“Key, katakana padaku. Apa
yang kau pikirkan saat kalian “berhubungan”? tanyaku hati-hati padanya.
Keysa terkejut
menatapku, ku lihat raut wajahnya berubah. Kata-kata itu keluar begitu saja
dari bibirku.
“Key, maaf jika aku
menyinggung perasaanmu. Aku hanya ingin tahu, ingatkah Kau pada keluargamu? Atau
ingatkah bahwa ada yang tidak tidur dan selalu memperhatikan kalian?” tanyaku padanya.
Keysa diam… lama
suaranya menggantung. Ku biarkan ia.
“Setiap aku mengikuti
nafsunya, aku selalu berkata dalam hatiku “Aku tak mampu menghentikanmu karena
kelemahanku mencintaimu sehingga kuturuti keinginanmu, namun aku tahu suatu
saat Allah pasti akan menghentikan kita dengan cara-Nya.” Ucap Keysa…
Aku diam, tak tau apa
yang harus ku sampaikan padanya. “Dan Allah membuktikan kekuasannya Key… Bukan
hatimu dan cintamu yang Allah rubah Key. Tetapi Allah merubah cinta dan hati laki-laki
itu agar tidak lagi mencintaimu dan merusakmu Key.” Batinku lirih menyesalkan yang terjadi.
“Kau harus bangkit Key.
Usahamu beberapa bulan ini harus kau lanjutkan jika kau tak ingin menjadi
wanita dalam novel itu”. Ucapku padanya.
Keysa diam, ditatapnya
mataku sekilas, dan ia tersenyum. Senyum getir pahit yang ku lihat darinya. “Kau
akan belajar dari kesalahan Key dan aku yakin kau akan bangkit. Aku akan
melihatmu bangkit dengan hidup barumu.” batinku.
Hari itu kami akhiri
dengan kebisuan kami satu sama lain. Tak ada yang kami bahas lagi. Diam membisu.
Dua tahun kemudian
sejak diskusi kami hari itu. Aku kembali bertemu dengan Keysa di rumahku. Ia datang
mengunjungiku saat ia tahu aku kembali dari tugasku di luar kota.
“Hai Key, tau saja kau
aku datang hari ini.” Sapa ku saat ku lihat dia turun dari mobilnya.
“Jelas, aku kan
mata-matamu. Aku selalu datang mengunjungi ibumu selama kau tidak di rumah. Harusnya aku yang menjadi anak ibumu bukan kau Sis. Labih sering aku bersama ibumu dibandingkan anaknya sendiri yang pergi menghilang entah kemana mengabdi menjadi dokter di negeri orang.” Jawabnya
bangga sambil tersenyum.
“Bukan menghilang, tolong dikoreksi dokter Keysa. Hanya mencoba peruntungan di negeri orang dan membuktikan bahwa aku mampu. Ada kau di sini dan Roni untuk menyembuhkan orang-orang di daerah kita. Lebih baik aku mencari tempat lain yang juga membutuhkanku." jawabku tak mau kalah.
"Sudahlah jangan kau bahas tentang aku. Sepertinya ku lihat
ada yang sedang bahagia Key.” Ejekku padanya saat ia telah ada di kamarku. Aku melihat
wajah Keysa yang berseri-seri tidak seperti dua tahun silam saat kami terakhir
kali bertemu.
“Siska, hidupku tidak
berhenti. Kau yakin padaku bahwa aku akan bangkit, lalu kenapa aku tidak yakin
pada diriku sendiri?” ucapnya yakin sambil tersenyum.
“OKe… good job Key.” Jawabku.
“Sekarang aku telah
kembali bahkan lebih baik dari aku sebelumnya Sis. Semuanya luruh dalam doaku. Tidak
bisa ku bayangkan aku bisa berdiri seperti ini. Aku tidak ingin menjadi tokoh
wanita dalam novel itu. Tidak akan pernah Key.” Ucapnya mantap.
Kami berdua saling
memandang dan tersenyum. Aku melihatnya sangat bahagia.
“Itu baru dokter hebat
sahabatku. Kau bisa menyembuhkan pasien-pasienmu, tentunya tak butuh waktu lama
untukmu bisa menyembuhkan dirimu sendiri. Aku hanya supporter di belakangmu.”
Ucapku padanya, dan kami saling tersenyum satu sama lain.
“Kau tak akan pernah
menjadi tokoh wanita dalam novel itu sahabatku. Kebahagiaan akan datang padamu
seberapapun kesalahan itu kau buat ketika kau memperbaiaki dirimu.” batinku.
Keysa tersenyum
kepadaku….
“Perlindungan-Nya yang
mampu menguatkanku untuk tetap berdiri Key... Ini caranya menjauhkan ku dari
laki-laki itu. Aku menyesal telah menduakan cinta-Nya dengan cinta laki-laki
itu. Dan sama dengan ucapku dulu, aku bukan tokoh wanita dalam novel itu. Hanya
masalalu kami yang sama, tapi takdir kami berbeda karna aku memiliki takdirku
sendiri. Aku bukan tokoh wanita dalam novel itu.” Lanjutnya mantap. Semantap
hatinya dan tatapan matanya. Ada ketenangan dan kegembiraan di sana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar