Kamis, 11 April 2013

“AKU” BUKAN TOKOH WANITA DALAM NOVEL ITU (CerBung part 2)


“Aku tak akan bertanya banyak padamu Key jika kau tak berkenan,” Ucapku padanya
“Terimkasih Sis, itu yang ku butuhkan. Aku hanya ingin kau mendengarkan ku. Bagiku terserah pada tanggapamu. Inilah aku.” Ucapnya kemudian, ku lihat matanya kosong menatapku.
Diam kami dengan pikiran kami masing-masing. Aku tak bisa membayangkan jika aku menjadi dirinya. Namun tak berani ku katakana padanya. Aku tak bisa marah padanya ataupun merutuknya atas apa yang ia lakukan. Ini hidupnya pikirku, ia sudah dewasa.
“Sis…” ucapnya tiba-tiba memecah kebisuan kami.
“Yups…, kenapa Key?” ku alihkan perhatianku kepadanya.
“Kau membenciku?” tanyanya kemudian.
“Atas dasar apa aku membencimu?” ucapku bingung.
“Entahlah…” Jawabnya, dan kembali menggantungkan pandangannya ke langit-langit kamarku.
Kami kembali diam… bergelut dengan pikiran kami masing-masing. Tak lama ku dengar kembali isak tangisnya. Ku biarkan ia mengeluarkan semua yang ia rasakan. Ku biarkan air matanya jatuh dan berharap itu mampu melegakan hatinya. Sudah lama kami tidak bertemu sejak perpisahan kami saat kami lulus kuliah dulu. Kami hanya saling bertukar kabar melalui telefon dan itupun jarang sekali kecuali untuk mendiskusikan beberapa hal dalam kehidupan kami. Kami bersahabat sejak kami duduk di bangku sekolah dasar.  Dan kami masing-masing tau watak dan pribadi kami masing-masing. Sehingga tidak aneh bagiku ketika ia datang padaku. Namun yang membuatku terkejut hanyalah apa yang dia ungkapkan. Aku menyesalkan mendengar ini dari sahabat ku sendiri.
“Key…” ucapku padanya kemudian. Ku lihat ia berbaring tepat di sebelahku, tatapannya masih kosong. Matanya sedikit berkaca-kaca. Entahlah apa yang sekarag dipikirkannya. Aku berharap bukan hal pendek yang dia pikirkan untuk dilakukan.
“Key,… apa rencanamu?” Tanya ku padanya.
Dia diam, melihatku sekilas dan kemudian kembali menatap ke langit-langit kamarku.
“Entahlah Sis. Beberapa bulan ini aku mencari pelarian atas masalahku.” Jawabnya.
“Boleh aku bertanya Key?” tanyaku hati-hati hanya berharap aku tidak menyinggungnya.  Ku lihat ia mengangguk padaku.
“Kau yang meninggalkannya, atau dia yang meninggalkanmu?” ku lanjutkan kalimatku. “Sudah lama aku tidak mendengar kabarmu. Terakhir kita bicara, kau bilang kalian akan segera menikah?”
Ia masih diam…ku tunggu jawabannya.
“Ia meninggalkanku Sis, beberapa hari sebelum hari lamaran kami ia membatalkannya…” jawabnya singkat.
Bingung apa yang harus ku katakan, kembali kami diam.
 “Anton memutuskan untuk tidak melanjutkan hubungan kami.” Ungkap Keysa memecah kebisuan kami. “Baginya, tak ada lagi aku di dalam rencana kehidupannya kedepan. Ia sampaikan demi kebaikanku dan keluargaku.”
“Aku masih tidak mengerti Key..” ucapku bingung mendengar penjelasannya.
Keysa diam sejenak, berusaha mengatur nafas. Mungkin pedih baginya harus mengingat setiap memori yang menyakitkan baginya. Dan ku tak mendesaknya.
“Key, tak perlu kau lanjutkan jika hatimu tak siap.” Ucapku padanya dan ku melihatnya mencoba tersenyum kepadaku.
“Ia pergi meninggalkanku dengan satu kata “Aku ingin pulang berkumpul dengan keluargaku, dan aku tidak ingin mengajakmu. Tidak ada kamu di masa depanku. Pergilah mencari laki-laki yang mampu menjadi imam terbaik untukmu, aku akan kembali untuk keluargaku. Dengan kebersamaan kita maafkan aku.”  Lanjut Keysa kemudian.
Ku dengarkan kembali semua yang disampaikannya. Ku ubah posisiku agar ku dapat melihatnya dan mendengarkannya lebih jelas. Ingin ku masuk ke dalam hatinya, membantu mengobati luka itu.
“Dan semua kalimat itu membuatku jatuh sakit berbulan-bulan Sis.” Ungkapnya lagi.
“Pil pahit yang harus ku telan paksa. Cinta yang ku bangun berlandasakan janji, kejujuran yang kupertahankan kepadanya untuk terus setia, komunikasi yang kami bangun. Dan semua yang kumiliki ku serahkan padanya dan kini dia meninggalkanku dengan kata-kata bijakanya untuk kembali berkumpul dengan keluarganya dan tidak akan membawaku bersamanya. Semua mimpi yang ku bangun untuk menjadi sebuah keluarga dan menjadi istri yang terbaik baginya semuanya hancur. Hilang…, habis sudah semuanya setelah rencana-rencan pernikahan yang kami susun selama ini sejak kebersamaan kami beberapa tahun silam.”
“Semakin habis semuanya ketika ku lihat, tidak hanya untuk keluarganya ia kembali. Namun justru untuk kebahagiaannya yang ia dahulukan. Belum juga ku sembuhkan hatiku, aku sudah harus melihatnya mengumbar ucapan-ucapan doanya dan cinta kepada wanita lain. Tiga minggu sejak perpisahan kami, ia sampaikan ketertarikannya pada seorang wanita. Tidak mampu ku lupakan ketika ia tulis dalam sebuah statusnya mengenai hubungannya dengan kekasihnya yang pertama sejak kami berpisah “Ya  Allah jadikanlah niat kami untuk menuju Siratal Mustaqimmu”. Betapa menyakitkannya ketika doa itu ditulisnya sebagai doanya dengan wanita lain Sis. Ingin rasanya ku terjun dari lantai teratas di klinik ku saat ku membaca itu.”
“Melihat itu, coba ku sampaikan padanya untuk kembali padaku dan melihatku lagi. Namun ia tidak bergeming”. “Kebahagiaanku aku sendiri yang menentukan, bukan kamu. Dan kamu tidak bisa menjamin kebahagiaanku jika aku bersamamu. Aku sudah pada pendirianku untuk tidak membawamu bersamaku karena kamu harus memikirkan keluargamu”. Kalimat itu dia ucapkan ketika ku memintanya untuk kembali mencintaiku dan membawaku bersamanya. Hatiku hancur, tangisku pecah, badanku limbung Sis, tak mampu bergerak.”
“Semakin menyakitkan lagi ketika harus menerima kenyataan ia berganti mengumbar kemesraanya dengan wanita lain lagi ketika hubungannya dengan wanita pertama hanya bertahan sepuluh hari. Dan satu minggu kemudian ia telah mengikat janji dengan wanita lain lagi, wanita kedua setelah perpisahannya denganku.”
“Dalam waktu dua bulan sejak kami berpisah, aku harus menerima dua kali juga ia berganti wanita. Kalimat-kalimat di jejaring sosial yang menunjukkan doa-doa mereka menuju rencana pernikahan dan foto-foto kemesraan mereka benar-benar membuatku semakin hancur.”
“Kembali ku memintanya untuk melihatku, namun ia lagi-lagi tidak bergeming. Bahkan ia tidak pernah bersedia untuk menemuiku sejak kami mengakhiri hubungan kami melalui telfon. Ketika ku memintanya untuk mempertanggungjawabkan apa yang telah kami perbuat, ia justru membentakku dan mamkiku. “Kamu ingin menarikku kembali kepadamu? Aku gak bisa, karna aku sudah melangkah jauh dengan wanita ini dan sudah sampai ke tahap keluarga”. “Itu ucapnya padaku Sis.”
“Hanya itu kalimatnya yang sempat ku dengar sebelum ku biarkan hatiku semakin hancur, tatapanku kosong. Tak ada yang bisa ku lakukan selain menangis. Apalagi usahaku untuk mempertahankannya. Bahkan hanya untuk sekedar memintanya bertemu dengan ku  dan berpamitan pada keluargaku  saja ia enggan. Habis sudah hatiku di buangnya. Habis sudah hati keluargaku di singkirkannya. Semua kisah kami seakan tidak ada lagi. Tidak lagi ada ia yang selama ini ku kenal begitu mencintaiku Sis.”
Keysa kemudian diam. Air matanya kembali mengalir melalui sudut matanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar