Sabtu, 20 April 2013

BUS KU DATANG MENJEMPUTKU (part 3)


Seharian Roni menghindarinya, Keysa tahu itu. Setiap ia coba mendekati, selalu ada alasan bagi Roni untuk menghindarinya. Roni yang biasanya ceria dan hampir dapat dibilang banyak bicara, hari ini lebih banyak diam. Mbak Laras yang merasakan perubahan Roni sempat menanyakannya pada Keysa, namun Keysa hanya tersenyum dan menunjukkan bahwa tidak terjadi masalah. Dan Perawat itu pun tidak melanjutkan pertanyaannya.
Hal ini terus berlangsung hingga jam praktik mereka selesai. Keysa sangat merasa bersalah, ditambah ia tahu Anton menunggunya untuk pulang bersama.
Dilihatnya jam tangannya menunjukkan pukul 15.00 WIB. Keysa memutuskan menghampiri Roni, karna tidak seperti biasanya Roni belum datang ke ruangannya untuk mengajak pulang. Dia ketuk ruangan Roni, tidak ada sahutan dari dalam. Dibukanya pintu ruangan, dilihatnya Roni sedang membaringkan kepalanya bersandar pada kursi kerjanya sambil menutup mata. Didekatinya Roni.
“Ron, sudah jam pulang. Kamu sakit?” Tanya Keysa sambil menyentuh pundak Roni.
Roni yang sejak tadi tahu kedatangan Keysa masih tetap diam.
Keysa diam, berdiri di dekat Roni, tidak tahu harus bicara apa.
“Kamu pulang denganku.” Ucap Roni tiba-tiba sambil menatap Keysa lekat pada manik matanya.
Keysa terkejut mendapat perlakuan yang tiba-tiba dari Roni. Keysa yang bingung menemukan jawaban karna masih kaget, hanya diam gugup.
“Key, itu bukan pertanyaan, itu pernyataan.” Ucap Roni kemudian melihat ekspresi diam Keysa. Keysa masih diam mematung terkejut. Lama Keysa diam mematung mendapatkan tatapan dari Roni. Ya… tatapan itu yang membuat Keysa merasa Roni mencintainya. Tatapan itu membuat Keysa luluh hatinya. Ia seperti merasa diperintah dan dilindungi sekaligus.
Lama menunggu respon Keysa, Roni segera menyambar tasnya dan menggandeng tangan Keysa ke luar ruangan. Keysa hanya menurut. Ia tahu, inilah sikap Roni yang ia sukai. Ia balas genggaman tangan Roni dengan kuat.
Melihat respon Keysa, Roni sempat melihat ke arah Keysa sekilas dan ia lihat senyum itu mengembang dari sudut bibir Keysa. Roni tahu apa yang harus ia lakukan saat ini. Keysa miliknya, dan tidak akan pernah ia lepaskan untuk kesekian kalinya. Itu pikirnya.
“Mbak Laras, kami pulang duluan.” Sapa Roni pada perawat kesayangan mereka ketika dilihatnya Laras masih sibuk dengan beberapa catatannya.
Laras yang melihat Roni dan Keysa membalas mereka dengan senyum dan lambaian tangan.
Keysa dan Roni segera keluar klinik disambut sapaan hangat dari Pak Ahmad yang selalu dengan senang hati membukakan pintu bagi mereka.
“Terimakasih Pak.” Ucap Keysa tulus membalas bantuan Pak Ahmad disertai senyum dari Roni.
Mereka kemudian segera menuju tempat parkir. Namun terlambat,
“Key, kamu pulang sama aku.?” Tanya Anton tiba-tiba mengagetkan mereka sebelum Roni sempat membukakan pintu untuk Keysa, Anton datang menghampiri mereka. Mereka segera melihat ke arah sumber suara yang berada tepat dibelakang mereka.
Di sana Anton berdiri, menunggu jawaban Keysa untuk pulang bersamanya.
Keysa diam mematung. “Ini dia yang bikin aku mati cepet.” Rutukny dalam hati.
“Key, aku sudah menunggumu sejak tadi.” Ucap Anton lagi.
Keysa tidak menjawab. Diam dilihatnya dua laki-laki dihadapannya. “Andai Kau berikan aku ilmu menghilang Ya Allah, ijinkan ku menghilang dari kedua laki-laki ini untuk sesaat saja.” Batinnya dalam hati.
Mereka bertiga kemudian saling diam beberapa saat hingga akhirnya Roni tetap membukakan pintu untuk Keysa tanpa memperdulikan ucapan Anton.
“Key, kita pulang sekarang.” Ucap Roni datar sambil tersenyum ke arah Keysa setelah pintu mobil terbuka. Dan Keysa mengangguk.
Anton mencegah mereka dengan memegang lengan Keysa cukup kuat.
“Key… please.” Ucap Anton.
Keysa yang terkejut sempat menjerit kesakitan. Roni yang melihat sikap Anton segera menggengam tangan Anton yang masih berada di lengan Keysa.
“Singkirkan tanganmu. Dengan cara itu kamu menunjukkan sikap gentle mu dengan menyakiti perempuan?” ejek Roni pada Anton disertai senyum sinisnya, ditatapnya tepat di manik mata Anton. Mereka saling memandang dengan perasaan masing-masing.
“Lepaskan tanganmu.” Ucapnya lagi saat Anton tak juga bergeming dan ditepiskannya tangan Anton dari lengan Keysa. Keysa masih diam dan hampir melupakan rasa sakit yang ada dilengannya. Ia justru tegang melihat dua laki-laki didepannya yang berdiri saling berhadapan.
Anton memandang Roni dengan penuh kebencian, begitu juga dengan Roni.
“Dengar, saya tidak perduli apapun urusanmu dengan Keysa dan apa yang belum selesai dari kalian. Keysa pergi dengan saya dan pulang dengan saya. Jika kamu ingin membawanya, pergilah ke rumahnya dan ijinlah dengan kedua orang tuanya.” Kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Roni.
Anton yang masih diam tiba-tiba raut wajahnya berubah saat Roni menyebut kata kedua orang tua Keysa. Anton sedikit limbung, Roni tahu dengan pasti kelemahannya saat ini bahwa ia tak berani menghadapi orang tua Keysa karna kesalahannya dulu.
Roni yang tahu dirinya menang segera membimbing Keysa untuk masuk ke dalam mobil dan Keysa menurutinya. Dan ia sendiri segera pergi memasuki mobil. Mereka meninggalkan Anton yang masih diam melihat kepergian mereka.   
Sepanjang perjalanan mereka berdua diam. Keysa masih sibuk menenangkan hatinya. Sedangkan Roni hanya ingin menunggu reaksi dari Keysa. Tanpa Keysa sadari Roni tidak mengarahkan laju mobilnya ke rumah Keysa.
“Ron, kok kita di pantai.” Ucap Keysa tiba-tiba saat ia sadar dan melihat jalan yang mereka lalui sebagian besar adalah pantai.
“Kamu melamun sejak tadi dan baru sadar.” Balas Roni, dan Keysa kembali diam merasa bersalah. Ia sibuk dengan pikirannya sendiri sejak tadi hingga ia tidak memperhatikan laki-laki di sebelahnya.
Setelah tiba di pantai Roni segera memarkir mobilnya. Kemudia ia keluar, mengahampiri pasir pantai yang diterjang ombak kecil. Ia lepaskan sepatunya dan ia angkat sedikit celananya agar tidak basah. Ia tinggalkan Keysa sendiri dalam mobil. Ia berikan waktu Keysa untuk sendiri.
Keysa masih diam tidak tahu harus berbuat apa. Cukup lama Keysa memperhatikan tingkah Roni dari dalam mobil. Dan akhirnya ia putuskan untuk menemui Roni ketika diperhatikannya Roni sudah duduk di tepi pantai berhenti bermain-main dengan ombak.
Keysa duduk di sebelah Roni. Mereka sama-sama diam. Tidak ada yang bicara cukup lama. Dan kondisi ini benar-benar menyiksa Keysa. Akhirnya Keysa menyerah.
“Ron, kamu kecewa padaku?” Tanya Keysa kemudian tanpa memandang wajah Roni. Diperhatikannya pemandangan di depannya untuk menenangkan hatinya dan mengalihkan kecanggungan mereka.
Roni tidak segera menjawab. Dilihatnya Keysa sekilas dan dialihkan kembali perhatiannya pada ombak yang masih sibuk bercengkrama dengan pasir.
“Ron, aku minta maaf.” Ucap Keysa lagi dipandangnya wajah Roni dari samping. Diperhatikannya lekat…
Melihat sikap Keysa, Roni hanya tersenyum. Dan membuat Keysa semakin bingung.
“Ron, kenapa kamu malah senyum?” Tanya Keysa bingung.
“Gak ada yang perlu dimaafkan.” Jawab Roni singkat. Ditatapnya mata Keysa sambil diusapnya lembut kepala Keysa.
Pandangan itu meneduhkan Keysa. Pandangan itu membuat Keysa jatuh hati pada Roni.
“Key, aku tau apa yang harus aku lakukan.” Ucap Roni pada Keysa mantap, ditatapnya wajah perempuan disebelahnya lekat. Senyum itu mengembang dari bibirnya. Kemudian dialihkan perhatiannya kembali pada ombak dan pasir pantai yang masih berkejar-kejaran.
Keysa semakin bingung dengan ucapan Roni, namun ia tidak ingin menanyakan lebih lanjut. Keysa tahu dengan pasti Roni mencintainya.
Keysa mengikuti arah pandangan Roni dan ia sandarkan kepalanya pada bahu Roni dan dipeluknya erat lengan Roni.
Terlihat sebuah senyum dari sudut bibir Roni, diusapnya lembut kepala Keysa.
“Aku ingin kamu di hatiku Ron, hanya kamu di sana nantinya. Dan ijinkan aku sekali ini saja untuk meyakinkan diriku bahwa hanya kamu di sana nantinya.” Ucap Keysa dalam hatinya.
Mereka kembali diam satu sama lain… 

BUS KU DATANG MENJEMPUTKU (Part 2)


Lama Keysa masih menatap pantulan dirinya di cermin. Dia perhatikan satu persatu semua titik di tubuhnya dan matanya tertuju pada bola mata yang ia miliki. Ia perhatikan dirinya lekat. Pikirannya kembali melayang pada hari-hari ia bersama Anton beberapa tahun silam. Ya… mata itu yang membuat Anton jatuh cinta kepadanya dengan segala kekurangan yang ada padanya dulu. Dan mata itu yang selalu ia suka dari dirinya karna dulu Anton menyukainya.
Kenangan itu terurai kembali dalam benaknya betapa ia masih mencintai Anton. Semuanya kembali sejak Anton datang menemuinya beberapa minggu lalu. Keysa tahu, dia tidak pernah membenci Anton selama ini. Bukan benci yang ia rasakan karna cinta itu masih disimpannya rapi dalam hatinya. Pikiran Keysa terus membuka memori-memori yang telah  ia simpan rapi. Hingga panggilan ibunya hampir tak didengarnya.
Keysa masih diam mematung di depan cermin dan sebuah ketukan dari arah luar kamar mengagetkannya.
Tok..tok..tok
“Key, kamu belum juga selesai?” Suara ibunya terdengar dari luar kamar.  
“Keysa, Roni sudah datang. Mau berapa lama lagi kamu berdandan?” Panggil ibunya dari luar kamar. Keysa terkejut, dialihkan pandangannya ke sumber suara di balik pintu kamarnya.
“Iyaa bu, Keysa bentar lagi keluar.” Jawabnya. Dengan tergesa-gesa ia tinggalkan kamarnya setelah mengambil tas dan beberapa barang yang akan ia bawa ke klinik.
Cepat-cepat ia buka pintu kamarnya, namun sudah tidak ada ibunya di sana. Segera ia keluar kamar dan menuju ruang makan karna Roni sudah ada di sana.
“Duuuh lamanya dandan bu dokter satu ini.” Ejek Roni setelah dilihatnya Keysa datang.
Keysa hanya tersenyum dan memberikan sedikit cubitan kecil pada Roni. Roni yang mendapatkan serangan tiba-tiba kontan saja berteriak kesakitan. Keysa tersenyum puas melihatnya.
Ibu Keysa yang sedang sibuk menyediakan sarapan hanya tersenyum melihat sikap mereka berdua. Setiap melihat kebersamaan mereka, Ibu Keysa selalu berdoa agar mereka segera dipersatukan. Sudah hampir beberapa minggu ini Roni selalu datang menjemput Keysa dan beberapa kali ikut sarapan bersama. Ayah dan adik-adik Keysa tidak keberatan dengan hal itu.
Roni cukup ramah dan pandai mengambil hati keluarganya. Adik-adiknya pun cepat sekali akrab dengan Roni. Ibu Keysa sudah jatuh hati pada Roni sejak Roni secara langsung menyampaikan padanya bahwa ia memiliki maksud terhadap Keysa. Namun saat itu Keysa belum merespon perhatian Roni. Ibunya tahu itu dan melihat kegigihan Roni dalam menaklukan hati anaknya.
Ruangan tiba-tiba hening. Ibu Keysa sibuk dengan kegiatannya. Roni dan Keysa sibuk menghabiskan makanan mereka.
“Ibu, bapak mana kok belum keluar untuk sarapan? Yang lain juga, kok sepi?” Tanya Keysa pada Ibunya memecah keheningan.
“Bapak tadi pagi-pagi sudah berangkat karena harus pergi ke luar kota. Ada yang harus diurus mengenai persidangan Bupati yang kemarin sempat tertunda. Adik-adikmu sudah berangkat ” Jawab Ibu Keysa yang kemudian duduk di sebelah Keysa.
“Ooow…” (Hanya suara itu yang keluar dari mulut Keysa mendengar penjelasan ibunya karena  mulutnya sudah penuh dengan makanan.
“Kelamaan sie, dandannya…” celetuk Roni tiba-tiba sambil memamerkan deretan giginya yang bersih dan rapi mengejek Keysa.
Keysa yang tidak terima mendapat ejekan dari Roni menendang kaki Roni dari bawah meja sembari menjulurkan lidahnya. Roni hanya kembali tersenyum mengejek Keysa, jadilah mereka saling serang.
Melihat kondisi itu, Ibu Keysa kemudian melerai mereka.
“Sudah-sudah, segera berangkat sana. Nanti kalian ditunggu pasien.” Ucap Ibu Keysa.
Mereka segera menyelesaikan sarapan mereka dan kemudian berpamitan menuju klinik. Selama perjalanan mereka asik membahasa banyak hal. Keysa selalu suka saat mengobrol dengan Roni. Tanpa di rasa mereka sudah tiba di parkiran klinik.  
Roni segera mencari lokasi untuk memarkir mobilnya, namun kemudian mendadak ia hentikan mobilnya. Keysa yang sejak beberapa menit lalu masih sibuk membaca beberapa brosur yang ia temukan di kursi belakang, terkejut.
“Innalillahi, Roni… Ada apa?” Tanya Keysa. Dilihatnya wajah Roni sedikit tegang.
Roni yang juga terkejut tidak dapat mengalihkan perhatiannya pada sesuatu yang baru saja dilihatnya tepat dihadapan mereka. Keysa yang bingung mengikuti arah pandangan Roni. Dan kali ini wajah Keysa lebih pucat dari Roni.
Keysa diam dengan ekspresi yang tidak dapat digambarkan. Roni segera menguasai dirinya dan berganti melihat ke arah Keysa. Segera ia kembali menghidupkan mesin untuk mencari lokasi parkir sebelum sosok yang mereka lihat benar-benar memperhatikan mereka.
Setelah mendapatkan tempat, Roni mematikan mesin mobilnya. Dilihatnya kembali Keysa yang masih diam. Lama ditunggunya beberapa saat namun sepertinya Keysa tidak sadar bahwa mesin mobil telah mati.
“Key, are you okay?” Tanya Roni memecah perhatian Keysa.
Keysa yang sempat melamun terkejut dengan panggilan Roni.
“Eeeeh…. Eeeee… Ya… I’m Ok.” Gugup Keysa menjawab tidak dapat menyembunyikannya.
“Kita keluar sekarang atau?” Tanya Roni kemudian, namun kalimat itu menggantung, ada nada kecewa di sana saat Roni melihat respon Keysa. Akhirnya mereka sama-sama diam dengan pikiran masing-masing.
Keysa benar-benar tidak menyangka Anton akan datang lagi dalam hidupnya setelah beberapa waktu lalu muncul kembali. Keysa coba menenangkan hatinya. “Ini gila.” Pikirnya.
Ia tarik nafas dalam-dalam, ia tenangkan hatinya seperti beberapa tahun lalu. Ia kembali menenangkan hatinya.
Roni yang sejak tadi ada di sebelah Keysa hanya memperhatikan. Ia menunggu Keysa dalam diam.
“Ron,” Panggil Keysa kemudian setelah ia yakin dengan hatinya.
“Ya…?” Jawab Roni yang sudah sejak tadi menunggu Keysa bersuara.
“Kita keluar sekarang yuk..” Ucap Keysa yakin kepada Roni. Roni yang sempat bingung hanya bisa mengangguk sembari tersenyum.
“Kamu sudah siap?” Tanya Roni, diusapnya lembut kapala Keysa.
Keysa mengangguk dan membalas senyum Roni yang mampu membuatnya tenang.
Akhirnya mereka keluar dari mobil dan berjalan ke arah klinik. Keysa menggandeng tangan Roni untuk menutupi kegelisahannya. Roni tahu itu, dan ia membiarkannya.
Pertemuan dengan Anton tentunya tak dapat dihindarkan Karena Anton yang sejak tadi telah mengetahui kedatangan mereka, sengaja menunggu Keysa.
“Key..” Panggil Anton setelah melihat Keysa dan Roni berada tidak jauh darinya.
Keysa yang berjalan di sebelah Roni kemudian melihat ke arah sumber suara membalas panggilan itu dengan senyum yang ia usahakan se normal mungkin.
“Hai Ton… sudah lama di sini?” Tanya Keysa kemudian.
Dilihatnya Anton cukup tenang, begitu juga dengan Roni. Keysa tidak tahu bahwa di dalam hati kedua laki-laki itu sedang berusaha menahan untuk tidak saling melemparkan serangan.
Mereka bertiga berdiri canggung satu sama lain. Jemari Keysa semakin erat menggenggam tangan Roni seakan takut terlepas. Iya… dia membutuhkan Roni saat ini untuk menenangkan hatinya. Dan Roni siap memberikan perlindungan padanya.
Anton melihat itu… perasaan ganjil kembali menyerangnya. Yaa… perasaan cemburu itu datang lagi dalam hatinya.
“Aku ada perlu denganmu Key, bisa kita bicara?” Tanya Anton kemudian tepat di hadapan Keysa dan Roni.
Mendengar itu, Keysa sempat terkejut segera dialihkan perhatiannya pada Roni untuk meminta persetujuan, namun Roni tidak memberikan jawaban pada tatapan Keysa. Roni sibuk menenangkan hatinya untuk tidak memberikan sedikit pelajaran pada Anton.
Keysa putus asa, kemudian di tatapnya kembali Anton.
“Maaf, pagi ini aku ada jadwal praktik.” Jawab Keysa kemudian…
Anton tidak menyerah, ia bersedia menunggu Keysa hingga Keysa selesai kerja.
Pada akhirnya Keysa tidak mengiyakan dan tidak juga menolak secara tegas permintaan Anton. Karna dia sendiri tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
Roni kecewa dengan jawaban Keysa, tapi dia tahu itu hak Keysa sepenuhnya. Mereka sejak dulu telah tahu posisi masing-masing. Dan Roni tidak akan melihat apa yang dilakukan laki-laki lain pada Keysa, tetapi dia akan melihat apa yang Keysa lakukan pada mereka.
Akhirnya Keysa dan Roni meninggalkan Anton dan memasuki klinik. Mereka berdua diam. Perlahan Roni mengendurkan pegangannya pada jemari Keysa, Keysa menyadarinya. Dan genggaman itu benar-benar terlepas ketika mereka telah ada di depan pintu klinik. Keys tahu dirinya ditelah menyakiti Roni. 

Selasa, 16 April 2013

-THE VOW-


THE VOW

Momen Benturan
Momen benturan terbkuti potensial menjadikan perubahan
Memiliki efek jauh melebihi yang bisa kita prediksi
Mengirim partikel-partikel yang bertabarakan
Membuat mereka lebih dekat dari sebelumnya
Sementara mengirim yang lainnya berputar-putar
Mendaratkan mereka ditempat dimana kau tidak akan pernah berpikir akan menemukan mereka
Itulah yang menarik mengenai momen seperti ini
Kau tidak bisa
Tak usah dihiraukan
Tak perduli betapa kerasnya kau mencoba, mengendalikan bagaimana itu akan
Kau hanya perlu membiarkan itu berjalan dengan sendirinya
Dan menunggu
Untuk benturan berikutnya

Aku berjanji untuk membuatmu mencintai ku
Untuk selalu memelukmu dengan kehangatan
Dan untuk memiliki kesabaran yang dibutuhkan oleh cinta
Dan untuk bicara saat kata-kata dibutuhkan
Dan untuk membagi keheningan saat kata-kata tidak dubutuhkan
Dan untuk setuju dan tidak setuju akan sesuatu
Dan untuk hidup dalam kehangatan hatimu, dan selalu menyebutnya rumah
Aku akan membahagiakan hatimu
Teruslah berada di sisiku bukan dengan fisikmu
Tapi dengan hatimu
Teruslah bahagia di sisiku
Terpatri lekat dalam hati dan ingatanku
Dan aku akan mengingatmu dengan memori baruku

Kamis, 11 April 2013

BUS KU DATANG MENJEMPUTKU (CerBung part 1)


BUS KU DATANG MENJEMPUTKU

Menemukan pendamping hidup layaknya menunggu sebuah bus… ada yang datang dan pergi, dan kita memiliki hak untuk memilih bus mana yang akan kita tumpangi yang akan membawa kita kesebuah tujuan, ataukah kita akan tetap bersabar menunggu bus yang kita nanti hingga ia benar-benar datang menghampiri.
“Key, kamu tidak secantik mereka. Tapi kamu akan membuat orang menatapmu karna itulah kamu”. Ucap Keysa pada pantulan dirinya di cermin. Ia kembangkan senyumnya. Seperti biasa pagi itu Keysa kembali menatap wajahnya di cermin, kebiasaannya beberapa tahun terakhir ini. Bukan untuk membanggakan dirinya, hanya untuk membangkitkan semangatnya.
Tak lama handphonenya berdering, dilihatnya wajah Roni di sana,senyum Keysa kembali mengembang.
“Assalamualaikum Ron..” ucap Keysa pada orang di seberang.
“Oke… aku sudah siap. Aku tunggu di rumah ya. Kamu sarapan di sini sekalian, tadi Ibu masak opor ayam kesukaanmu.” Ucap Keysa lagi kemudian setelah diam sejenak mendengar apa yang di sampaikan Roni di seberang dan kemudian ia akhiri percakapan mereka.
Roni, laki-laki yang dua tahun terakhir ini menemaninya. Menyediakan bahunya untuknya bersandar melepaskan penat dan kepedihannya.
Roni memberikan kursi utama dalam busnya setelah dirinya hampir lusuh layu berdiri di tepi  jalan tanpa perbekalan. Roni bukan bus asing baginya. Bus itu selalu datang menghampirinya, sejenak berhenti membuka pintunya lebar-lebar namun Keysa tetap tak paham dan kukuh menunggu busnya yang telah ia nanti hingga 6 tahun lamanya datang. Hingga akhirnya ia memilih untuk menyerah dan memilih menumpang pada bus lain yang bersedia mengantarkan Keysa pada tujuannya. Namun sayang, bukan bus Roni yang ia tumpangi, dan kesempatan Roni hilang kembali.
Bertahun-tahun Keysa menjadi penumpang setia pada bus yang ia tumpangi. Berharap bus itu akan sampai pada tujuannya. Seiring berjalannya waktu, sebelum ia sampai pada tujuannya, bus itu mendadak berhenti, memintanya turun karna tak mampu mengantarnya hingga ketujuan. Limbung Keysa turun, tak tau dimana ia berdiri, menepi karna perjalanan mereka telah cukup jauh untuk diakhiri. 
Diam Keysa terpaku pada tempatnya cukup lama, berharap bus itu akan menjemputnya kembali. Ia bertahan di sana. Namun, tak ada tanda-tanda ia kembali karna ia telah terus berjalan mengangkut penumpang-penumpang berikutnya menuju tujuan akhir mereka.
Tak ada perbekalan yang Keysa bawa, hanya keteguhan hati bahwa ia harus melanjutkan perjalanannya. Melanjutkannya sendiri, ia putuskan untuk tidak diam pada posisinya. Ia putuskan melangkahkan kaki pada jalanan yang berdebu dan berliku. Tekadnya hanya satu, sampai pada tujuannya. 
Dan saat itulah Roni bersama busnya datang menjemput. Membukakan kembali pintunya lebar-lebar. Menyediakan kursi utama baginya. Memberikan kenyamanan dan kehangatan yang mampu membuat Keysa betah di sana untuk mengobati lukanya.
“Ya… Bus ku telah datang menjemputku” ucap Keysa pada dirinya di cermin. Kembali ia memagut wajahnya sebelum ia keluar kamarnya.

“AKU” BUKAN TOKOH WANITA DALAM NOVEL ITU (part 3)


“Key, katakana padaku. Apa yang kau pikirkan saat kalian “berhubungan”? tanyaku hati-hati padanya.
Keysa terkejut menatapku, ku lihat raut wajahnya berubah. Kata-kata itu keluar begitu saja dari bibirku.  
“Key, maaf jika aku menyinggung perasaanmu. Aku hanya ingin tahu, ingatkah Kau pada keluargamu? Atau ingatkah bahwa ada yang tidak tidur dan selalu memperhatikan kalian?” tanyaku padanya.
Keysa diam… lama suaranya menggantung. Ku biarkan ia.
“Setiap aku mengikuti nafsunya, aku selalu berkata dalam hatiku “Aku tak mampu menghentikanmu karena kelemahanku mencintaimu sehingga kuturuti keinginanmu, namun aku tahu suatu saat Allah pasti akan menghentikan kita dengan cara-Nya.” Ucap Keysa…
Aku diam, tak tau apa yang harus ku sampaikan padanya. “Dan Allah membuktikan kekuasannya Key… Bukan hatimu dan cintamu yang Allah rubah Key.  Tetapi Allah merubah cinta dan hati laki-laki itu agar tidak lagi mencintaimu dan merusakmu Key.” Batinku lirih menyesalkan yang terjadi.
“Kau harus bangkit Key. Usahamu beberapa bulan ini harus kau lanjutkan jika kau tak ingin menjadi wanita dalam novel itu”. Ucapku padanya.
Keysa diam, ditatapnya mataku sekilas, dan ia tersenyum. Senyum getir pahit yang ku lihat darinya. “Kau akan belajar dari kesalahan Key dan aku yakin kau akan bangkit. Aku akan melihatmu bangkit dengan hidup barumu.” batinku.
Hari itu kami akhiri dengan kebisuan kami satu sama lain. Tak ada yang kami bahas lagi.  Diam membisu.
Dua tahun kemudian sejak diskusi kami hari itu. Aku kembali bertemu dengan Keysa di rumahku. Ia datang mengunjungiku saat ia tahu aku kembali dari tugasku di luar kota.
“Hai Key, tau saja kau aku datang hari ini.” Sapa ku saat ku lihat dia turun dari mobilnya.
“Jelas, aku kan mata-matamu. Aku selalu datang mengunjungi ibumu selama kau tidak di rumah. Harusnya aku yang menjadi anak ibumu bukan kau Sis. Labih sering aku bersama ibumu dibandingkan anaknya sendiri yang pergi menghilang entah kemana mengabdi menjadi dokter di negeri orang.” Jawabnya bangga sambil tersenyum.
“Bukan menghilang, tolong dikoreksi dokter Keysa. Hanya mencoba peruntungan di negeri orang dan membuktikan bahwa aku mampu. Ada kau di sini dan Roni untuk menyembuhkan orang-orang di daerah kita. Lebih baik aku mencari tempat lain yang juga membutuhkanku." jawabku tak mau kalah.
"Sudahlah jangan kau bahas tentang aku. Sepertinya ku lihat ada yang sedang bahagia Key.” Ejekku padanya saat ia telah ada di kamarku. Aku melihat wajah Keysa yang berseri-seri tidak seperti dua tahun silam saat kami terakhir kali bertemu.
“Siska, hidupku tidak berhenti. Kau yakin padaku bahwa aku akan bangkit, lalu kenapa aku tidak yakin pada diriku sendiri?” ucapnya yakin sambil tersenyum.
“OKe… good job Key.” Jawabku.
“Sekarang aku telah kembali bahkan lebih baik dari aku sebelumnya Sis. Semuanya luruh dalam doaku. Tidak bisa ku bayangkan aku bisa berdiri seperti ini. Aku tidak ingin menjadi tokoh wanita dalam novel itu. Tidak akan pernah Key.” Ucapnya mantap.
Kami berdua saling memandang dan tersenyum. Aku melihatnya sangat bahagia.
“Itu baru dokter hebat sahabatku. Kau bisa menyembuhkan pasien-pasienmu, tentunya tak butuh waktu lama untukmu bisa menyembuhkan dirimu sendiri. Aku hanya supporter di belakangmu.” Ucapku padanya, dan kami saling tersenyum satu sama lain.
“Kau tak akan pernah menjadi tokoh wanita dalam novel itu sahabatku. Kebahagiaan akan datang padamu seberapapun kesalahan itu kau buat ketika kau memperbaiaki dirimu.” batinku.
Keysa tersenyum kepadaku….
“Perlindungan-Nya yang mampu menguatkanku untuk tetap berdiri Key... Ini caranya menjauhkan ku dari laki-laki itu. Aku menyesal telah menduakan cinta-Nya dengan cinta laki-laki itu. Dan sama dengan ucapku dulu, aku bukan tokoh wanita dalam novel itu. Hanya masalalu kami yang sama, tapi takdir kami berbeda karna aku memiliki takdirku sendiri. Aku bukan tokoh wanita dalam novel itu.” Lanjutnya mantap. Semantap hatinya dan tatapan matanya. Ada ketenangan dan kegembiraan di sana.  

“AKU” BUKAN TOKOH WANITA DALAM NOVEL ITU (CerBung part 2)


“Aku tak akan bertanya banyak padamu Key jika kau tak berkenan,” Ucapku padanya
“Terimkasih Sis, itu yang ku butuhkan. Aku hanya ingin kau mendengarkan ku. Bagiku terserah pada tanggapamu. Inilah aku.” Ucapnya kemudian, ku lihat matanya kosong menatapku.
Diam kami dengan pikiran kami masing-masing. Aku tak bisa membayangkan jika aku menjadi dirinya. Namun tak berani ku katakana padanya. Aku tak bisa marah padanya ataupun merutuknya atas apa yang ia lakukan. Ini hidupnya pikirku, ia sudah dewasa.
“Sis…” ucapnya tiba-tiba memecah kebisuan kami.
“Yups…, kenapa Key?” ku alihkan perhatianku kepadanya.
“Kau membenciku?” tanyanya kemudian.
“Atas dasar apa aku membencimu?” ucapku bingung.
“Entahlah…” Jawabnya, dan kembali menggantungkan pandangannya ke langit-langit kamarku.
Kami kembali diam… bergelut dengan pikiran kami masing-masing. Tak lama ku dengar kembali isak tangisnya. Ku biarkan ia mengeluarkan semua yang ia rasakan. Ku biarkan air matanya jatuh dan berharap itu mampu melegakan hatinya. Sudah lama kami tidak bertemu sejak perpisahan kami saat kami lulus kuliah dulu. Kami hanya saling bertukar kabar melalui telefon dan itupun jarang sekali kecuali untuk mendiskusikan beberapa hal dalam kehidupan kami. Kami bersahabat sejak kami duduk di bangku sekolah dasar.  Dan kami masing-masing tau watak dan pribadi kami masing-masing. Sehingga tidak aneh bagiku ketika ia datang padaku. Namun yang membuatku terkejut hanyalah apa yang dia ungkapkan. Aku menyesalkan mendengar ini dari sahabat ku sendiri.
“Key…” ucapku padanya kemudian. Ku lihat ia berbaring tepat di sebelahku, tatapannya masih kosong. Matanya sedikit berkaca-kaca. Entahlah apa yang sekarag dipikirkannya. Aku berharap bukan hal pendek yang dia pikirkan untuk dilakukan.
“Key,… apa rencanamu?” Tanya ku padanya.
Dia diam, melihatku sekilas dan kemudian kembali menatap ke langit-langit kamarku.
“Entahlah Sis. Beberapa bulan ini aku mencari pelarian atas masalahku.” Jawabnya.
“Boleh aku bertanya Key?” tanyaku hati-hati hanya berharap aku tidak menyinggungnya.  Ku lihat ia mengangguk padaku.
“Kau yang meninggalkannya, atau dia yang meninggalkanmu?” ku lanjutkan kalimatku. “Sudah lama aku tidak mendengar kabarmu. Terakhir kita bicara, kau bilang kalian akan segera menikah?”
Ia masih diam…ku tunggu jawabannya.
“Ia meninggalkanku Sis, beberapa hari sebelum hari lamaran kami ia membatalkannya…” jawabnya singkat.
Bingung apa yang harus ku katakan, kembali kami diam.
 “Anton memutuskan untuk tidak melanjutkan hubungan kami.” Ungkap Keysa memecah kebisuan kami. “Baginya, tak ada lagi aku di dalam rencana kehidupannya kedepan. Ia sampaikan demi kebaikanku dan keluargaku.”
“Aku masih tidak mengerti Key..” ucapku bingung mendengar penjelasannya.
Keysa diam sejenak, berusaha mengatur nafas. Mungkin pedih baginya harus mengingat setiap memori yang menyakitkan baginya. Dan ku tak mendesaknya.
“Key, tak perlu kau lanjutkan jika hatimu tak siap.” Ucapku padanya dan ku melihatnya mencoba tersenyum kepadaku.
“Ia pergi meninggalkanku dengan satu kata “Aku ingin pulang berkumpul dengan keluargaku, dan aku tidak ingin mengajakmu. Tidak ada kamu di masa depanku. Pergilah mencari laki-laki yang mampu menjadi imam terbaik untukmu, aku akan kembali untuk keluargaku. Dengan kebersamaan kita maafkan aku.”  Lanjut Keysa kemudian.
Ku dengarkan kembali semua yang disampaikannya. Ku ubah posisiku agar ku dapat melihatnya dan mendengarkannya lebih jelas. Ingin ku masuk ke dalam hatinya, membantu mengobati luka itu.
“Dan semua kalimat itu membuatku jatuh sakit berbulan-bulan Sis.” Ungkapnya lagi.
“Pil pahit yang harus ku telan paksa. Cinta yang ku bangun berlandasakan janji, kejujuran yang kupertahankan kepadanya untuk terus setia, komunikasi yang kami bangun. Dan semua yang kumiliki ku serahkan padanya dan kini dia meninggalkanku dengan kata-kata bijakanya untuk kembali berkumpul dengan keluarganya dan tidak akan membawaku bersamanya. Semua mimpi yang ku bangun untuk menjadi sebuah keluarga dan menjadi istri yang terbaik baginya semuanya hancur. Hilang…, habis sudah semuanya setelah rencana-rencan pernikahan yang kami susun selama ini sejak kebersamaan kami beberapa tahun silam.”
“Semakin habis semuanya ketika ku lihat, tidak hanya untuk keluarganya ia kembali. Namun justru untuk kebahagiaannya yang ia dahulukan. Belum juga ku sembuhkan hatiku, aku sudah harus melihatnya mengumbar ucapan-ucapan doanya dan cinta kepada wanita lain. Tiga minggu sejak perpisahan kami, ia sampaikan ketertarikannya pada seorang wanita. Tidak mampu ku lupakan ketika ia tulis dalam sebuah statusnya mengenai hubungannya dengan kekasihnya yang pertama sejak kami berpisah “Ya  Allah jadikanlah niat kami untuk menuju Siratal Mustaqimmu”. Betapa menyakitkannya ketika doa itu ditulisnya sebagai doanya dengan wanita lain Sis. Ingin rasanya ku terjun dari lantai teratas di klinik ku saat ku membaca itu.”
“Melihat itu, coba ku sampaikan padanya untuk kembali padaku dan melihatku lagi. Namun ia tidak bergeming”. “Kebahagiaanku aku sendiri yang menentukan, bukan kamu. Dan kamu tidak bisa menjamin kebahagiaanku jika aku bersamamu. Aku sudah pada pendirianku untuk tidak membawamu bersamaku karena kamu harus memikirkan keluargamu”. Kalimat itu dia ucapkan ketika ku memintanya untuk kembali mencintaiku dan membawaku bersamanya. Hatiku hancur, tangisku pecah, badanku limbung Sis, tak mampu bergerak.”
“Semakin menyakitkan lagi ketika harus menerima kenyataan ia berganti mengumbar kemesraanya dengan wanita lain lagi ketika hubungannya dengan wanita pertama hanya bertahan sepuluh hari. Dan satu minggu kemudian ia telah mengikat janji dengan wanita lain lagi, wanita kedua setelah perpisahannya denganku.”
“Dalam waktu dua bulan sejak kami berpisah, aku harus menerima dua kali juga ia berganti wanita. Kalimat-kalimat di jejaring sosial yang menunjukkan doa-doa mereka menuju rencana pernikahan dan foto-foto kemesraan mereka benar-benar membuatku semakin hancur.”
“Kembali ku memintanya untuk melihatku, namun ia lagi-lagi tidak bergeming. Bahkan ia tidak pernah bersedia untuk menemuiku sejak kami mengakhiri hubungan kami melalui telfon. Ketika ku memintanya untuk mempertanggungjawabkan apa yang telah kami perbuat, ia justru membentakku dan mamkiku. “Kamu ingin menarikku kembali kepadamu? Aku gak bisa, karna aku sudah melangkah jauh dengan wanita ini dan sudah sampai ke tahap keluarga”. “Itu ucapnya padaku Sis.”
“Hanya itu kalimatnya yang sempat ku dengar sebelum ku biarkan hatiku semakin hancur, tatapanku kosong. Tak ada yang bisa ku lakukan selain menangis. Apalagi usahaku untuk mempertahankannya. Bahkan hanya untuk sekedar memintanya bertemu dengan ku  dan berpamitan pada keluargaku  saja ia enggan. Habis sudah hatiku di buangnya. Habis sudah hati keluargaku di singkirkannya. Semua kisah kami seakan tidak ada lagi. Tidak lagi ada ia yang selama ini ku kenal begitu mencintaiku Sis.”
Keysa kemudian diam. Air matanya kembali mengalir melalui sudut matanya.

“AKU” BUKAN TOKOH WANITA DALAM NOVEL ITU (CerBung part 1)


“AKU” BUKAN TOKOH WANITA DALAM NOVEL ITU

Seorang teman mendatangiku beberapa bulan lalu, tak banyak yang bisa ku lakukan padanya ketika ku lihat ia menangis. Hanya pelukan erat yang ku harap mampu memberikan ketenangan dan sedikit perlindungan tuk melepaskan semua bebannya. Tangisnya pecah, suaranya lirih hampir tak mampu ku dengar. Sayup ku dengar suaranya “Aku lelah, tak ada yang bisa ku banggakan lagi dari diriku”, dan kemudian ia menangis kembali.
Setengah terkejut dan bercampur kebingungan ku peluk ia semakin erat. Ku biarkan ia luapkan segala yang ia rasakan. Karna yang ku tahu, itu yang ia butuhkan, hanya pelukan perlindungan untuk sementara, bukan ucapan-ucapan menggurui lainnya dan menyalahkan apalagi rentetan pertanyaan yang ku yakin mampu membuatnya semakin tak tahu apa yang ia rasakan.
Sejenak tangisnya reda, ia mulai ceritanya satu-persatu. Ku simak dengan seksama. Ku dengarkan dengan baik, tanpa jeda. Tak ada yang ku lewatkan sedikitpun dari semua ucapnya. Ku peluk ia kembali, hanya itu yang bisa ku lakukan. Aku tak pandai menenangkan seseorang. Yang ku tahu berada di sisinya memeluknya dan dia tahu aku ada untuknya. Ku rasa, Sementara itu yang bisa ku lakukan dan semoga itu cukup menenangkan baginya.
Ceritanya mengingatkanku pada sebuah novel yang pernah ku baca dan hampir kulupakan “Tuhan, Ijinkan Aku Menjadi Pelacur”. Seorang teman merekomendasikannya padaku beberapa tahun silam., “Aku pikir cerita itu hanya ada di novel yang ku baca, tapi ternyata sahabatku sendiri mengalaminya” ungkapku padanya.
“Ya, mungkin kami sama… tapi aku tidak akan menjadi wanita itu, hanya masa laluku yang kelam yang sama, namun aku tidak akan berakhir sama dengannya. Aku berbeda dengan wanita itu, tapi terkadang aku merasa lebih hina. Jika tokoh wanita dalam novel itu memberikan kehormatannya pada seorang aktifis kampus yang selalu menggembar gemborkan dakwah dalam setiap ucapnya akibat kekecewaanya, maka aku berbeda. Justru aku merasa semakin hina karena ku memberikannya berlandaskan cinta.  Aku memberikan kehormatanku pada aktifis kampus yang selalu berdakwah dalam setiap status-status jejaring sosialnya. Aktifis kampus yang dikenal sebagai ketua sebuah himpunan mahasiswa di sebuah sekolah tinggi sawasta ternama.” Ungkapnya lirih, matanya berkaca-kaca. Tak banyak yang bisa ku lakukan, ku genggam tangannya, memeluknya... 

Rabu, 03 April 2013

-170110-


-Tak Mungkin Ada Dua Cinta dalam Hatiku-

Terimaksih pernah Kau hadirkan ia dalam kehidupanku ^^
Kau hadirkan ia sebagai pembelajaran dan kenangan
Tak Mungkin Ada Dua Cinta dalam Hatiku
Ia yang pertama kali mengajarkan banyak hal padaku
Dia bukan cinta pertamaku,
Dia bukan orang yang pertama ada di hatiku
Tapi dia yang pertama menetap  di hatiku dan membuatku percaya akan cinta
Senyum, tawa, tangis, dan percaya pada seseorang untuk ku titipkan hatiku
Ia yang pertama kali membuatku berani mengenalkan seseorang pada keluargaku
Ia menemaniku dalam setiap waktuku
Ia tak pernah bosan mendengar keluh kesahku, melindungiku, menemaniku
Selalu ada untukku dengan semua kejutan-kejutan kecil yang selalu membuatku bahagia
Ia selalu hadir di kehidupanku, menemaniku dengan suaranya dan kehadirannya
Kami tidak selalu bersama selama kebersamaan kami,
Tapi ku selalu merasa dia ada di dekatku dan selalu di sisiku dengan komunikasi kami
Karna dia selalu ada di hatiku
Terimakasih telah Kau hadirkan ia di hatiku
Dan terimakasih telah Kau jauhkan ia dariku
Bukan karna cinta ini hilang dari hatiku
Tapi karna ku tahu, Aku telah menduakan cinta-Mu dengan egoku
Hanya jaga ia untukku
Karna tak mungkin ada 2 cinta dalam hatiku
Dan Ijinkan aku mencintai-Mu dengan cara terbaik-Mu
Rengkuh aku dalam dekap-Mu
Dan selalu berikan Cinta-Mu yang lebih besar dari cintanya kepadaku 
Jangan pernah berhenti mencintaiku dengan cara terbaik-Mu

                                                                                                                            _Cindy_


Selasa, 02 April 2013

-06- ^_^


Ku mulai tentang kita sejak pertama kita bertemu
Kau bukanlah hal asing bagi ku
Tapi seiring berjalannya waktu
Perasaanku padamu terasa asing dalam hatiku
Cerita tentang kita
Mungkin lebih tepatnya cerita tentang perasaanku padamu ^^
-06-