Sabtu, 20 April 2013

BUS KU DATANG MENJEMPUTKU (part 3)


Seharian Roni menghindarinya, Keysa tahu itu. Setiap ia coba mendekati, selalu ada alasan bagi Roni untuk menghindarinya. Roni yang biasanya ceria dan hampir dapat dibilang banyak bicara, hari ini lebih banyak diam. Mbak Laras yang merasakan perubahan Roni sempat menanyakannya pada Keysa, namun Keysa hanya tersenyum dan menunjukkan bahwa tidak terjadi masalah. Dan Perawat itu pun tidak melanjutkan pertanyaannya.
Hal ini terus berlangsung hingga jam praktik mereka selesai. Keysa sangat merasa bersalah, ditambah ia tahu Anton menunggunya untuk pulang bersama.
Dilihatnya jam tangannya menunjukkan pukul 15.00 WIB. Keysa memutuskan menghampiri Roni, karna tidak seperti biasanya Roni belum datang ke ruangannya untuk mengajak pulang. Dia ketuk ruangan Roni, tidak ada sahutan dari dalam. Dibukanya pintu ruangan, dilihatnya Roni sedang membaringkan kepalanya bersandar pada kursi kerjanya sambil menutup mata. Didekatinya Roni.
“Ron, sudah jam pulang. Kamu sakit?” Tanya Keysa sambil menyentuh pundak Roni.
Roni yang sejak tadi tahu kedatangan Keysa masih tetap diam.
Keysa diam, berdiri di dekat Roni, tidak tahu harus bicara apa.
“Kamu pulang denganku.” Ucap Roni tiba-tiba sambil menatap Keysa lekat pada manik matanya.
Keysa terkejut mendapat perlakuan yang tiba-tiba dari Roni. Keysa yang bingung menemukan jawaban karna masih kaget, hanya diam gugup.
“Key, itu bukan pertanyaan, itu pernyataan.” Ucap Roni kemudian melihat ekspresi diam Keysa. Keysa masih diam mematung terkejut. Lama Keysa diam mematung mendapatkan tatapan dari Roni. Ya… tatapan itu yang membuat Keysa merasa Roni mencintainya. Tatapan itu membuat Keysa luluh hatinya. Ia seperti merasa diperintah dan dilindungi sekaligus.
Lama menunggu respon Keysa, Roni segera menyambar tasnya dan menggandeng tangan Keysa ke luar ruangan. Keysa hanya menurut. Ia tahu, inilah sikap Roni yang ia sukai. Ia balas genggaman tangan Roni dengan kuat.
Melihat respon Keysa, Roni sempat melihat ke arah Keysa sekilas dan ia lihat senyum itu mengembang dari sudut bibir Keysa. Roni tahu apa yang harus ia lakukan saat ini. Keysa miliknya, dan tidak akan pernah ia lepaskan untuk kesekian kalinya. Itu pikirnya.
“Mbak Laras, kami pulang duluan.” Sapa Roni pada perawat kesayangan mereka ketika dilihatnya Laras masih sibuk dengan beberapa catatannya.
Laras yang melihat Roni dan Keysa membalas mereka dengan senyum dan lambaian tangan.
Keysa dan Roni segera keluar klinik disambut sapaan hangat dari Pak Ahmad yang selalu dengan senang hati membukakan pintu bagi mereka.
“Terimakasih Pak.” Ucap Keysa tulus membalas bantuan Pak Ahmad disertai senyum dari Roni.
Mereka kemudian segera menuju tempat parkir. Namun terlambat,
“Key, kamu pulang sama aku.?” Tanya Anton tiba-tiba mengagetkan mereka sebelum Roni sempat membukakan pintu untuk Keysa, Anton datang menghampiri mereka. Mereka segera melihat ke arah sumber suara yang berada tepat dibelakang mereka.
Di sana Anton berdiri, menunggu jawaban Keysa untuk pulang bersamanya.
Keysa diam mematung. “Ini dia yang bikin aku mati cepet.” Rutukny dalam hati.
“Key, aku sudah menunggumu sejak tadi.” Ucap Anton lagi.
Keysa tidak menjawab. Diam dilihatnya dua laki-laki dihadapannya. “Andai Kau berikan aku ilmu menghilang Ya Allah, ijinkan ku menghilang dari kedua laki-laki ini untuk sesaat saja.” Batinnya dalam hati.
Mereka bertiga kemudian saling diam beberapa saat hingga akhirnya Roni tetap membukakan pintu untuk Keysa tanpa memperdulikan ucapan Anton.
“Key, kita pulang sekarang.” Ucap Roni datar sambil tersenyum ke arah Keysa setelah pintu mobil terbuka. Dan Keysa mengangguk.
Anton mencegah mereka dengan memegang lengan Keysa cukup kuat.
“Key… please.” Ucap Anton.
Keysa yang terkejut sempat menjerit kesakitan. Roni yang melihat sikap Anton segera menggengam tangan Anton yang masih berada di lengan Keysa.
“Singkirkan tanganmu. Dengan cara itu kamu menunjukkan sikap gentle mu dengan menyakiti perempuan?” ejek Roni pada Anton disertai senyum sinisnya, ditatapnya tepat di manik mata Anton. Mereka saling memandang dengan perasaan masing-masing.
“Lepaskan tanganmu.” Ucapnya lagi saat Anton tak juga bergeming dan ditepiskannya tangan Anton dari lengan Keysa. Keysa masih diam dan hampir melupakan rasa sakit yang ada dilengannya. Ia justru tegang melihat dua laki-laki didepannya yang berdiri saling berhadapan.
Anton memandang Roni dengan penuh kebencian, begitu juga dengan Roni.
“Dengar, saya tidak perduli apapun urusanmu dengan Keysa dan apa yang belum selesai dari kalian. Keysa pergi dengan saya dan pulang dengan saya. Jika kamu ingin membawanya, pergilah ke rumahnya dan ijinlah dengan kedua orang tuanya.” Kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Roni.
Anton yang masih diam tiba-tiba raut wajahnya berubah saat Roni menyebut kata kedua orang tua Keysa. Anton sedikit limbung, Roni tahu dengan pasti kelemahannya saat ini bahwa ia tak berani menghadapi orang tua Keysa karna kesalahannya dulu.
Roni yang tahu dirinya menang segera membimbing Keysa untuk masuk ke dalam mobil dan Keysa menurutinya. Dan ia sendiri segera pergi memasuki mobil. Mereka meninggalkan Anton yang masih diam melihat kepergian mereka.   
Sepanjang perjalanan mereka berdua diam. Keysa masih sibuk menenangkan hatinya. Sedangkan Roni hanya ingin menunggu reaksi dari Keysa. Tanpa Keysa sadari Roni tidak mengarahkan laju mobilnya ke rumah Keysa.
“Ron, kok kita di pantai.” Ucap Keysa tiba-tiba saat ia sadar dan melihat jalan yang mereka lalui sebagian besar adalah pantai.
“Kamu melamun sejak tadi dan baru sadar.” Balas Roni, dan Keysa kembali diam merasa bersalah. Ia sibuk dengan pikirannya sendiri sejak tadi hingga ia tidak memperhatikan laki-laki di sebelahnya.
Setelah tiba di pantai Roni segera memarkir mobilnya. Kemudia ia keluar, mengahampiri pasir pantai yang diterjang ombak kecil. Ia lepaskan sepatunya dan ia angkat sedikit celananya agar tidak basah. Ia tinggalkan Keysa sendiri dalam mobil. Ia berikan waktu Keysa untuk sendiri.
Keysa masih diam tidak tahu harus berbuat apa. Cukup lama Keysa memperhatikan tingkah Roni dari dalam mobil. Dan akhirnya ia putuskan untuk menemui Roni ketika diperhatikannya Roni sudah duduk di tepi pantai berhenti bermain-main dengan ombak.
Keysa duduk di sebelah Roni. Mereka sama-sama diam. Tidak ada yang bicara cukup lama. Dan kondisi ini benar-benar menyiksa Keysa. Akhirnya Keysa menyerah.
“Ron, kamu kecewa padaku?” Tanya Keysa kemudian tanpa memandang wajah Roni. Diperhatikannya pemandangan di depannya untuk menenangkan hatinya dan mengalihkan kecanggungan mereka.
Roni tidak segera menjawab. Dilihatnya Keysa sekilas dan dialihkan kembali perhatiannya pada ombak yang masih sibuk bercengkrama dengan pasir.
“Ron, aku minta maaf.” Ucap Keysa lagi dipandangnya wajah Roni dari samping. Diperhatikannya lekat…
Melihat sikap Keysa, Roni hanya tersenyum. Dan membuat Keysa semakin bingung.
“Ron, kenapa kamu malah senyum?” Tanya Keysa bingung.
“Gak ada yang perlu dimaafkan.” Jawab Roni singkat. Ditatapnya mata Keysa sambil diusapnya lembut kepala Keysa.
Pandangan itu meneduhkan Keysa. Pandangan itu membuat Keysa jatuh hati pada Roni.
“Key, aku tau apa yang harus aku lakukan.” Ucap Roni pada Keysa mantap, ditatapnya wajah perempuan disebelahnya lekat. Senyum itu mengembang dari bibirnya. Kemudian dialihkan perhatiannya kembali pada ombak dan pasir pantai yang masih berkejar-kejaran.
Keysa semakin bingung dengan ucapan Roni, namun ia tidak ingin menanyakan lebih lanjut. Keysa tahu dengan pasti Roni mencintainya.
Keysa mengikuti arah pandangan Roni dan ia sandarkan kepalanya pada bahu Roni dan dipeluknya erat lengan Roni.
Terlihat sebuah senyum dari sudut bibir Roni, diusapnya lembut kepala Keysa.
“Aku ingin kamu di hatiku Ron, hanya kamu di sana nantinya. Dan ijinkan aku sekali ini saja untuk meyakinkan diriku bahwa hanya kamu di sana nantinya.” Ucap Keysa dalam hatinya.
Mereka kembali diam satu sama lain… 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar