Seharian
Roni menghindarinya, Keysa tahu itu. Setiap ia coba mendekati, selalu ada
alasan bagi Roni untuk menghindarinya. Roni yang biasanya ceria dan hampir
dapat dibilang banyak bicara, hari ini lebih banyak diam. Mbak Laras yang
merasakan perubahan Roni sempat menanyakannya pada Keysa, namun Keysa hanya
tersenyum dan menunjukkan bahwa tidak terjadi masalah. Dan Perawat itu pun
tidak melanjutkan pertanyaannya.
Hal
ini terus berlangsung hingga jam praktik mereka selesai. Keysa sangat merasa
bersalah, ditambah ia tahu Anton menunggunya untuk pulang bersama.
Dilihatnya
jam tangannya menunjukkan pukul 15.00 WIB. Keysa memutuskan menghampiri Roni,
karna tidak seperti biasanya Roni belum datang ke ruangannya untuk mengajak
pulang. Dia ketuk ruangan Roni, tidak ada sahutan dari dalam. Dibukanya pintu
ruangan, dilihatnya Roni sedang membaringkan kepalanya bersandar pada kursi kerjanya
sambil menutup mata. Didekatinya Roni.
“Ron,
sudah jam pulang. Kamu sakit?” Tanya Keysa sambil menyentuh pundak Roni.
Roni
yang sejak tadi tahu kedatangan Keysa masih tetap diam.
Keysa
diam, berdiri di dekat Roni, tidak tahu harus bicara apa.
“Kamu
pulang denganku.” Ucap Roni tiba-tiba sambil menatap Keysa lekat pada manik matanya.
Keysa
terkejut mendapat perlakuan yang tiba-tiba dari Roni. Keysa yang bingung
menemukan jawaban karna masih kaget, hanya diam gugup.
“Key,
itu bukan pertanyaan, itu pernyataan.” Ucap Roni kemudian melihat ekspresi diam
Keysa. Keysa masih diam mematung terkejut. Lama Keysa diam mematung mendapatkan
tatapan dari Roni. Ya… tatapan itu yang membuat Keysa merasa Roni mencintainya.
Tatapan itu membuat Keysa luluh hatinya. Ia seperti merasa diperintah dan
dilindungi sekaligus.
Lama
menunggu respon Keysa, Roni segera menyambar tasnya dan menggandeng tangan
Keysa ke luar ruangan. Keysa hanya menurut. Ia tahu, inilah sikap Roni yang ia
sukai. Ia balas genggaman tangan Roni dengan kuat.
Melihat
respon Keysa, Roni sempat melihat ke arah Keysa sekilas dan ia lihat senyum itu
mengembang dari sudut bibir Keysa. Roni tahu apa yang harus ia lakukan saat
ini. Keysa miliknya, dan tidak akan pernah ia lepaskan untuk kesekian kalinya. Itu
pikirnya.
“Mbak
Laras, kami pulang duluan.” Sapa Roni pada perawat kesayangan mereka ketika
dilihatnya Laras masih sibuk dengan beberapa catatannya.
Laras
yang melihat Roni dan Keysa membalas mereka dengan senyum dan lambaian tangan.
Keysa
dan Roni segera keluar klinik disambut sapaan hangat dari Pak Ahmad yang selalu
dengan senang hati membukakan pintu bagi mereka.
“Terimakasih
Pak.” Ucap Keysa tulus membalas bantuan Pak Ahmad disertai senyum dari Roni.
Mereka
kemudian segera menuju tempat parkir. Namun terlambat,
“Key,
kamu pulang sama aku.?” Tanya Anton tiba-tiba mengagetkan mereka sebelum Roni
sempat membukakan pintu untuk Keysa, Anton datang menghampiri mereka. Mereka
segera melihat ke arah sumber suara yang berada tepat dibelakang mereka.
Di
sana Anton berdiri, menunggu jawaban Keysa untuk pulang bersamanya.
Keysa
diam mematung. “Ini dia yang bikin aku mati cepet.” Rutukny dalam hati.
“Key,
aku sudah menunggumu sejak tadi.” Ucap Anton lagi.
Keysa
tidak menjawab. Diam dilihatnya dua laki-laki dihadapannya. “Andai Kau berikan
aku ilmu menghilang Ya Allah, ijinkan ku menghilang dari kedua laki-laki ini
untuk sesaat saja.” Batinnya dalam hati.
Mereka
bertiga kemudian saling diam beberapa saat hingga akhirnya Roni tetap
membukakan pintu untuk Keysa tanpa memperdulikan ucapan Anton.
“Key,
kita pulang sekarang.” Ucap Roni datar sambil tersenyum ke arah Keysa setelah
pintu mobil terbuka. Dan Keysa mengangguk.
Anton
mencegah mereka dengan memegang lengan Keysa cukup kuat.
“Key…
please.” Ucap Anton.
Keysa
yang terkejut sempat menjerit kesakitan. Roni yang melihat sikap Anton segera
menggengam tangan Anton yang masih berada di lengan Keysa.
“Singkirkan
tanganmu. Dengan cara itu kamu menunjukkan sikap gentle mu dengan menyakiti
perempuan?” ejek Roni pada Anton disertai senyum sinisnya, ditatapnya tepat di manik
mata Anton. Mereka saling memandang dengan perasaan masing-masing.
“Lepaskan
tanganmu.” Ucapnya lagi saat Anton tak juga bergeming dan ditepiskannya tangan
Anton dari lengan Keysa. Keysa masih diam dan hampir melupakan rasa sakit yang
ada dilengannya. Ia justru tegang melihat dua laki-laki didepannya yang berdiri
saling berhadapan.
Anton
memandang Roni dengan penuh kebencian, begitu juga dengan Roni.
“Dengar,
saya tidak perduli apapun urusanmu dengan Keysa dan apa yang belum selesai dari
kalian. Keysa pergi dengan saya dan pulang dengan saya. Jika kamu ingin
membawanya, pergilah ke rumahnya dan ijinlah dengan kedua orang tuanya.” Kalimat
itu keluar begitu saja dari mulut Roni.
Anton
yang masih diam tiba-tiba raut wajahnya berubah saat Roni menyebut kata kedua
orang tua Keysa. Anton sedikit limbung, Roni tahu dengan pasti kelemahannya
saat ini bahwa ia tak berani menghadapi orang tua Keysa karna kesalahannya
dulu.
Roni
yang tahu dirinya menang segera membimbing Keysa untuk masuk ke dalam mobil dan
Keysa menurutinya. Dan ia sendiri segera pergi memasuki mobil. Mereka meninggalkan
Anton yang masih diam melihat kepergian mereka.
Sepanjang
perjalanan mereka berdua diam. Keysa masih sibuk menenangkan hatinya. Sedangkan
Roni hanya ingin menunggu reaksi dari Keysa. Tanpa Keysa sadari Roni tidak
mengarahkan laju mobilnya ke rumah Keysa.
“Ron,
kok kita di pantai.” Ucap Keysa tiba-tiba saat ia sadar dan melihat jalan yang
mereka lalui sebagian besar adalah pantai.
“Kamu
melamun sejak tadi dan baru sadar.” Balas Roni, dan Keysa kembali diam merasa
bersalah. Ia sibuk dengan pikirannya sendiri sejak tadi hingga ia tidak
memperhatikan laki-laki di sebelahnya.
Setelah
tiba di pantai Roni segera memarkir mobilnya. Kemudia ia keluar, mengahampiri
pasir pantai yang diterjang ombak kecil. Ia lepaskan sepatunya dan ia angkat
sedikit celananya agar tidak basah. Ia tinggalkan Keysa sendiri dalam mobil. Ia
berikan waktu Keysa untuk sendiri.
Keysa
masih diam tidak tahu harus berbuat apa. Cukup lama Keysa memperhatikan tingkah
Roni dari dalam mobil. Dan akhirnya ia putuskan untuk menemui Roni ketika
diperhatikannya Roni sudah duduk di tepi pantai berhenti bermain-main dengan
ombak.
Keysa
duduk di sebelah Roni. Mereka sama-sama diam. Tidak ada yang bicara cukup lama.
Dan kondisi ini benar-benar menyiksa Keysa. Akhirnya Keysa menyerah.
“Ron,
kamu kecewa padaku?” Tanya Keysa kemudian tanpa memandang wajah Roni.
Diperhatikannya pemandangan di depannya untuk menenangkan hatinya dan
mengalihkan kecanggungan mereka.
Roni
tidak segera menjawab. Dilihatnya Keysa sekilas dan dialihkan kembali
perhatiannya pada ombak yang masih sibuk bercengkrama dengan pasir.
“Ron,
aku minta maaf.” Ucap Keysa lagi dipandangnya wajah Roni dari samping. Diperhatikannya
lekat…
Melihat
sikap Keysa, Roni hanya tersenyum. Dan membuat Keysa semakin bingung.
“Ron,
kenapa kamu malah senyum?” Tanya Keysa bingung.
“Gak
ada yang perlu dimaafkan.” Jawab Roni singkat. Ditatapnya mata Keysa sambil
diusapnya lembut kepala Keysa.
Pandangan
itu meneduhkan Keysa. Pandangan itu membuat Keysa jatuh hati pada Roni.
“Key,
aku tau apa yang harus aku lakukan.” Ucap Roni pada Keysa mantap, ditatapnya
wajah perempuan disebelahnya lekat. Senyum itu mengembang dari bibirnya. Kemudian
dialihkan perhatiannya kembali pada ombak dan pasir pantai yang masih
berkejar-kejaran.
Keysa
semakin bingung dengan ucapan Roni, namun ia tidak ingin menanyakan lebih
lanjut. Keysa tahu dengan pasti Roni mencintainya.
Keysa
mengikuti arah pandangan Roni dan ia sandarkan kepalanya pada bahu Roni dan
dipeluknya erat lengan Roni.
Terlihat
sebuah senyum dari sudut bibir Roni, diusapnya lembut kepala Keysa.
“Aku
ingin kamu di hatiku Ron, hanya kamu di sana nantinya. Dan ijinkan aku sekali ini
saja untuk meyakinkan diriku bahwa hanya kamu di sana nantinya.” Ucap Keysa
dalam hatinya.
Mereka
kembali diam satu sama lain…