“Aku tak akan bertanya
banyak padamu Key jika kau tak berkenan,” Ucapku padanya
“Terimkasih Sis, itu
yang ku butuhkan. Aku hanya ingin kau mendengarkan ku. Bagiku terserah pada
tanggapamu. Inilah aku.” Ucapnya kemudian, ku lihat matanya kosong menatapku.
Diam kami dengan pikiran
kami masing-masing. Aku tak bisa membayangkan jika aku menjadi dirinya. Namun
tak berani ku katakana padanya. Aku tak bisa marah padanya ataupun merutuknya
atas apa yang ia lakukan. Ini hidupnya pikirku, ia sudah dewasa.
“Sis…” ucapnya
tiba-tiba memecah kebisuan kami.
“Yups…, kenapa Key?” ku
alihkan perhatianku kepadanya.
“Kau membenciku?”
tanyanya kemudian.
“Atas dasar apa aku
membencimu?” ucapku bingung.
“Entahlah…” Jawabnya,
dan kembali menggantungkan pandangannya ke langit-langit kamarku.
Kami kembali diam…
bergelut dengan pikiran kami masing-masing. Tak lama ku dengar kembali isak
tangisnya. Ku biarkan ia mengeluarkan semua yang ia rasakan. Ku biarkan air matanya
jatuh dan berharap itu mampu melegakan hatinya. Sudah lama kami tidak bertemu
sejak perpisahan kami saat kami lulus kuliah dulu. Kami hanya saling bertukar
kabar melalui telefon dan itupun jarang sekali kecuali untuk mendiskusikan
beberapa hal dalam kehidupan kami. Kami bersahabat sejak kami duduk di bangku
sekolah dasar. Dan kami masing-masing
tau watak dan pribadi kami masing-masing. Sehingga tidak aneh bagiku ketika ia
datang padaku. Namun yang membuatku terkejut hanyalah apa yang dia ungkapkan.
Aku menyesalkan mendengar ini dari sahabat ku sendiri.
“Key…” ucapku padanya
kemudian. Ku lihat ia berbaring tepat di sebelahku, tatapannya masih kosong. Matanya
sedikit berkaca-kaca. Entahlah apa yang sekarag dipikirkannya. Aku berharap
bukan hal pendek yang dia pikirkan untuk dilakukan.
“Key,… apa rencanamu?” Tanya
ku padanya.
Dia diam, melihatku
sekilas dan kemudian kembali menatap ke langit-langit kamarku.
“Entahlah Sis. Beberapa
bulan ini aku mencari pelarian atas masalahku.” Jawabnya.
“Boleh aku bertanya
Key?” tanyaku hati-hati hanya berharap aku tidak menyinggungnya. Ku lihat ia mengangguk padaku.
“Kau yang
meninggalkannya, atau dia yang meninggalkanmu?” ku lanjutkan kalimatku. “Sudah
lama aku tidak mendengar kabarmu. Terakhir kita bicara, kau bilang kalian akan
segera menikah?”
Ia masih diam…ku tunggu jawabannya.
“Ia meninggalkanku Sis,
beberapa hari sebelum hari lamaran kami ia membatalkannya…” jawabnya singkat.
Bingung apa yang harus
ku katakan, kembali kami diam.
“Anton memutuskan untuk tidak melanjutkan
hubungan kami.” Ungkap Keysa memecah kebisuan kami. “Baginya, tak ada lagi aku
di dalam rencana kehidupannya kedepan. Ia sampaikan demi kebaikanku dan
keluargaku.”
“Aku masih tidak
mengerti Key..” ucapku bingung mendengar penjelasannya.
Keysa diam sejenak,
berusaha mengatur nafas. Mungkin pedih baginya harus mengingat setiap memori
yang menyakitkan baginya. Dan ku tak mendesaknya.
“Key, tak perlu kau
lanjutkan jika hatimu tak siap.” Ucapku padanya dan ku melihatnya mencoba
tersenyum kepadaku.
“Ia pergi meninggalkanku
dengan satu kata “Aku ingin pulang berkumpul dengan keluargaku, dan aku tidak
ingin mengajakmu. Tidak ada kamu di masa depanku. Pergilah mencari laki-laki
yang mampu menjadi imam terbaik untukmu, aku akan kembali untuk keluargaku.
Dengan kebersamaan kita maafkan aku.” Lanjut Keysa kemudian.
