami masih dengan masa lalu kami masing-masing sebelumnya. Tidak
perlu dibahas itu, itu lah masa lalu. Dan sekarang ia disini, di depanku
dihadapanku, untuk kami mengenal satu sama lain.
Aku
ingat beberapa hari lalu sebelum ia menghubungiku meminta bertemu, Mama
menelfonku.
“Dek,
baju yang mama suruh kamu jahit di Mbak Ayu udah jadi?”
“Sudah
ma… Kenapa?”
“Besok
di bawa ya waktu pulang libur lebaran.”
“Iya…
gak disuruh juga nanti Rara bawa Ma… kok tumben mama ngurusin baju-baju segala.
Agaknya sejak aku putus mama heboh banget ngurusin bajuku, wajahku,
penampilanku... gak biasanya ma..”
“Kamu
itu dek…”…. Dan bla bla blab la…….
Jadilah
aku bengong tingkat dewa entah kalimat apa lagi yang keluar dari mama sudah
tidak ku dengarkan lagi. Karna yang terekam di otakku adalah “Lebaran nanti
keluarganya tante Dian mau datang kesini, kamu inget adeknya yang dulu datang?
Dia mau ngelamar kamu.”
Air
mata itu menetes di pipiku… Selalu ada keajaiban di setiap doaku.
Dan
sekarang laki-laki itu ada di hadapanku, meminta bertemu secara langsung.
Tidak
banyak kata yang dia ucapkan saat pertama kali menghubungiku tak lama berselang
dari telfon mama yang memberitahukan tentangnya. Tidak banyak kalimat basa-basi,
hanya meminta untuk bertemu dan dia akan menjelaskan semuanya.
Ya…. Dan
dia di sini, di hadapanku… dia di depanku.
“Sudah
denger dari Bapak nduk?” Tanyanya setelah pesanan kami datang.
Tak
tau jawaban yang tepat harus ku berikan, senyum dan anggukan ku ku harap sudah
mewakili jawabanku. Dan ku lanjutkan kembali kegiatanku memotong daging di
hadapanku.
“Jadi,
sebelum keluarga kita melanjutkan secara resmi, aku ingin bertanya padamu apa kamu
mau jadi istriku?” Tanya nya begitu saja.
Kaget,
spontan langsung pandanganku ku alihkan dari potongan daging didepanku, ku
alihkan kepadanya, melihat ke arahnya.. dan ternyata sejak tadi dia
memperhatikanku dan dia belum menyentuh sama sekali makanannya.
Diam,
ku perhatikan wajahnya lekat, aku mencari kejujuran dalam matanya, berharap ku
dapat menemukan sebentuk harapan indah bagi kami kelak di dalam hatinya.
“Kamu
belum siap?” Tanyanya lagi, mungkin melihat responku yang diam sejak tadi.
“Bukan,
hanya gak nyangka aja kalo hari ini kita membahas itu.” Jawabku jujur dan ku
berikan senyum ku.
“Aku
tidak ingin memberikan janji banyak padamu dan mengumbar hal-hal yang mungkin
belum tentu dapat dilakukan. Lebaran kemarin aku ke rumahmu, tapi ternyata kamu
sudah berangkat ke Malang. Sebenarnya saat itu aku berencana mendekatimu, namun
yang ku dengar selama pemvbicaraan dengan keluargamu, kamu telah memiliki calon
suami. Dan akhirnya aku mundur. Baru satu bulan ini aku dengar dari Mbak Dian
kalau hubungan kalian berakhir. Mendengar itu spontan ku meminta Mbak Dian
untuk menanyakanmu pada Orang tuamu karna ku tak ingin terlambat. Aku rasa kita
sudah dewasa satu sama lain, aku tidak ingin hanya sekedar berkenalan,
menunjukkan kelebihan masing-masing, tanpa tahu arah dan tujuan. Aku sengaja
tidak mendekatimu lebih dulu, aku mencari informasi tentangmu dari kakakku. Dan
aku rasa kamu adalah perempuan yang ingin ku jadikan tempatku berbagi suka
dukaku.” Banyak kalimat yang diucapkannya, dan aku simak dengan baik semuanya. Melihat
setiap detail kejujuran dari kata-katanya.
“Aku
tahu kita tak banyak saling mengenal. Aku bukan orang yang pandai berbasa basi
atau melakukan pendekatan dengan wanita. Aku ingin kita saling mengenal setelah
ini, dan aku harap kita bisa melakukannya di sisa umur hidup kita dengan
kebersamaan kita.” Kalimat terakhirnya membuatku menahan nafas. Ada keyakinan
di sana. Ada kesungguhan yang aku lihat. Aku suka caranya menyampaikan
keinginannya… yang paling aku suka adalah sikapnya dengan langsung meminta
keluarganya menemui orangtuaku. Buatku itu cukup menunjukkan ia serius.
“Bisa
aku minta waktu?” Jawaban yang terlintas begitu saja.
“Ambilah
waktu selama yang kau inginkan dan aku akan menunggu.”
“Aku
hanya butuh waktu 3 hari untuk memutuskan. Tanyakanlah lagi 3 hari dari hari
ini. Dan aku akan menjawabnya. Aku hanya butuh waktu untuk memantapkan hatiku.”
“Dan
aku harap jawabanmu dalah “Iya”.”
Dan
aku hanya tersenyum… tak ada lagi percakapan serius yang kami bicarakan. Semua
percakapan mengalir. Tidak ada yang berlebihan darinya, aku tahu dia memiliki
segalanya, karir yang baik, rumah yang tidak terlalu besar tapi cukup untuk
membangun keluarga kecil yang aku impikan, dari keluarga baik-baik yang kami
kenal dekat yang hampir tidak ada celah dan cacat dari keluarganya, dan yang
paling penting untukku ku harap dia mampu menjadi imam bagiku itu lebih dari
cukup.
Semua
percakapan kami mengalir, dia supel, pandai bercanda, dan dari setiap kata-kata
yang diucapkannya menunjukkan kedewasaan pola pikirnya dan pengetahuannya yang
luas, tidak dibuat-buat. Tidak banyak bicara tapi dia cukup tahu apa yang harus
ia bicarakan.
Hari
itu kami akhiri pertemuan kami dengan dia mengantarku pulang dan dia kembali ke
penginapannya.
Bisa
dibayangkan, aku tidak dapat tidur hingga pukul 11 malam. Takut semua yang
terjadi hanya mimpi indah yang ketika ku bangun semuanya lenyap. Aku tidak
ingin kecewa kedua kalinya.
Ponsel
ku berbunyi tiba-tiba… sempat terkejut karna ku yakin tadi ku sedang melamun
ria. Melihat nama di layar, jantungku semakin berdetak tak menentu.
“Belum
tidur nduk?” Tanya suara di seberang yang ku tahu dialah yang menelfon.
“Belum,
gak bisa tidur.” Jawabku jujur.
“Apa
yang dipikirkan?”
“Banyak,
tapi gak tahu mana yang mau diselesaikan dulu.” Jawabku lagi.
“Tidurlah,
nanti sakit. Besok bangun pagi ya… Katanya mau temani aku ke Batu.”
“Iya
dah kalo gitu, Rara tidur dulu Mas.”
“Oke…
jangan lupa doa. Nite”.
Dan
telfon itu pun terputus,… berusaha ku pejamkan mata… dengan segala doa yang ku
ingat ku ucapkan dalam hatiku. Berharap semuanya adalah nyata bukan hanya angan
dan bayangan semata.
Ku percaya pada-Mu
Kuasa-Mu telah menghadirkannya dalam
kehidupanku
Biarkan mata ini terpejam sesaat
Dan ketika ku bangun
Jadikanlah mimpi indah ini nyata dalam
hidupku esok, lusa, nanti hingga akhir diri ini
Jawaban dari-Mu atas setiap bait doa
yang ku panjatkan pada-Mu