“AKU”
BUKAN TOKOH WANITA DALAM NOVEL ITU
Seorang teman
mendatangiku beberapa bulan lalu, tak banyak yang bisa ku lakukan padanya ketika
ku lihat ia menangis. Hanya pelukan erat yang ku harap mampu memberikan ketenangan
dan sedikit perlindungan tuk melepaskan semua bebannya. Tangisnya pecah,
suaranya lirih hampir tak mampu ku dengar. Sayup ku dengar suaranya “Aku lelah,
tak ada yang bisa ku banggakan lagi dari diriku”, dan kemudian ia menangis
kembali.
Setengah terkejut dan
bercampur kebingungan ku peluk ia semakin erat. Ku biarkan ia luapkan segala
yang ia rasakan. Karna yang ku tahu, itu yang ia butuhkan, hanya pelukan
perlindungan untuk sementara, bukan ucapan-ucapan menggurui lainnya dan menyalahkan
apalagi rentetan pertanyaan yang ku yakin mampu membuatnya semakin tak tahu apa
yang ia rasakan.
Sejenak tangisnya reda,
ia mulai ceritanya satu-persatu. Ku simak dengan seksama. Ku dengarkan dengan
baik, tanpa jeda. Tak ada yang ku lewatkan sedikitpun dari semua ucapnya. Ku
peluk ia kembali, hanya itu yang bisa ku lakukan. Aku tak pandai menenangkan
seseorang. Yang ku tahu berada di sisinya memeluknya dan dia tahu aku ada untuknya.
Ku rasa, Sementara itu yang bisa ku lakukan dan semoga itu cukup menenangkan
baginya.
Ceritanya
mengingatkanku pada sebuah novel yang pernah ku baca dan hampir kulupakan
“Tuhan, Ijinkan Aku Menjadi Pelacur”. Seorang teman merekomendasikannya padaku
beberapa tahun silam., “Aku pikir cerita itu hanya ada di novel yang ku baca,
tapi ternyata sahabatku sendiri mengalaminya” ungkapku padanya.
“Ya,
mungkin kami sama… tapi aku tidak akan menjadi wanita itu, hanya masa laluku
yang kelam yang sama, namun aku tidak akan berakhir sama dengannya. Aku berbeda
dengan wanita itu, tapi terkadang aku merasa lebih hina. Jika tokoh wanita
dalam novel itu memberikan kehormatannya pada seorang aktifis kampus yang selalu
menggembar gemborkan dakwah dalam setiap ucapnya akibat kekecewaanya, maka aku
berbeda. Justru aku merasa semakin hina karena ku memberikannya berlandaskan
cinta. Aku memberikan kehormatanku pada
aktifis kampus yang selalu berdakwah dalam setiap status-status jejaring
sosialnya. Aktifis kampus yang dikenal sebagai ketua sebuah himpunan mahasiswa di
sebuah sekolah tinggi sawasta ternama.” Ungkapnya lirih, matanya berkaca-kaca. Tak
banyak yang bisa ku lakukan, ku genggam tangannya, memeluknya...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar