Kamis, 11 April 2013

“AKU” BUKAN TOKOH WANITA DALAM NOVEL ITU (part 3)


“Key, katakana padaku. Apa yang kau pikirkan saat kalian “berhubungan”? tanyaku hati-hati padanya.
Keysa terkejut menatapku, ku lihat raut wajahnya berubah. Kata-kata itu keluar begitu saja dari bibirku.  
“Key, maaf jika aku menyinggung perasaanmu. Aku hanya ingin tahu, ingatkah Kau pada keluargamu? Atau ingatkah bahwa ada yang tidak tidur dan selalu memperhatikan kalian?” tanyaku padanya.
Keysa diam… lama suaranya menggantung. Ku biarkan ia.
“Setiap aku mengikuti nafsunya, aku selalu berkata dalam hatiku “Aku tak mampu menghentikanmu karena kelemahanku mencintaimu sehingga kuturuti keinginanmu, namun aku tahu suatu saat Allah pasti akan menghentikan kita dengan cara-Nya.” Ucap Keysa…
Aku diam, tak tau apa yang harus ku sampaikan padanya. “Dan Allah membuktikan kekuasannya Key… Bukan hatimu dan cintamu yang Allah rubah Key.  Tetapi Allah merubah cinta dan hati laki-laki itu agar tidak lagi mencintaimu dan merusakmu Key.” Batinku lirih menyesalkan yang terjadi.
“Kau harus bangkit Key. Usahamu beberapa bulan ini harus kau lanjutkan jika kau tak ingin menjadi wanita dalam novel itu”. Ucapku padanya.
Keysa diam, ditatapnya mataku sekilas, dan ia tersenyum. Senyum getir pahit yang ku lihat darinya. “Kau akan belajar dari kesalahan Key dan aku yakin kau akan bangkit. Aku akan melihatmu bangkit dengan hidup barumu.” batinku.
Hari itu kami akhiri dengan kebisuan kami satu sama lain. Tak ada yang kami bahas lagi.  Diam membisu.
Dua tahun kemudian sejak diskusi kami hari itu. Aku kembali bertemu dengan Keysa di rumahku. Ia datang mengunjungiku saat ia tahu aku kembali dari tugasku di luar kota.
“Hai Key, tau saja kau aku datang hari ini.” Sapa ku saat ku lihat dia turun dari mobilnya.
“Jelas, aku kan mata-matamu. Aku selalu datang mengunjungi ibumu selama kau tidak di rumah. Harusnya aku yang menjadi anak ibumu bukan kau Sis. Labih sering aku bersama ibumu dibandingkan anaknya sendiri yang pergi menghilang entah kemana mengabdi menjadi dokter di negeri orang.” Jawabnya bangga sambil tersenyum.
“Bukan menghilang, tolong dikoreksi dokter Keysa. Hanya mencoba peruntungan di negeri orang dan membuktikan bahwa aku mampu. Ada kau di sini dan Roni untuk menyembuhkan orang-orang di daerah kita. Lebih baik aku mencari tempat lain yang juga membutuhkanku." jawabku tak mau kalah.
"Sudahlah jangan kau bahas tentang aku. Sepertinya ku lihat ada yang sedang bahagia Key.” Ejekku padanya saat ia telah ada di kamarku. Aku melihat wajah Keysa yang berseri-seri tidak seperti dua tahun silam saat kami terakhir kali bertemu.
“Siska, hidupku tidak berhenti. Kau yakin padaku bahwa aku akan bangkit, lalu kenapa aku tidak yakin pada diriku sendiri?” ucapnya yakin sambil tersenyum.
“OKe… good job Key.” Jawabku.
“Sekarang aku telah kembali bahkan lebih baik dari aku sebelumnya Sis. Semuanya luruh dalam doaku. Tidak bisa ku bayangkan aku bisa berdiri seperti ini. Aku tidak ingin menjadi tokoh wanita dalam novel itu. Tidak akan pernah Key.” Ucapnya mantap.
Kami berdua saling memandang dan tersenyum. Aku melihatnya sangat bahagia.
“Itu baru dokter hebat sahabatku. Kau bisa menyembuhkan pasien-pasienmu, tentunya tak butuh waktu lama untukmu bisa menyembuhkan dirimu sendiri. Aku hanya supporter di belakangmu.” Ucapku padanya, dan kami saling tersenyum satu sama lain.
“Kau tak akan pernah menjadi tokoh wanita dalam novel itu sahabatku. Kebahagiaan akan datang padamu seberapapun kesalahan itu kau buat ketika kau memperbaiaki dirimu.” batinku.
Keysa tersenyum kepadaku….
“Perlindungan-Nya yang mampu menguatkanku untuk tetap berdiri Key... Ini caranya menjauhkan ku dari laki-laki itu. Aku menyesal telah menduakan cinta-Nya dengan cinta laki-laki itu. Dan sama dengan ucapku dulu, aku bukan tokoh wanita dalam novel itu. Hanya masalalu kami yang sama, tapi takdir kami berbeda karna aku memiliki takdirku sendiri. Aku bukan tokoh wanita dalam novel itu.” Lanjutnya mantap. Semantap hatinya dan tatapan matanya. Ada ketenangan dan kegembiraan di sana.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar