Lama
Keysa masih menatap pantulan dirinya di cermin. Dia perhatikan satu persatu
semua titik di tubuhnya dan matanya tertuju pada bola mata yang ia miliki. Ia
perhatikan dirinya lekat. Pikirannya kembali melayang pada hari-hari ia bersama
Anton beberapa tahun silam. Ya… mata itu yang membuat Anton jatuh cinta
kepadanya dengan segala kekurangan yang ada padanya dulu. Dan mata itu yang
selalu ia suka dari dirinya karna dulu Anton menyukainya.
Kenangan
itu terurai kembali dalam benaknya betapa ia masih mencintai Anton. Semuanya
kembali sejak Anton datang menemuinya beberapa minggu lalu. Keysa tahu, dia
tidak pernah membenci Anton selama ini. Bukan benci yang ia rasakan karna cinta
itu masih disimpannya rapi dalam hatinya. Pikiran Keysa terus membuka
memori-memori yang telah ia simpan rapi.
Hingga panggilan ibunya hampir tak didengarnya.
Keysa
masih diam mematung di depan cermin dan sebuah ketukan dari arah luar kamar mengagetkannya.
Tok..tok..tok
“Key,
kamu belum juga selesai?” Suara ibunya terdengar dari luar kamar.
“Keysa,
Roni sudah datang. Mau berapa lama lagi kamu berdandan?” Panggil ibunya dari
luar kamar. Keysa terkejut, dialihkan pandangannya ke sumber suara di balik
pintu kamarnya.
“Iyaa
bu, Keysa bentar lagi keluar.” Jawabnya. Dengan tergesa-gesa ia tinggalkan
kamarnya setelah mengambil tas dan beberapa barang yang akan ia bawa ke klinik.
Cepat-cepat
ia buka pintu kamarnya, namun sudah tidak ada ibunya di sana. Segera ia keluar
kamar dan menuju ruang makan karna Roni sudah ada di sana.
“Duuuh
lamanya dandan bu dokter satu ini.” Ejek Roni setelah dilihatnya Keysa datang.
Keysa
hanya tersenyum dan memberikan sedikit cubitan kecil pada Roni. Roni yang
mendapatkan serangan tiba-tiba kontan saja berteriak kesakitan. Keysa tersenyum
puas melihatnya.
Ibu
Keysa yang sedang sibuk menyediakan sarapan hanya tersenyum melihat sikap
mereka berdua. Setiap melihat kebersamaan mereka, Ibu Keysa selalu berdoa agar
mereka segera dipersatukan. Sudah hampir beberapa minggu ini Roni selalu datang
menjemput Keysa dan beberapa kali ikut sarapan bersama. Ayah dan adik-adik
Keysa tidak keberatan dengan hal itu.
Roni
cukup ramah dan pandai mengambil hati keluarganya. Adik-adiknya pun cepat
sekali akrab dengan Roni. Ibu Keysa sudah jatuh hati pada Roni sejak Roni
secara langsung menyampaikan padanya bahwa ia memiliki maksud terhadap Keysa. Namun
saat itu Keysa belum merespon perhatian Roni. Ibunya tahu itu dan melihat
kegigihan Roni dalam menaklukan hati anaknya.
Ruangan
tiba-tiba hening. Ibu Keysa sibuk dengan kegiatannya. Roni dan Keysa sibuk
menghabiskan makanan mereka.
“Ibu,
bapak mana kok belum keluar untuk sarapan? Yang lain juga, kok sepi?” Tanya
Keysa pada Ibunya memecah keheningan.
“Bapak
tadi pagi-pagi sudah berangkat karena harus pergi ke luar kota. Ada yang harus
diurus mengenai persidangan Bupati yang kemarin sempat tertunda. Adik-adikmu
sudah berangkat ” Jawab Ibu Keysa yang kemudian duduk di sebelah Keysa.
“Ooow…”
(Hanya suara itu yang keluar dari mulut Keysa mendengar penjelasan ibunya
karena mulutnya sudah penuh dengan
makanan.
“Kelamaan
sie, dandannya…” celetuk Roni tiba-tiba sambil memamerkan deretan giginya yang
bersih dan rapi mengejek Keysa.
Keysa
yang tidak terima mendapat ejekan dari Roni menendang kaki Roni dari bawah meja
sembari menjulurkan lidahnya. Roni hanya kembali tersenyum mengejek Keysa, jadilah
mereka saling serang.
Melihat
kondisi itu, Ibu Keysa kemudian melerai mereka.
“Sudah-sudah,
segera berangkat sana. Nanti kalian ditunggu pasien.” Ucap Ibu Keysa.
Mereka
segera menyelesaikan sarapan mereka dan kemudian berpamitan menuju klinik.
Selama perjalanan mereka asik membahasa banyak hal. Keysa selalu suka saat
mengobrol dengan Roni. Tanpa di rasa mereka sudah tiba di parkiran klinik.
Roni
segera mencari lokasi untuk memarkir mobilnya, namun kemudian mendadak ia hentikan
mobilnya. Keysa yang sejak beberapa menit lalu masih sibuk membaca beberapa
brosur yang ia temukan di kursi belakang, terkejut.
“Innalillahi,
Roni… Ada apa?” Tanya Keysa. Dilihatnya wajah Roni sedikit tegang.
Roni
yang juga terkejut tidak dapat mengalihkan perhatiannya pada sesuatu yang baru
saja dilihatnya tepat dihadapan mereka. Keysa yang bingung mengikuti arah
pandangan Roni. Dan kali ini wajah Keysa lebih pucat dari Roni.
Keysa
diam dengan ekspresi yang tidak dapat digambarkan. Roni segera menguasai
dirinya dan berganti melihat ke arah Keysa. Segera ia kembali menghidupkan
mesin untuk mencari lokasi parkir sebelum sosok yang mereka lihat benar-benar
memperhatikan mereka.
Setelah
mendapatkan tempat, Roni mematikan mesin mobilnya. Dilihatnya kembali Keysa
yang masih diam. Lama ditunggunya beberapa saat namun sepertinya Keysa tidak
sadar bahwa mesin mobil telah mati.
“Key,
are you okay?” Tanya Roni memecah perhatian Keysa.
Keysa
yang sempat melamun terkejut dengan panggilan Roni.
“Eeeeh….
Eeeee… Ya… I’m Ok.” Gugup Keysa menjawab tidak dapat menyembunyikannya.
“Kita
keluar sekarang atau?” Tanya Roni kemudian, namun kalimat itu menggantung, ada
nada kecewa di sana saat Roni melihat respon Keysa. Akhirnya mereka sama-sama diam
dengan pikiran masing-masing.
Keysa
benar-benar tidak menyangka Anton akan datang lagi dalam hidupnya setelah beberapa
waktu lalu muncul kembali. Keysa coba menenangkan hatinya. “Ini gila.”
Pikirnya.
Ia
tarik nafas dalam-dalam, ia tenangkan hatinya seperti beberapa tahun lalu. Ia
kembali menenangkan hatinya.
Roni
yang sejak tadi ada di sebelah Keysa hanya memperhatikan. Ia menunggu Keysa
dalam diam.
“Ron,”
Panggil Keysa kemudian setelah ia yakin dengan hatinya.
“Ya…?”
Jawab Roni yang sudah sejak tadi menunggu Keysa bersuara.
“Kita
keluar sekarang yuk..” Ucap Keysa yakin kepada Roni. Roni yang sempat bingung
hanya bisa mengangguk sembari tersenyum.
“Kamu
sudah siap?” Tanya Roni, diusapnya lembut kapala Keysa.
Keysa
mengangguk dan membalas senyum Roni yang mampu membuatnya tenang.
Akhirnya
mereka keluar dari mobil dan berjalan ke arah klinik. Keysa menggandeng tangan
Roni untuk menutupi kegelisahannya. Roni tahu itu, dan ia membiarkannya.
Pertemuan
dengan Anton tentunya tak dapat dihindarkan Karena Anton yang sejak tadi telah
mengetahui kedatangan mereka, sengaja menunggu Keysa.
“Key..”
Panggil Anton setelah melihat Keysa dan Roni berada tidak jauh darinya.
Keysa
yang berjalan di sebelah Roni kemudian melihat ke arah sumber suara membalas
panggilan itu dengan senyum yang ia usahakan se normal mungkin.
“Hai
Ton… sudah lama di sini?” Tanya Keysa kemudian.
Dilihatnya
Anton cukup tenang, begitu juga dengan Roni. Keysa tidak tahu bahwa di dalam
hati kedua laki-laki itu sedang berusaha menahan untuk tidak saling melemparkan
serangan.
Mereka
bertiga berdiri canggung satu sama lain. Jemari Keysa semakin erat menggenggam
tangan Roni seakan takut terlepas. Iya… dia membutuhkan Roni saat ini untuk
menenangkan hatinya. Dan Roni siap memberikan perlindungan padanya.
Anton
melihat itu… perasaan ganjil kembali menyerangnya. Yaa… perasaan cemburu itu
datang lagi dalam hatinya.
“Aku
ada perlu denganmu Key, bisa kita bicara?” Tanya Anton kemudian tepat di
hadapan Keysa dan Roni.
Mendengar
itu, Keysa sempat terkejut segera dialihkan perhatiannya pada Roni untuk
meminta persetujuan, namun Roni tidak memberikan jawaban pada tatapan Keysa. Roni
sibuk menenangkan hatinya untuk tidak memberikan sedikit pelajaran pada Anton.
Keysa
putus asa, kemudian di tatapnya kembali Anton.
“Maaf,
pagi ini aku ada jadwal praktik.” Jawab Keysa kemudian…
Anton
tidak menyerah, ia bersedia menunggu Keysa hingga Keysa selesai kerja.
Pada
akhirnya Keysa tidak mengiyakan dan tidak juga menolak secara tegas permintaan
Anton. Karna dia sendiri tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
Roni
kecewa dengan jawaban Keysa, tapi dia tahu itu hak Keysa sepenuhnya. Mereka
sejak dulu telah tahu posisi masing-masing. Dan Roni tidak akan melihat apa
yang dilakukan laki-laki lain pada Keysa, tetapi dia akan melihat apa yang
Keysa lakukan pada mereka.
Akhirnya
Keysa dan Roni meninggalkan Anton dan memasuki klinik. Mereka berdua diam. Perlahan
Roni mengendurkan pegangannya pada jemari Keysa, Keysa menyadarinya. Dan genggaman
itu benar-benar terlepas ketika mereka telah ada di depan pintu klinik. Keys
tahu dirinya ditelah menyakiti Roni.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar