BUS KU DATANG MENJEMPUTKU
Menemukan
pendamping hidup layaknya menunggu sebuah bus… ada yang datang dan pergi, dan
kita memiliki hak untuk memilih bus mana yang akan kita tumpangi yang akan
membawa kita kesebuah tujuan, ataukah kita akan tetap bersabar menunggu bus
yang kita nanti hingga ia benar-benar datang menghampiri.
“Key,
kamu tidak secantik mereka. Tapi kamu akan membuat orang menatapmu karna itulah
kamu”. Ucap Keysa pada pantulan dirinya di cermin. Ia kembangkan senyumnya. Seperti
biasa pagi itu Keysa kembali menatap wajahnya di cermin, kebiasaannya beberapa
tahun terakhir ini. Bukan untuk membanggakan dirinya, hanya untuk membangkitkan
semangatnya.
Tak
lama handphonenya berdering, dilihatnya wajah Roni di sana,senyum Keysa kembali
mengembang.
“Assalamualaikum
Ron..” ucap Keysa pada orang di seberang.
“Oke…
aku sudah siap. Aku tunggu di rumah ya. Kamu sarapan di sini sekalian, tadi Ibu
masak opor ayam kesukaanmu.” Ucap Keysa lagi kemudian setelah diam sejenak
mendengar apa yang di sampaikan Roni di seberang dan kemudian ia akhiri
percakapan mereka.
Roni,
laki-laki yang dua tahun terakhir ini menemaninya. Menyediakan bahunya untuknya
bersandar melepaskan penat dan kepedihannya.
Roni
memberikan kursi utama dalam busnya setelah dirinya hampir lusuh layu berdiri
di tepi jalan tanpa perbekalan. Roni bukan
bus asing baginya. Bus itu selalu datang menghampirinya, sejenak berhenti membuka
pintunya lebar-lebar namun Keysa tetap tak paham dan kukuh menunggu busnya yang
telah ia nanti hingga 6 tahun lamanya datang. Hingga akhirnya ia memilih untuk
menyerah dan memilih menumpang pada bus lain yang bersedia mengantarkan Keysa
pada tujuannya. Namun sayang, bukan bus Roni yang ia tumpangi, dan kesempatan
Roni hilang kembali.
Bertahun-tahun
Keysa menjadi penumpang setia pada bus yang ia tumpangi. Berharap bus itu akan
sampai pada tujuannya. Seiring berjalannya waktu, sebelum ia sampai pada tujuannya,
bus itu mendadak berhenti, memintanya turun karna tak mampu mengantarnya hingga
ketujuan. Limbung Keysa turun, tak tau dimana ia berdiri, menepi karna perjalanan
mereka telah cukup jauh untuk diakhiri.
Diam Keysa terpaku pada tempatnya cukup lama, berharap
bus itu akan menjemputnya kembali. Ia bertahan di sana. Namun, tak ada tanda-tanda ia kembali karna ia
telah terus berjalan mengangkut penumpang-penumpang berikutnya menuju tujuan akhir mereka.
Tak
ada perbekalan yang Keysa bawa, hanya keteguhan hati bahwa ia harus melanjutkan
perjalanannya. Melanjutkannya sendiri, ia putuskan untuk tidak diam pada
posisinya. Ia putuskan melangkahkan kaki pada jalanan yang berdebu dan berliku.
Tekadnya hanya satu, sampai pada tujuannya.
Dan saat itulah Roni bersama
busnya datang menjemput. Membukakan kembali pintunya lebar-lebar. Menyediakan
kursi utama baginya. Memberikan kenyamanan dan kehangatan yang mampu membuat
Keysa betah di sana untuk mengobati lukanya.
“Ya…
Bus ku telah datang menjemputku” ucap Keysa pada dirinya di cermin. Kembali ia
memagut wajahnya sebelum ia keluar kamarnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar