Kamis, 11 April 2013

“AKU” BUKAN TOKOH WANITA DALAM NOVEL ITU (CerBung part 1)


“AKU” BUKAN TOKOH WANITA DALAM NOVEL ITU

Seorang teman mendatangiku beberapa bulan lalu, tak banyak yang bisa ku lakukan padanya ketika ku lihat ia menangis. Hanya pelukan erat yang ku harap mampu memberikan ketenangan dan sedikit perlindungan tuk melepaskan semua bebannya. Tangisnya pecah, suaranya lirih hampir tak mampu ku dengar. Sayup ku dengar suaranya “Aku lelah, tak ada yang bisa ku banggakan lagi dari diriku”, dan kemudian ia menangis kembali.
Setengah terkejut dan bercampur kebingungan ku peluk ia semakin erat. Ku biarkan ia luapkan segala yang ia rasakan. Karna yang ku tahu, itu yang ia butuhkan, hanya pelukan perlindungan untuk sementara, bukan ucapan-ucapan menggurui lainnya dan menyalahkan apalagi rentetan pertanyaan yang ku yakin mampu membuatnya semakin tak tahu apa yang ia rasakan.
Sejenak tangisnya reda, ia mulai ceritanya satu-persatu. Ku simak dengan seksama. Ku dengarkan dengan baik, tanpa jeda. Tak ada yang ku lewatkan sedikitpun dari semua ucapnya. Ku peluk ia kembali, hanya itu yang bisa ku lakukan. Aku tak pandai menenangkan seseorang. Yang ku tahu berada di sisinya memeluknya dan dia tahu aku ada untuknya. Ku rasa, Sementara itu yang bisa ku lakukan dan semoga itu cukup menenangkan baginya.
Ceritanya mengingatkanku pada sebuah novel yang pernah ku baca dan hampir kulupakan “Tuhan, Ijinkan Aku Menjadi Pelacur”. Seorang teman merekomendasikannya padaku beberapa tahun silam., “Aku pikir cerita itu hanya ada di novel yang ku baca, tapi ternyata sahabatku sendiri mengalaminya” ungkapku padanya.
“Ya, mungkin kami sama… tapi aku tidak akan menjadi wanita itu, hanya masa laluku yang kelam yang sama, namun aku tidak akan berakhir sama dengannya. Aku berbeda dengan wanita itu, tapi terkadang aku merasa lebih hina. Jika tokoh wanita dalam novel itu memberikan kehormatannya pada seorang aktifis kampus yang selalu menggembar gemborkan dakwah dalam setiap ucapnya akibat kekecewaanya, maka aku berbeda. Justru aku merasa semakin hina karena ku memberikannya berlandaskan cinta.  Aku memberikan kehormatanku pada aktifis kampus yang selalu berdakwah dalam setiap status-status jejaring sosialnya. Aktifis kampus yang dikenal sebagai ketua sebuah himpunan mahasiswa di sebuah sekolah tinggi sawasta ternama.” Ungkapnya lirih, matanya berkaca-kaca. Tak banyak yang bisa ku lakukan, ku genggam tangannya, memeluknya... 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar