Sabtu, 14 September 2013

Kapan dan dengan siapa menikah?

Satu lagi pelajaran yang ku dapat hari ini. Mendengarkan, membaca, melihat dan merasakan berbagai hal yang ada disekitar yang belakangan ini sering menjadi fokusku. Ku harap tak ada yang luput dari pandanganku. Niat menulis bermula dari pertemuanku dengan seorang wanita yang bahkan tidak pernah ku kenal sebelumnya. Dia cantik, menarik, yg ku rasa di cukup berpendidikan dan dari keluarga yang ku rasa lebih dari cukup berada. Dia beberapa tahun lebih tua dari ku sekitar 27 tahun. Aku rasa dia cukup ramah dan terbuka. Dan akhir dari semuanya aku tahu bahwa dia hampir bercerai dengan umur pernikahan yang baru menginjak 3 tahun lebih. Tak banyak yang ku tau alasan alasannya, hanya ketidakcocokan dan keegoisan masing-masing menurutku sehingga tidak ada yang lebih salah dan tidak ada yang lebih benar.
Entah apa yang ada di otakku... pikiranku kemudian merekam setiap detail hal yang ku lihat dan ku dengar tentang sebuah pernikahan. Keputusan untuk kapan menikah.. dengan siapa kita menikah.. dan banyak lagi. 
Beberapa hal yang kupelajati dan ku harap kelak bisa menjadi bekalku. Kapan harus menikah bukan hanya ditentukan dari banyaknya pertanyaan orang-orang disekitar.. bukan dari desakan berbagai pihak agar segera menikah.. bukan juga sekedat gengsi untuk memiliki pasangan. Tetapi lebih dari itu. Kapan harus menikah perlu dipertimbangkan dan dipirkirkan dengan baik.. siap tidak secara lahir dan batin untuk benar-benar memiliki komitmen, bertanggung jawab, konsisten dan menjaga pernikahan itu kelak. Karna satu kali keputusan untuk seumur hidup dampaknya. 
Dengan siapa harus menikah? Itu pertanyaan yang perlu dijawab dengan baik ku rasa. Munafik jika setiap orang tidak mendambakan pasangannya cantik, tampan, berpendidikan, mapan, soleh, dan segala kriteria manusia sempurna. Tapi kadang justru itu yang membayangi kita dan membatasi kita untuk membuka diri dengan orang lain sehingga kita melupakan arti dari penciptaan respect terhadap orang lain. Aku belajar bukan dengan siapa kita haru menikah... apakah dengan orang yamg kita cintai.. ataukah dengan orang yang kita inginkan yang sesuai dengan kriteria kita... tapi aku belajar bahwa lebih dari itu... dengan siapa kita menikah bukan hanya dua individu yang bersatu tapi dua keluarga dua ego dua pikiran dua perasaan dua kemauan... yang bagaimana caranya harus mampu berjalan beriringan saling melengkapi satu sama lain. Orang yang tepat tidak akan pernah ditemukan jika kita tidak mengusahakannya... jodoh yang tepat tidak akan ada jika tidak saling menjaga dan memelihara. dan cinta yang tepat tidak akan lebih indah tanpa disertai komitmen dari masing masing individu untuk dapat menerima kelebihan dan kekurangan satu sama lain dan saling melengkapi. 
Membangun komunikasi yang baik, saling mengerti satu sama lain, menjaga, memelihara, menghormati, menyayangi.. dan dengan orang seperti itulah yang aku rasa ingin aku menikah. Tidak hanya untuk 1 atau 2 tahun. Tapi untuk seluruh sisa umur yang masih dan akan diberikan Allah ke kita. 
Goresan ini mungkin tak berharga... tapi mampu memberikan ketenangan dan belajar akan setiap detail kejadian yang ada.

Minggu, 30 Juni 2013

catatan kecil

Tinta hitam ku tak mampu menuliskan banyak. Catatan kecil yang selalu terekam dalam ingatanku coba kutulis rapi dalam hatiku. Semua yang terasa, terpikir dan terlintas. Diam, hanya itu yang bisa dilakukan. Tidak ingin dibenci dan tidak ingin membenci. Semua kenangan berusaha ditata rapi, serapi riindu yg tersimpan dalam hati. Hati ini tersenyum. Akan selaku tersenyum ketika melihat ia tersenyum.

Sabtu, 11 Mei 2013

MENEMUKAN JIWA YANG TEPAT (part 1)


MENEMUKAN JIWA YANG TEPAT

“Beda ya nduk sama waktu pertama ketemu dulu.” Kalimat kedua yang diucapkannya di pertemuan kami…
“Masak mau jadi anak SMA terus…” jawaban bodoh yang keluar begitu saja dari bibirku dan ku pamerkan senyum termanis yang ku punya yang berharap bisa membuatnya berhenti untuk mengungkit masa-masa itu.
Canggung, malu, gugup, tidak tahu lagi bagaimana aku menggambarkannya. Yaa… pertemuan kedua setelah hampir 8 tahun lalu pertemuan pertama kami. Kami bertemu saat itu ketika aku berencana melanjutkan studiku di tempat dia melanjutkan studi. Dan mengingat saat itu, aku tidak bisa menggambarkan bagaimana kusutnya wajahku dulu, culunnya anak SMA, dengan baju dan jilbab yang entah tabrak lari darimana saja yang penting ada, dengan pipiku yang cubby…. Ooooh alangkah culunnya aku dulu bila dibandingkan dengan dirinya yang sudah mulai bekerja di kantor intansi pemerintah dengan gaji yang sangat fantastis saat ikut dan membuat ku tertarik untuk masuk ke sana…
Dan justru kalimat itu yang muncul yang dia ucapkan … sumpah, andai bisa kabur detik itu juga, ingin menghilang aku rasanya.
Aku sibuk mengatur bagaimana jantungku untuk tidak meloncat kesana kemari, ku perhatikan laki-laki di depanku terlihat santai dengan ketenangan yang tak bisa tergambarkan. Simple dan elegan… dan itu yang membuatnya menarik dan yang selalu ku suka ketika melihat seseorang… tidak banyak tetek bengek yang dia kenakan, celana jins, hem pendek polo simple berkerah sanghai dengan sepatu cats… menarik untuk dilihat.
“Cuma aku agaknya yang salah tingkah”. Batinku sambil membolak balik ponsel yang ku pegang. “Please dunk Ra… jangan bikin malu”. Ocehan-ocehan setan jahat dan malaikat baik di otakku makin membuatku gugup.
Beberapa menit awal kami hanya diam sambil menunggu pelayan mengantarkan menu untuk kami. Hari itu Waroeng Steak and Shake tempat kami makan cukup ramai… Aku mengajaknya ke sana karna tidak ada tempat lain yang ku kenal di kota ini, padahal sudah hampir satu tahun aku berada di Malang, tapi tak satupun tempat makan enak nyaman untuk makan dan ngobrol di pertemuan pertama yang aku tahu karna aku tidak pernah keluar. Dan dia Oke-oke saja meskipun awalnya sempat protes dan kurang setuju, dengan sedikit memaksa ku sampaikan bahwa aku ingin makan steak, dan hasilnya disini kami sekarang.
Tanpa basa basi dan sungkan dia minta dipesankan Blackpaper dan lemon squash yang sama dengan pilihanku saat pelayan datang mengantarkan menu. Entah memang dia mau ikut-ikut ataukah memang itu menu faforitnya aku tidak tahu… tapi aku suka gayanya yang apa adanya, tidak canggung dan tidak malu. Mungkin disesuaikan dengan umurnya yang beda 4 tahun dariku itu berarti 29 tahun umurnya. Aku tahu umurnya saat pertemuan kami pertama dulu ternyata dia alumni SMP yang sama denganku. Hanya saat aku masuk SMP dia sudah lulus 1 tahun dari SMP itu.
“Kok bengong.” Ucapnya mengagetkanku setelah kami selesai memesan menu dan menunggu pelayan mengantarkan pesanan kami.
“Jadi, gimana kabarnya Om…” Tanyaku basa basi, pertanyaan bodoh ku rasa. For your information, itulah panggilanku ke dia. Karna entah dari mana dari keluarga mbah buyut atau apalah aku gak ngerti gimana silsilahnya, aku memanggil kakak perempuannya dengan sebutan tante, jadilah aku memanggilanya Om. Ku rasa itu panggilan yang tepat saat itu karna kami tidak pernah bersapa ria dengan baik sebelumnya.
“Loh kok senyum?” Tanya ku bingung ketika bukan jawaban yang ku dapat justru senyum manis yang super manis yang ngebuat ku meleleh. “Ya Allah… ada ya Engkau menciptakan mahluk se manis dan se keren ini.” Batinku dalam hati terpesona melihat sederetan gigi putih yang ia pamerkan di sela senyum manisnya.
“Hisss… jangan senyum-senyum terus gitu dunk… Makin salting nie.” Kalimat itu keluar begitu saja melihat laki-laki di depanku yang senyum-senyum sambil memperhatikan semua tingkahku. Ku pasang wajah jutekku dan ku alihkan pandanganku melihat sekeliling kami.
“Jelek kalo ngambek nduk.” Usapan lembut itu kurasakan di kepalaku dari telapak tangannya. Spontan pandanganku langsung berhenti tepat di matanya. Senyum itu, tatapan itu, mata itu.. semuanya ada didirinya… Hangat, melindungi, dewasa, tenang.
“OMG…. Gila ya nie cowok. Gak ngerti apa aku lagi ngatur giamana perasaanku dan justru dia mau bikin jantungku bener-bener berhenti dengan sikapnya kali ini. Aku jamin wajahku merah kuning hijau bak tomat di rebus, di kukus…” Makin salting aku dibuatnya… bener-bener dia tahu gimana memanfaatkan pesonanya.  
“Jangan panggil Om dunk tua banget, panggil aja Kakak atau Mamas. Lagian umur kita Cuma beda 4 tahun.”
“Idiiih, mau memudakan usia. Ayo ku antar ke toilet biar bisa liat di cermin gimana kerutannya udah ada di semua wajahnya…” ucapku jahil.
Dan itu membuatnya tertawa. Aku suka gayanya, tawanya, senyumnya, caranya menenangkanku… Aku suka semua darinya. Sejauh ini belum ada nilai minus yang mampu menguranginya. Dia tidak terlalu tampan, kulitnya coklat bersih, tapi dia menarik untuk di pandang dan tidak membosankan saat bicara dengannya.
Suasana mulai mencair, sambil menunggu pesanan kami datang kami ceritakan satu persatu tentang kami masing-masing. Semua dari A sampai Z yang kami harap bisa menjadi awal baik bagi hubungan kami nantinya. Tidak mengada-ada, hanya mencoba menyampaikan apa yang perlu diketahui dari satu sama lain dan mempelajari karakter masing-masing. Tidak akan cukup satu malam untuk saling mengerti, semuanya akan berjalan berproses bersama menumbuhkan kepercayaan dari masing-masing dan penerimaan satu sama lain.
Ya…. Laki-laki ini lah yang telah meminta keluarganya untuk datang ke kedua orang tuaku dan memintaku sebagai istrinya. Aku bahkan tidak tahu semua itu. Tidak pernah berkomunikasi dengannya sejak beberapa tahun lalu, bahkan disetiap kesempatan kami ada di satu kota yang sama, tidak pernah terpikir olehku untuk bertemu dengannya saat keluarganya dan keluargaku menyarankan untuk bertemu. Ya…. Mungkin kami masih dengan masa lalu kami masing-masing sebelumnya. Tidak perlu dibahas itu, itu lah masa lalu. Dan sekarang ia disini, di depanku dihadapanku, untuk kami mengenal satu sama lain.
Aku ingat beberapa hari lalu sebelum ia menghubungiku meminta bertemu, Mama menelfonku.
“Dek, baju yang mama suruh kamu jahit di Mbak Ayu udah jadi?”
“Sudah ma… Kenapa?”
“Besok di bawa ya waktu pulang libur lebaran.”
“Iya… gak disuruh juga nanti Rara bawa Ma… kok tumben mama ngurusin baju-baju segala. Agaknya sejak aku putus mama heboh banget ngurusin bajuku, wajahku, penampilanku... gak biasanya ma..”
“Kamu itu dek…”…. Dan bla bla blab la…….
Jadilah aku bengong tingkat dewa entah kalimat apa lagi yang keluar dari mama sudah tidak ku dengarkan lagi. Karna yang terekam di otakku adalah “Lebaran nanti keluarganya tante Dian mau datang kesini, kamu inget adeknya yang dulu datang? Dia mau ngelamar kamu.”
Air mata itu menetes di pipiku… Selalu ada keajaiban di setiap doaku.
Dan sekarang laki-laki itu ada di hadapanku, meminta bertemu secara langsung.
Tidak banyak kata yang dia ucapkan saat pertama kali menghubungiku tak lama berselang dari telfon mama yang memberitahukan tentangnya. Tidak banyak kalimat basa-basi, hanya meminta untuk bertemu dan dia akan menjelaskan semuanya.
Ya…. Dan dia di sini, di hadapanku… dia di depanku.
“Sudah denger dari Bapak nduk?” Tanyanya setelah pesanan kami datang.
Tak tau jawaban yang tepat harus ku berikan, senyum dan anggukan ku ku harap sudah mewakili jawabanku. Dan ku lanjutkan kembali kegiatanku memotong daging di hadapanku.
“Jadi, sebelum keluarga kita melanjutkan secara resmi, aku ingin bertanya padamu apa kamu mau jadi istriku?” Tanya nya begitu saja.
Kaget, spontan langsung pandanganku ku alihkan dari potongan daging didepanku, ku alihkan kepadanya, melihat ke arahnya.. dan ternyata sejak tadi dia memperhatikanku dan dia belum menyentuh sama sekali makanannya.
Diam, ku perhatikan wajahnya lekat, aku mencari kejujuran dalam matanya, berharap ku dapat menemukan sebentuk harapan indah bagi kami kelak di dalam hatinya.
“Kamu belum siap?” Tanyanya lagi, mungkin melihat responku yang diam sejak tadi.
“Bukan, hanya gak nyangka aja kalo hari ini kita membahas itu.” Jawabku jujur dan ku berikan senyum ku.
“Aku tidak ingin memberikan janji banyak padamu dan mengumbar hal-hal yang mungkin belum tentu dapat dilakukan. Lebaran kemarin aku ke rumahmu, tapi ternyata kamu sudah berangkat ke Malang. Sebenarnya saat itu aku berencana mendekatimu, namun yang ku dengar selama pemvbicaraan dengan keluargamu, kamu telah memiliki calon suami. Dan akhirnya aku mundur. Baru satu bulan ini aku dengar dari Mbak Dian kalau hubungan kalian berakhir. Mendengar itu spontan ku meminta Mbak Dian untuk menanyakanmu pada Orang tuamu karna ku tak ingin terlambat. Aku rasa kita sudah dewasa satu sama lain, aku tidak ingin hanya sekedar berkenalan, menunjukkan kelebihan masing-masing, tanpa tahu arah dan tujuan. Aku sengaja tidak mendekatimu lebih dulu, aku mencari informasi tentangmu dari kakakku. Dan aku rasa kamu adalah perempuan yang ingin ku jadikan tempatku berbagi suka dukaku.” Banyak kalimat yang diucapkannya, dan aku simak dengan baik semuanya. Melihat setiap detail kejujuran dari kata-katanya.
“Aku tahu kita tak banyak saling mengenal. Aku bukan orang yang pandai berbasa basi atau melakukan pendekatan dengan wanita. Aku ingin kita saling mengenal setelah ini, dan aku harap kita bisa melakukannya di sisa umur hidup kita dengan kebersamaan kita.” Kalimat terakhirnya membuatku menahan nafas. Ada keyakinan di sana. Ada kesungguhan yang aku lihat. Aku suka caranya menyampaikan keinginannya… yang paling aku suka adalah sikapnya dengan langsung meminta keluarganya menemui orangtuaku. Buatku itu cukup menunjukkan ia serius.
“Bisa aku minta waktu?” Jawaban yang terlintas begitu saja.
“Ambilah waktu selama yang kau inginkan dan aku akan menunggu.”
“Aku hanya butuh waktu 3 hari untuk memutuskan. Tanyakanlah lagi 3 hari dari hari ini. Dan aku akan menjawabnya. Aku hanya butuh waktu untuk memantapkan hatiku.”
“Dan aku harap jawabanmu dalah “Iya”.”
Dan aku hanya tersenyum… tak ada lagi percakapan serius yang kami bicarakan. Semua percakapan mengalir. Tidak ada yang berlebihan darinya, aku tahu dia memiliki segalanya, karir yang baik, rumah yang tidak terlalu besar tapi cukup untuk membangun keluarga kecil yang aku impikan, dari keluarga baik-baik yang kami kenal dekat yang hampir tidak ada celah dan cacat dari keluarganya, dan yang paling penting untukku ku harap dia mampu menjadi imam bagiku itu lebih dari cukup.
Semua percakapan kami mengalir, dia supel, pandai bercanda, dan dari setiap kata-kata yang diucapkannya menunjukkan kedewasaan pola pikirnya dan pengetahuannya yang luas, tidak dibuat-buat. Tidak banyak bicara tapi dia cukup tahu apa yang harus ia bicarakan.
Hari itu kami akhiri pertemuan kami dengan dia mengantarku pulang dan dia kembali ke penginapannya.
Bisa dibayangkan, aku tidak dapat tidur hingga pukul 11 malam. Takut semua yang terjadi hanya mimpi indah yang ketika ku bangun semuanya lenyap. Aku tidak ingin kecewa kedua kalinya.
Ponsel ku berbunyi tiba-tiba… sempat terkejut karna ku yakin tadi ku sedang melamun ria. Melihat nama di layar, jantungku semakin berdetak tak menentu.
“Belum tidur nduk?” Tanya suara di seberang yang ku tahu dialah yang menelfon.
“Belum, gak bisa tidur.” Jawabku jujur.
“Apa yang dipikirkan?”
“Banyak, tapi gak tahu mana yang mau diselesaikan dulu.” Jawabku lagi.
“Tidurlah, nanti sakit. Besok bangun pagi ya… Katanya mau temani aku ke Batu.”
“Iya dah kalo gitu, Rara tidur dulu Mas.”
“Oke… jangan lupa doa. Nite”.
Dan telfon itu pun terputus,… berusaha ku pejamkan mata… dengan segala doa yang ku ingat ku ucapkan dalam hatiku. Berharap semuanya adalah nyata bukan hanya angan dan bayangan semata.

Ku percaya pada-Mu
Kuasa-Mu telah menghadirkannya dalam kehidupanku
Biarkan mata ini terpejam sesaat
Dan ketika ku bangun
Jadikanlah mimpi indah ini nyata dalam hidupku esok, lusa, nanti hingga akhir diri ini
Jawaban dari-Mu atas setiap bait doa yang ku panjatkan pada-Mu










Rabu, 01 Mei 2013

-BELUM BERJUDUL-


“Permisi mbak, saya Rio.”
Kalimat itu tidak pernah ku lupakan pada pertemuan kami pertama kali siang tadi di kampus. Malu ketika ku mengingatnya…. Ekspresi bodoh yang memalukan , sangat memalukan.
“Mbak Arin?” sapanya lagi, namun ku masih diam memandangnya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Yaa… aku sampai hapal semua yang ia kenakan siang tadi karna perhatianku lekat padanya. Hem pendek merah marun polo yang ia padankan dengan celana jins simple dan sepatu cats membuat penampilannya semakin menarik. Tidak terlalu tampan, tapi dia menarik, suaranya berat dan senyumnya menawan… yaa  sangat menawan karna mampu membuatku diam. Perkenalan pertama yang memalukan… pikirku.
Dan tidak akan ku lupakan seumur hidupku kejadian hari ini. Aku tidak ingin memikirkan apa yang ada dibenaknya saat melihat reaksi ku tadi… bahkan uluran tangannya untuk berkenalan saja tidak ku hiraukan. Sangat memalukan reaksiku siang ini. Ku lihat ekspresinya berubah dan ia alihkan pandangannya ke baju dan segala yang ia kenakan…  Cepat-cepat ku Selesaikan kekagumanku padanya, dan ku terima uluran tangannya untuk berkenalan  dan dengan sekuat tenaga ku tutupi ke gugupanku.
Yaa… jadilah siang tadi kami berkenalan.
Ku putar lagi rekaman ingatanku siang tadi dalam percakapan kami.
“Saya Rio mbak… sorry, saya panggil mbak atau boleh Arin saja?” Tanyanya siang tadi.
“Arin saja sudah cukup kalau memang usianya di atas 25 tahun.” Jawabku.
"Ada yang bisa saya bantu?" Tanyaku padanya masih bingung dengan pertemuan kami.
Yaa…. Dan akhirnya kami lanjutkan pembicaraan kami di kantin kampus dan disana ia ceritakan tentang dirinya. Ia mengaku sebagai mahasiswa magister kenotariatan kampusku.. Ia mengatakan tertarik dengan tulisan-tulisanku di blog yang ku buat. Rio bahkan telah menerbitkan 2 novel hasil karyanya selama 2 tahun terakhir ini.  Jadilah kami hari itu membicarakan mengenai cerpen, novel dan penerbitan. Baru pertama bertemu namun, aku merasa nyaman berdiskusi dengannya. Dan pertemuan kami kami akhiri hari itu karna kelasku akan dimulai. 

BUS KU DATANG MENJEMPUTKU -Part 4-


Part 4

Kau bukan yang pertama bagiku
Kau bukan orang pertama yang mengisi hatiku
Kau bukan juga orang pertama mengusik mimpi dalam tidurku
Namun Ku ingin,
Kau yang terakhir ada di sana, berdiam lama hingga tubuh in tak bernyawa

Entah sudah berapa kali ia tuliskan kalimat itu di setiap lembar buku diarynya… ia ulang lagi, ia baca, ia perhatikan satu persatu kalimat yang ia buat… Lama ia diam hingga suara dering HP mengagetkannya…. Dilihatnya nomor yang tertera di layar… tidak ada nama di sana namun ia hapal betul dengan nomor itu sejak beberapa tahun lalu….
“Waalaikumsalam. Ada apa ton?” Tanya Keysa pada suara di seberang. Ditariknya nafas dalam-dalam.
“Oke besok kita ketemu di tempat biasa…”ucap Keysa lagi dan tak lama kemudian ia tutup telfonnya. Ia kembali diam, ditariknya nafasnya perlahan menenangkan hatinya. Ia baringkan kepalanya, terasa lelah sekali terutama setelah kejadian siang tadi saat dirinya dan Roni bertemu dengan Anton di klinik. Dan ia pun akhirnya tertidur…

Pagi-pagi sekali ia bangun dan hari ini ia meminta ijin untuk tidak masuk kerja dengan alasan ada sesuatu yang harus di urus di luar kota. Keysa bahkan meminta Roni untuk tidak menjemputnya. Yaa… hari ini Keysa akan pergi bersama Anton dan ia pun tidak memberitahu ibunya mengenai masalah ini.

“Aku antar Key?” Tanya Roni saat Keysa menelfonnya, dan Keysa bersikukuh untuk menolaknya dan tidak memberitahu Roni mengenai pertemuannya dengan Anton, yaa tidak saat ini batinnya. Keysa segera menjalankan mobilnya menuju tempat yang mereka janjikan.

“Akhirnya kau datang Key” ucap Anton saat dilihatnya Keysa telah tiba dipantai.
Keysa hanya tersenyum…
Anton mengajak Keysa menikmati pemandangan pantai seperti dulu saat mereka masih bersama. Bergandengan tangan, menikmati kehadiran masing-masing. Dan Keysa tidak menolak dengan semua itu. Ia tahu masih ada Anton di sana, di hatinya.
Hampir seharian mereka bersama, mengulang kembali memori kebersamaan mereka. Mengulang kembali setiap jengkal kenangan yang telah terlewati dan membayar jarak yang telah memisahkan mereka selama ini.
Hingga tanpa terasa hari sudah mulai hampir senja, mereka menghentikan kegiatan mereka. Mereka duduk berdampingan menatap matahari yang mulai meredupkan sinarnya.
Tak lama mereka memutuskan untuk pulang. Keysa menuju tempat mobilnya diparkir.
“Key, besok boleh aku menjemputmu di klinik?” Tanya Anton pada Keysa saat membukakan pintu mobil Keysa.
“Aku rasa, kita tahu posisi kita masing-masing Ton.” Jawab Keysa sambil tersenyum.
Dan Anton melepas Keysa hari itu.

Keysa jalankan mobilnya menuju rumah, dihidupkan kedua ponselnya selama perjalanan setelah seharian ia non-aktifkan. Ada 10 pesan masuk dari Roni yang berusaha mencarinya. Keysa sangat merasa bersalah pada Roni. Ingin sekali ia segera menghubungi Roni, namun ia  tunda karna akan lebih baik jika semua ia jelaskan setelah ia tiba di rumah. Ia segera memacu lebih cepat laju mobilnya agar segera sampai di rumah.

Tanpa diduga Roni ada di sana, duduk di teras rumahnya. Keysa terkejut melihat kehadiran Roni, namun entah kenapa ia merasa begitu merindukan Roni.
“Key,kamu baik-baik saja?” Tanya Roni saat melihat Keysa datang.
Keysa tidak segera menjawab, ia segera menghampiri Roni.
“AKu baik-baik kok. Kamu sudah dari tadi Ron?” Tanya Keysa yang kemudian duduk bersandar pada bahu Roni. Digenggamnya erat tangan Roni.
“Tanganmu dingin Key.” Ucap Roni.
Dan Keysa hanya tersenyum. Akhirnya mereka duduk berdua. Roni tidak ingin mendesak Keysa lebih dari itu, karna ia tahu Keysa tidak bisa didesak meskipun ia ingin sekali melakukannya.
Dan itu yang Keysa suka dari Roni, kesabarannya. “Ron, maaf. Tidak saat ini aku menceritakannya.” Batin Keysa.
Cukup lama mereka diam hingga akhirnya Roni memutuskan untuk pulang dan membiarkan Keysa bersih-bersih dan istirahat. Cukup baginya melihat Keysa baik-baik saja meskipun ia tahu ada yang Keysa sembunyikan darinya.

Malam itu Keysa kembali pada rutinitasnya lagi, mengisi diarynya.  
“Aku ingin menjadi satu-satunya wanita yang ada di hatimu, menjaga malammu dari mimpi burukmu, menjadi tempat mu bersandar melepas lelahmu, menjadi istri terbaik bagimu, merawat anak-anakmu…. Dan ijinkan aku menjadi milikmu, menjadi halal bagimu, hanya itu inginku… tidak lebih. Aku ingin menjadi milikmu.”
Selesai ia menulis, ia tutup bukunya dan kemudian ia tidur, berharap semuanya akan lebih baik.

Sejak pertemuan mereka, akhirnya Keysa mulai bertemu dengan Anton kembali tanpa sepengetahuan Roni. Perhatian Keysa mulai teralihkan dari Roni. Semuanya seperti rutinitas biasa. Roni tahu ada yang Keysa sembunyikan, namun ia menunggu Keysa sendiri yang menceritakannya. Hingga suatu hari ia mulai curiga pada Keysa karna sudah hampir satu minggu lebih Keysa seperti mulai menjauh darinya. Roni tahu ada yang tidak beres. Semakin lama ia mencoba bersabar, selama itu pula keinginannnya untuk mencari tahu semakin kuat.
Hingga akhirnya ia putuskan untuk mencari tahu sendiri. Benar dugaannya, Ia melihat Keysa bersama Anton di toko tas sebuah Mall.
Ingin rasanya Roni menghampiri mereka saat itu juga, namun ia  tahu tidak mungkin ia membuat kerusuhan di sana.
Keesokan harinya, Roni mencoba bersikap seperti biasa namun Keysa tidak juga menjelaskan apapun. Dan ketika beberapa hari kemudian Roni coba untuk mengikuti Keysa kembali, ternyata Keysa beberapa kali juga bertemu dengan Anton tanpa sepengetahuannya. Sejak saat itu, Roni mulai menghindari Keysa. 
Awalnya Keysa tidak menyadari. Satu dua hari ia masih belum  menyadari hingga hampir dua minggu ia merasa aneh karna Roni tidak pernah lagi datang menjemputnya dan ke rumahnya. Keysa tahu, ada yang tidak beres dalam hubungan mereka.
Ia putar kembali setiap rekaman yang hampir satu bulan ini terjadi antara mereka. Ia putar kembali semuanya, dan ia sadari, ia yang lebih dulu menjauh dari Roni sejak kehadiran Anton dalam hidupnya kembali. Keysa bertekad untuk menjelaskan semuanya pada Roni. Namun sayang, Roni memilih untuk mengikuti pelatihan manajemenen klinik bagi dokter klinik di Jakarta hingga satu minggu kedepan. Bahkan Keysa tidak mengetahui itu dan justru ia tahu dari teman-temannya yang lain. Awalnya Agus yang akan berangkat, namun ternyata Roni mengajukan diri untuk menggnatikan Agus.  
“Ron, kamu sudah sampai?” Tanya Keysa melalui telefon saat tahu Roni telah berangkat ke Jakarta sejak subuh tadi.
“Kenapa tidak kasih tahu aku kalau kamu pergi?” Protes Keysa.
“Masih pentingkah Key kita saling tahu kegiatan kita masing-masing?” Ucap Roni. Jawaban itu mampu membuat Keysa terdiam. Ia tahu Roni telah mengetahui semuanya. Keysa tahu ada yang tidak beres akibat perbuatannya.
“Ron, kapan kamu balik? aku mau bicara.”
“Satu minggu lagi aku selesai. Aku usahakan segera pulang setelah itu. Aku tidak janji.” Ucap Roni datar. Dan kemudian berusaha mengakhiri percakapan mereka.
Keysa masih terdiam merasakan perubahan sikap Roni. Ia tahu semua salahnya, dan harus segera ia bereskan. Ia tidak bisa menunggu lama, apalagi satu minggu lagi ia harus menerima sikap Roni yang dingin kepadanya. Baru saja dua hari Roni pergi, Keysa sudah seperti orang kebakaran jenggot. Ditambah lagi Roni yang tidak memberikan kabar padanya. Dan akhirnya ia putuskan untuk menyusul Roni ke Jakarta. 

Sabtu, 20 April 2013

BUS KU DATANG MENJEMPUTKU (part 3)


Seharian Roni menghindarinya, Keysa tahu itu. Setiap ia coba mendekati, selalu ada alasan bagi Roni untuk menghindarinya. Roni yang biasanya ceria dan hampir dapat dibilang banyak bicara, hari ini lebih banyak diam. Mbak Laras yang merasakan perubahan Roni sempat menanyakannya pada Keysa, namun Keysa hanya tersenyum dan menunjukkan bahwa tidak terjadi masalah. Dan Perawat itu pun tidak melanjutkan pertanyaannya.
Hal ini terus berlangsung hingga jam praktik mereka selesai. Keysa sangat merasa bersalah, ditambah ia tahu Anton menunggunya untuk pulang bersama.
Dilihatnya jam tangannya menunjukkan pukul 15.00 WIB. Keysa memutuskan menghampiri Roni, karna tidak seperti biasanya Roni belum datang ke ruangannya untuk mengajak pulang. Dia ketuk ruangan Roni, tidak ada sahutan dari dalam. Dibukanya pintu ruangan, dilihatnya Roni sedang membaringkan kepalanya bersandar pada kursi kerjanya sambil menutup mata. Didekatinya Roni.
“Ron, sudah jam pulang. Kamu sakit?” Tanya Keysa sambil menyentuh pundak Roni.
Roni yang sejak tadi tahu kedatangan Keysa masih tetap diam.
Keysa diam, berdiri di dekat Roni, tidak tahu harus bicara apa.
“Kamu pulang denganku.” Ucap Roni tiba-tiba sambil menatap Keysa lekat pada manik matanya.
Keysa terkejut mendapat perlakuan yang tiba-tiba dari Roni. Keysa yang bingung menemukan jawaban karna masih kaget, hanya diam gugup.
“Key, itu bukan pertanyaan, itu pernyataan.” Ucap Roni kemudian melihat ekspresi diam Keysa. Keysa masih diam mematung terkejut. Lama Keysa diam mematung mendapatkan tatapan dari Roni. Ya… tatapan itu yang membuat Keysa merasa Roni mencintainya. Tatapan itu membuat Keysa luluh hatinya. Ia seperti merasa diperintah dan dilindungi sekaligus.
Lama menunggu respon Keysa, Roni segera menyambar tasnya dan menggandeng tangan Keysa ke luar ruangan. Keysa hanya menurut. Ia tahu, inilah sikap Roni yang ia sukai. Ia balas genggaman tangan Roni dengan kuat.
Melihat respon Keysa, Roni sempat melihat ke arah Keysa sekilas dan ia lihat senyum itu mengembang dari sudut bibir Keysa. Roni tahu apa yang harus ia lakukan saat ini. Keysa miliknya, dan tidak akan pernah ia lepaskan untuk kesekian kalinya. Itu pikirnya.
“Mbak Laras, kami pulang duluan.” Sapa Roni pada perawat kesayangan mereka ketika dilihatnya Laras masih sibuk dengan beberapa catatannya.
Laras yang melihat Roni dan Keysa membalas mereka dengan senyum dan lambaian tangan.
Keysa dan Roni segera keluar klinik disambut sapaan hangat dari Pak Ahmad yang selalu dengan senang hati membukakan pintu bagi mereka.
“Terimakasih Pak.” Ucap Keysa tulus membalas bantuan Pak Ahmad disertai senyum dari Roni.
Mereka kemudian segera menuju tempat parkir. Namun terlambat,
“Key, kamu pulang sama aku.?” Tanya Anton tiba-tiba mengagetkan mereka sebelum Roni sempat membukakan pintu untuk Keysa, Anton datang menghampiri mereka. Mereka segera melihat ke arah sumber suara yang berada tepat dibelakang mereka.
Di sana Anton berdiri, menunggu jawaban Keysa untuk pulang bersamanya.
Keysa diam mematung. “Ini dia yang bikin aku mati cepet.” Rutukny dalam hati.
“Key, aku sudah menunggumu sejak tadi.” Ucap Anton lagi.
Keysa tidak menjawab. Diam dilihatnya dua laki-laki dihadapannya. “Andai Kau berikan aku ilmu menghilang Ya Allah, ijinkan ku menghilang dari kedua laki-laki ini untuk sesaat saja.” Batinnya dalam hati.
Mereka bertiga kemudian saling diam beberapa saat hingga akhirnya Roni tetap membukakan pintu untuk Keysa tanpa memperdulikan ucapan Anton.
“Key, kita pulang sekarang.” Ucap Roni datar sambil tersenyum ke arah Keysa setelah pintu mobil terbuka. Dan Keysa mengangguk.
Anton mencegah mereka dengan memegang lengan Keysa cukup kuat.
“Key… please.” Ucap Anton.
Keysa yang terkejut sempat menjerit kesakitan. Roni yang melihat sikap Anton segera menggengam tangan Anton yang masih berada di lengan Keysa.
“Singkirkan tanganmu. Dengan cara itu kamu menunjukkan sikap gentle mu dengan menyakiti perempuan?” ejek Roni pada Anton disertai senyum sinisnya, ditatapnya tepat di manik mata Anton. Mereka saling memandang dengan perasaan masing-masing.
“Lepaskan tanganmu.” Ucapnya lagi saat Anton tak juga bergeming dan ditepiskannya tangan Anton dari lengan Keysa. Keysa masih diam dan hampir melupakan rasa sakit yang ada dilengannya. Ia justru tegang melihat dua laki-laki didepannya yang berdiri saling berhadapan.
Anton memandang Roni dengan penuh kebencian, begitu juga dengan Roni.
“Dengar, saya tidak perduli apapun urusanmu dengan Keysa dan apa yang belum selesai dari kalian. Keysa pergi dengan saya dan pulang dengan saya. Jika kamu ingin membawanya, pergilah ke rumahnya dan ijinlah dengan kedua orang tuanya.” Kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Roni.
Anton yang masih diam tiba-tiba raut wajahnya berubah saat Roni menyebut kata kedua orang tua Keysa. Anton sedikit limbung, Roni tahu dengan pasti kelemahannya saat ini bahwa ia tak berani menghadapi orang tua Keysa karna kesalahannya dulu.
Roni yang tahu dirinya menang segera membimbing Keysa untuk masuk ke dalam mobil dan Keysa menurutinya. Dan ia sendiri segera pergi memasuki mobil. Mereka meninggalkan Anton yang masih diam melihat kepergian mereka.   
Sepanjang perjalanan mereka berdua diam. Keysa masih sibuk menenangkan hatinya. Sedangkan Roni hanya ingin menunggu reaksi dari Keysa. Tanpa Keysa sadari Roni tidak mengarahkan laju mobilnya ke rumah Keysa.
“Ron, kok kita di pantai.” Ucap Keysa tiba-tiba saat ia sadar dan melihat jalan yang mereka lalui sebagian besar adalah pantai.
“Kamu melamun sejak tadi dan baru sadar.” Balas Roni, dan Keysa kembali diam merasa bersalah. Ia sibuk dengan pikirannya sendiri sejak tadi hingga ia tidak memperhatikan laki-laki di sebelahnya.
Setelah tiba di pantai Roni segera memarkir mobilnya. Kemudia ia keluar, mengahampiri pasir pantai yang diterjang ombak kecil. Ia lepaskan sepatunya dan ia angkat sedikit celananya agar tidak basah. Ia tinggalkan Keysa sendiri dalam mobil. Ia berikan waktu Keysa untuk sendiri.
Keysa masih diam tidak tahu harus berbuat apa. Cukup lama Keysa memperhatikan tingkah Roni dari dalam mobil. Dan akhirnya ia putuskan untuk menemui Roni ketika diperhatikannya Roni sudah duduk di tepi pantai berhenti bermain-main dengan ombak.
Keysa duduk di sebelah Roni. Mereka sama-sama diam. Tidak ada yang bicara cukup lama. Dan kondisi ini benar-benar menyiksa Keysa. Akhirnya Keysa menyerah.
“Ron, kamu kecewa padaku?” Tanya Keysa kemudian tanpa memandang wajah Roni. Diperhatikannya pemandangan di depannya untuk menenangkan hatinya dan mengalihkan kecanggungan mereka.
Roni tidak segera menjawab. Dilihatnya Keysa sekilas dan dialihkan kembali perhatiannya pada ombak yang masih sibuk bercengkrama dengan pasir.
“Ron, aku minta maaf.” Ucap Keysa lagi dipandangnya wajah Roni dari samping. Diperhatikannya lekat…
Melihat sikap Keysa, Roni hanya tersenyum. Dan membuat Keysa semakin bingung.
“Ron, kenapa kamu malah senyum?” Tanya Keysa bingung.
“Gak ada yang perlu dimaafkan.” Jawab Roni singkat. Ditatapnya mata Keysa sambil diusapnya lembut kepala Keysa.
Pandangan itu meneduhkan Keysa. Pandangan itu membuat Keysa jatuh hati pada Roni.
“Key, aku tau apa yang harus aku lakukan.” Ucap Roni pada Keysa mantap, ditatapnya wajah perempuan disebelahnya lekat. Senyum itu mengembang dari bibirnya. Kemudian dialihkan perhatiannya kembali pada ombak dan pasir pantai yang masih berkejar-kejaran.
Keysa semakin bingung dengan ucapan Roni, namun ia tidak ingin menanyakan lebih lanjut. Keysa tahu dengan pasti Roni mencintainya.
Keysa mengikuti arah pandangan Roni dan ia sandarkan kepalanya pada bahu Roni dan dipeluknya erat lengan Roni.
Terlihat sebuah senyum dari sudut bibir Roni, diusapnya lembut kepala Keysa.
“Aku ingin kamu di hatiku Ron, hanya kamu di sana nantinya. Dan ijinkan aku sekali ini saja untuk meyakinkan diriku bahwa hanya kamu di sana nantinya.” Ucap Keysa dalam hatinya.
Mereka kembali diam satu sama lain… 

BUS KU DATANG MENJEMPUTKU (Part 2)


Lama Keysa masih menatap pantulan dirinya di cermin. Dia perhatikan satu persatu semua titik di tubuhnya dan matanya tertuju pada bola mata yang ia miliki. Ia perhatikan dirinya lekat. Pikirannya kembali melayang pada hari-hari ia bersama Anton beberapa tahun silam. Ya… mata itu yang membuat Anton jatuh cinta kepadanya dengan segala kekurangan yang ada padanya dulu. Dan mata itu yang selalu ia suka dari dirinya karna dulu Anton menyukainya.
Kenangan itu terurai kembali dalam benaknya betapa ia masih mencintai Anton. Semuanya kembali sejak Anton datang menemuinya beberapa minggu lalu. Keysa tahu, dia tidak pernah membenci Anton selama ini. Bukan benci yang ia rasakan karna cinta itu masih disimpannya rapi dalam hatinya. Pikiran Keysa terus membuka memori-memori yang telah  ia simpan rapi. Hingga panggilan ibunya hampir tak didengarnya.
Keysa masih diam mematung di depan cermin dan sebuah ketukan dari arah luar kamar mengagetkannya.
Tok..tok..tok
“Key, kamu belum juga selesai?” Suara ibunya terdengar dari luar kamar.  
“Keysa, Roni sudah datang. Mau berapa lama lagi kamu berdandan?” Panggil ibunya dari luar kamar. Keysa terkejut, dialihkan pandangannya ke sumber suara di balik pintu kamarnya.
“Iyaa bu, Keysa bentar lagi keluar.” Jawabnya. Dengan tergesa-gesa ia tinggalkan kamarnya setelah mengambil tas dan beberapa barang yang akan ia bawa ke klinik.
Cepat-cepat ia buka pintu kamarnya, namun sudah tidak ada ibunya di sana. Segera ia keluar kamar dan menuju ruang makan karna Roni sudah ada di sana.
“Duuuh lamanya dandan bu dokter satu ini.” Ejek Roni setelah dilihatnya Keysa datang.
Keysa hanya tersenyum dan memberikan sedikit cubitan kecil pada Roni. Roni yang mendapatkan serangan tiba-tiba kontan saja berteriak kesakitan. Keysa tersenyum puas melihatnya.
Ibu Keysa yang sedang sibuk menyediakan sarapan hanya tersenyum melihat sikap mereka berdua. Setiap melihat kebersamaan mereka, Ibu Keysa selalu berdoa agar mereka segera dipersatukan. Sudah hampir beberapa minggu ini Roni selalu datang menjemput Keysa dan beberapa kali ikut sarapan bersama. Ayah dan adik-adik Keysa tidak keberatan dengan hal itu.
Roni cukup ramah dan pandai mengambil hati keluarganya. Adik-adiknya pun cepat sekali akrab dengan Roni. Ibu Keysa sudah jatuh hati pada Roni sejak Roni secara langsung menyampaikan padanya bahwa ia memiliki maksud terhadap Keysa. Namun saat itu Keysa belum merespon perhatian Roni. Ibunya tahu itu dan melihat kegigihan Roni dalam menaklukan hati anaknya.
Ruangan tiba-tiba hening. Ibu Keysa sibuk dengan kegiatannya. Roni dan Keysa sibuk menghabiskan makanan mereka.
“Ibu, bapak mana kok belum keluar untuk sarapan? Yang lain juga, kok sepi?” Tanya Keysa pada Ibunya memecah keheningan.
“Bapak tadi pagi-pagi sudah berangkat karena harus pergi ke luar kota. Ada yang harus diurus mengenai persidangan Bupati yang kemarin sempat tertunda. Adik-adikmu sudah berangkat ” Jawab Ibu Keysa yang kemudian duduk di sebelah Keysa.
“Ooow…” (Hanya suara itu yang keluar dari mulut Keysa mendengar penjelasan ibunya karena  mulutnya sudah penuh dengan makanan.
“Kelamaan sie, dandannya…” celetuk Roni tiba-tiba sambil memamerkan deretan giginya yang bersih dan rapi mengejek Keysa.
Keysa yang tidak terima mendapat ejekan dari Roni menendang kaki Roni dari bawah meja sembari menjulurkan lidahnya. Roni hanya kembali tersenyum mengejek Keysa, jadilah mereka saling serang.
Melihat kondisi itu, Ibu Keysa kemudian melerai mereka.
“Sudah-sudah, segera berangkat sana. Nanti kalian ditunggu pasien.” Ucap Ibu Keysa.
Mereka segera menyelesaikan sarapan mereka dan kemudian berpamitan menuju klinik. Selama perjalanan mereka asik membahasa banyak hal. Keysa selalu suka saat mengobrol dengan Roni. Tanpa di rasa mereka sudah tiba di parkiran klinik.  
Roni segera mencari lokasi untuk memarkir mobilnya, namun kemudian mendadak ia hentikan mobilnya. Keysa yang sejak beberapa menit lalu masih sibuk membaca beberapa brosur yang ia temukan di kursi belakang, terkejut.
“Innalillahi, Roni… Ada apa?” Tanya Keysa. Dilihatnya wajah Roni sedikit tegang.
Roni yang juga terkejut tidak dapat mengalihkan perhatiannya pada sesuatu yang baru saja dilihatnya tepat dihadapan mereka. Keysa yang bingung mengikuti arah pandangan Roni. Dan kali ini wajah Keysa lebih pucat dari Roni.
Keysa diam dengan ekspresi yang tidak dapat digambarkan. Roni segera menguasai dirinya dan berganti melihat ke arah Keysa. Segera ia kembali menghidupkan mesin untuk mencari lokasi parkir sebelum sosok yang mereka lihat benar-benar memperhatikan mereka.
Setelah mendapatkan tempat, Roni mematikan mesin mobilnya. Dilihatnya kembali Keysa yang masih diam. Lama ditunggunya beberapa saat namun sepertinya Keysa tidak sadar bahwa mesin mobil telah mati.
“Key, are you okay?” Tanya Roni memecah perhatian Keysa.
Keysa yang sempat melamun terkejut dengan panggilan Roni.
“Eeeeh…. Eeeee… Ya… I’m Ok.” Gugup Keysa menjawab tidak dapat menyembunyikannya.
“Kita keluar sekarang atau?” Tanya Roni kemudian, namun kalimat itu menggantung, ada nada kecewa di sana saat Roni melihat respon Keysa. Akhirnya mereka sama-sama diam dengan pikiran masing-masing.
Keysa benar-benar tidak menyangka Anton akan datang lagi dalam hidupnya setelah beberapa waktu lalu muncul kembali. Keysa coba menenangkan hatinya. “Ini gila.” Pikirnya.
Ia tarik nafas dalam-dalam, ia tenangkan hatinya seperti beberapa tahun lalu. Ia kembali menenangkan hatinya.
Roni yang sejak tadi ada di sebelah Keysa hanya memperhatikan. Ia menunggu Keysa dalam diam.
“Ron,” Panggil Keysa kemudian setelah ia yakin dengan hatinya.
“Ya…?” Jawab Roni yang sudah sejak tadi menunggu Keysa bersuara.
“Kita keluar sekarang yuk..” Ucap Keysa yakin kepada Roni. Roni yang sempat bingung hanya bisa mengangguk sembari tersenyum.
“Kamu sudah siap?” Tanya Roni, diusapnya lembut kapala Keysa.
Keysa mengangguk dan membalas senyum Roni yang mampu membuatnya tenang.
Akhirnya mereka keluar dari mobil dan berjalan ke arah klinik. Keysa menggandeng tangan Roni untuk menutupi kegelisahannya. Roni tahu itu, dan ia membiarkannya.
Pertemuan dengan Anton tentunya tak dapat dihindarkan Karena Anton yang sejak tadi telah mengetahui kedatangan mereka, sengaja menunggu Keysa.
“Key..” Panggil Anton setelah melihat Keysa dan Roni berada tidak jauh darinya.
Keysa yang berjalan di sebelah Roni kemudian melihat ke arah sumber suara membalas panggilan itu dengan senyum yang ia usahakan se normal mungkin.
“Hai Ton… sudah lama di sini?” Tanya Keysa kemudian.
Dilihatnya Anton cukup tenang, begitu juga dengan Roni. Keysa tidak tahu bahwa di dalam hati kedua laki-laki itu sedang berusaha menahan untuk tidak saling melemparkan serangan.
Mereka bertiga berdiri canggung satu sama lain. Jemari Keysa semakin erat menggenggam tangan Roni seakan takut terlepas. Iya… dia membutuhkan Roni saat ini untuk menenangkan hatinya. Dan Roni siap memberikan perlindungan padanya.
Anton melihat itu… perasaan ganjil kembali menyerangnya. Yaa… perasaan cemburu itu datang lagi dalam hatinya.
“Aku ada perlu denganmu Key, bisa kita bicara?” Tanya Anton kemudian tepat di hadapan Keysa dan Roni.
Mendengar itu, Keysa sempat terkejut segera dialihkan perhatiannya pada Roni untuk meminta persetujuan, namun Roni tidak memberikan jawaban pada tatapan Keysa. Roni sibuk menenangkan hatinya untuk tidak memberikan sedikit pelajaran pada Anton.
Keysa putus asa, kemudian di tatapnya kembali Anton.
“Maaf, pagi ini aku ada jadwal praktik.” Jawab Keysa kemudian…
Anton tidak menyerah, ia bersedia menunggu Keysa hingga Keysa selesai kerja.
Pada akhirnya Keysa tidak mengiyakan dan tidak juga menolak secara tegas permintaan Anton. Karna dia sendiri tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
Roni kecewa dengan jawaban Keysa, tapi dia tahu itu hak Keysa sepenuhnya. Mereka sejak dulu telah tahu posisi masing-masing. Dan Roni tidak akan melihat apa yang dilakukan laki-laki lain pada Keysa, tetapi dia akan melihat apa yang Keysa lakukan pada mereka.
Akhirnya Keysa dan Roni meninggalkan Anton dan memasuki klinik. Mereka berdua diam. Perlahan Roni mengendurkan pegangannya pada jemari Keysa, Keysa menyadarinya. Dan genggaman itu benar-benar terlepas ketika mereka telah ada di depan pintu klinik. Keys tahu dirinya ditelah menyakiti Roni. 

Selasa, 16 April 2013

-THE VOW-


THE VOW

Momen Benturan
Momen benturan terbkuti potensial menjadikan perubahan
Memiliki efek jauh melebihi yang bisa kita prediksi
Mengirim partikel-partikel yang bertabarakan
Membuat mereka lebih dekat dari sebelumnya
Sementara mengirim yang lainnya berputar-putar
Mendaratkan mereka ditempat dimana kau tidak akan pernah berpikir akan menemukan mereka
Itulah yang menarik mengenai momen seperti ini
Kau tidak bisa
Tak usah dihiraukan
Tak perduli betapa kerasnya kau mencoba, mengendalikan bagaimana itu akan
Kau hanya perlu membiarkan itu berjalan dengan sendirinya
Dan menunggu
Untuk benturan berikutnya

Aku berjanji untuk membuatmu mencintai ku
Untuk selalu memelukmu dengan kehangatan
Dan untuk memiliki kesabaran yang dibutuhkan oleh cinta
Dan untuk bicara saat kata-kata dibutuhkan
Dan untuk membagi keheningan saat kata-kata tidak dubutuhkan
Dan untuk setuju dan tidak setuju akan sesuatu
Dan untuk hidup dalam kehangatan hatimu, dan selalu menyebutnya rumah
Aku akan membahagiakan hatimu
Teruslah berada di sisiku bukan dengan fisikmu
Tapi dengan hatimu
Teruslah bahagia di sisiku
Terpatri lekat dalam hati dan ingatanku
Dan aku akan mengingatmu dengan memori baruku

Kamis, 11 April 2013

BUS KU DATANG MENJEMPUTKU (CerBung part 1)


BUS KU DATANG MENJEMPUTKU

Menemukan pendamping hidup layaknya menunggu sebuah bus… ada yang datang dan pergi, dan kita memiliki hak untuk memilih bus mana yang akan kita tumpangi yang akan membawa kita kesebuah tujuan, ataukah kita akan tetap bersabar menunggu bus yang kita nanti hingga ia benar-benar datang menghampiri.
“Key, kamu tidak secantik mereka. Tapi kamu akan membuat orang menatapmu karna itulah kamu”. Ucap Keysa pada pantulan dirinya di cermin. Ia kembangkan senyumnya. Seperti biasa pagi itu Keysa kembali menatap wajahnya di cermin, kebiasaannya beberapa tahun terakhir ini. Bukan untuk membanggakan dirinya, hanya untuk membangkitkan semangatnya.
Tak lama handphonenya berdering, dilihatnya wajah Roni di sana,senyum Keysa kembali mengembang.
“Assalamualaikum Ron..” ucap Keysa pada orang di seberang.
“Oke… aku sudah siap. Aku tunggu di rumah ya. Kamu sarapan di sini sekalian, tadi Ibu masak opor ayam kesukaanmu.” Ucap Keysa lagi kemudian setelah diam sejenak mendengar apa yang di sampaikan Roni di seberang dan kemudian ia akhiri percakapan mereka.
Roni, laki-laki yang dua tahun terakhir ini menemaninya. Menyediakan bahunya untuknya bersandar melepaskan penat dan kepedihannya.
Roni memberikan kursi utama dalam busnya setelah dirinya hampir lusuh layu berdiri di tepi  jalan tanpa perbekalan. Roni bukan bus asing baginya. Bus itu selalu datang menghampirinya, sejenak berhenti membuka pintunya lebar-lebar namun Keysa tetap tak paham dan kukuh menunggu busnya yang telah ia nanti hingga 6 tahun lamanya datang. Hingga akhirnya ia memilih untuk menyerah dan memilih menumpang pada bus lain yang bersedia mengantarkan Keysa pada tujuannya. Namun sayang, bukan bus Roni yang ia tumpangi, dan kesempatan Roni hilang kembali.
Bertahun-tahun Keysa menjadi penumpang setia pada bus yang ia tumpangi. Berharap bus itu akan sampai pada tujuannya. Seiring berjalannya waktu, sebelum ia sampai pada tujuannya, bus itu mendadak berhenti, memintanya turun karna tak mampu mengantarnya hingga ketujuan. Limbung Keysa turun, tak tau dimana ia berdiri, menepi karna perjalanan mereka telah cukup jauh untuk diakhiri. 
Diam Keysa terpaku pada tempatnya cukup lama, berharap bus itu akan menjemputnya kembali. Ia bertahan di sana. Namun, tak ada tanda-tanda ia kembali karna ia telah terus berjalan mengangkut penumpang-penumpang berikutnya menuju tujuan akhir mereka.
Tak ada perbekalan yang Keysa bawa, hanya keteguhan hati bahwa ia harus melanjutkan perjalanannya. Melanjutkannya sendiri, ia putuskan untuk tidak diam pada posisinya. Ia putuskan melangkahkan kaki pada jalanan yang berdebu dan berliku. Tekadnya hanya satu, sampai pada tujuannya. 
Dan saat itulah Roni bersama busnya datang menjemput. Membukakan kembali pintunya lebar-lebar. Menyediakan kursi utama baginya. Memberikan kenyamanan dan kehangatan yang mampu membuat Keysa betah di sana untuk mengobati lukanya.
“Ya… Bus ku telah datang menjemputku” ucap Keysa pada dirinya di cermin. Kembali ia memagut wajahnya sebelum ia keluar kamarnya.