Ku dengarkan kembali
semua yang disampaikannya. Ku ubah posisiku agar ku dapat melihatnya dan
mendengarkannya lebih jelas. Ingin ku masuk ke dalam hatinya, membantu
mengobati luka itu.
“Dan semua kalimat itu
membuatku jatuh sakit berbulan-bulan Sis.” Ungkapnya lagi.
“Pil pahit yang harus
ku telan paksa. Cinta yang ku bangun berlandasakan janji, kejujuran yang
kupertahankan kepadanya untuk terus setia, komunikasi yang kami bangun. Dan semua
yang kumiliki ku serahkan padanya dan kini dia meninggalkanku dengan kata-kata
bijakanya untuk kembali berkumpul dengan keluarganya dan tidak akan membawaku
bersamanya. Semua mimpi yang ku bangun untuk menjadi sebuah keluarga dan menjadi
istri yang terbaik baginya semuanya hancur. Hilang…, habis sudah semuanya setelah
rencana-rencan pernikahan yang kami susun selama ini sejak kebersamaan kami
beberapa tahun silam.”
“Semakin habis semuanya
ketika ku lihat, tidak hanya untuk keluarganya ia kembali. Namun justru untuk
kebahagiaannya yang ia dahulukan. Belum juga ku sembuhkan hatiku, aku sudah
harus melihatnya mengumbar ucapan-ucapan doanya dan cinta kepada wanita lain.
Tiga minggu sejak perpisahan kami, ia sampaikan ketertarikannya pada seorang
wanita. Tidak mampu ku lupakan ketika ia tulis dalam sebuah statusnya mengenai
hubungannya dengan kekasihnya yang pertama sejak kami berpisah “Ya Allah jadikanlah niat kami untuk menuju Siratal Mustaqimmu”. Betapa
menyakitkannya ketika doa itu ditulisnya sebagai doanya dengan wanita lain Sis. Ingin rasanya ku terjun dari lantai teratas di klinik ku saat ku membaca itu.”
“Melihat itu, coba ku
sampaikan padanya untuk kembali padaku dan melihatku lagi. Namun ia tidak
bergeming”. “Kebahagiaanku aku sendiri yang menentukan, bukan kamu. Dan kamu tidak
bisa menjamin kebahagiaanku jika aku bersamamu. Aku sudah pada pendirianku
untuk tidak membawamu bersamaku karena kamu harus memikirkan keluargamu”.
Kalimat itu dia ucapkan ketika ku memintanya untuk kembali mencintaiku dan membawaku
bersamanya. Hatiku hancur, tangisku pecah, badanku limbung Sis, tak mampu
bergerak.”
“Semakin menyakitkan lagi
ketika harus menerima kenyataan ia berganti mengumbar kemesraanya dengan wanita
lain lagi ketika hubungannya dengan wanita pertama hanya bertahan sepuluh hari.
Dan satu minggu kemudian ia telah mengikat janji dengan wanita lain lagi,
wanita kedua setelah perpisahannya denganku.”
“Dalam waktu dua bulan
sejak kami berpisah, aku harus menerima dua kali juga ia berganti wanita. Kalimat-kalimat
di jejaring sosial yang menunjukkan doa-doa mereka menuju rencana pernikahan
dan foto-foto kemesraan mereka benar-benar membuatku semakin hancur.”
“Kembali ku memintanya
untuk melihatku, namun ia lagi-lagi tidak bergeming. Bahkan ia tidak pernah
bersedia untuk menemuiku sejak kami mengakhiri hubungan kami melalui telfon.
Ketika ku memintanya untuk mempertanggungjawabkan apa yang telah kami perbuat,
ia justru membentakku dan mamkiku. “Kamu ingin menarikku kembali kepadamu? Aku gak bisa, karna aku sudah melangkah jauh dengan wanita ini dan sudah sampai
ke tahap keluarga”. “Itu ucapnya padaku Sis.”
“Hanya itu kalimatnya
yang sempat ku dengar sebelum ku biarkan hatiku semakin hancur, tatapanku
kosong. Tak ada yang bisa ku lakukan selain menangis. Apalagi usahaku untuk
mempertahankannya. Bahkan hanya untuk sekedar memintanya bertemu dengan ku dan berpamitan pada keluargaku saja ia enggan. Habis sudah hatiku di
buangnya. Habis sudah hati keluargaku di singkirkannya. Semua kisah kami seakan
tidak ada lagi. Tidak lagi ada ia yang selama ini ku kenal begitu mencintaiku
Sis.”
Keysa kemudian diam. Air
matanya kembali mengalir melalui sudut matanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar