Selasa, 26 Maret 2013

DIA BUKAN ALASAN UNTUKKU MENANGIS DAN TERTAWA


DIA BUKAN ALASAN UNTUKKU MENANGIS DAN TERTAWA

“Ia datang. Pada akhirnya Ia benar-benar kembali,”  keluhnya. Ditariknya nafas dalam-dalam, dihembuskannya perlahan berusaha menenangkan diri. Berkali-kali hal itu ia lakukan, tetapi hatinya masih tetap sakit. Wajahnya terlihat lesu, pucat, tatapannya kosong. Tak satupun bintang yang menarik baginya malam itu, karena ada hal yang lebih menyita perhatiannya. Pertemuannya dengan masa lalunya.
Siang itu, semua yang berusaha ia lupakan 2 tahun terakhir semuanya terurai kembali dihadapannya, semuanya terlihat nyata.
“Tak bisakah kau ijinkan aku hidup tenang?” tanyanya dalam hati, lebih pada dirinya sendiri.
Malam itu ia kembali pada rutinitasnya beberapa tahun lalu, duduk  menyendiri, menatap langit yang tak berujung, hitam kelam.
--------------------------------
Pagi-pagi sekali Keysa bangun, dilihatnya jam bekernya telah menunjukkan pukul 5 pagi. Setelah sholat subuh, seperti biasa, ia segera mandi dan bersiap pergi kerja.
“Semangat Key, kamu harus bangkit.” Ucap Keysa pada bayangannya dicermin. “Dia sudah tidak berarti lagi bagi hidupmu kan? Kamu bisa melalui ini, 2 tahun ini kamu berhasil, jadi jangan sia-siakan kerja kerasmu Key.” Ucapnya lagi mantap masih memandang bayangan dirinya dalam cermin. Ditatapnya bayangannya dicermin, diperhatikaannya lekat-lekat wajahnya. Ia masih tak mengerti mengapa dulu laki-laki itu tega meninggalkannya. Meninggalkannya begitu saja dengan alasan keluarga hingga detik ini. Dan sekarang ia kembali, membuat dadanya terasa sesak. Ia tak mau meminta penjelasan apapun, tidak pada orang yang bahkan tidak pernah mencarinya selama 2 tahun ini untuk meminta maaf.
Setelah sadar dari lamunannya, tatapan Keysa kemudian beralih ke jam di tangannya “sudah waktunya berangkat” ucapnya, ditatapnya kembali penampilannya hari itu di dalam cermin “sempuran” batinnya dalam hati. Kemudian ia berangkat setelah berpamitan pada kedua orang tuanya.
-------------------------------------------
Keysa tiba ditempat praktiknya, dilihatnya sudah ada beberapa orang yang duduk di ruang tunggu pasien. Keysa segera mempercepat langkahnya memasuki klinik.
“Pagi dok.” Sapa security ramah sambil membukakan pintu ketika dilihatnya Keysa hendak masuk.
“Pagi Pak Ahmad.” Jawab Keysa sambil memberikan senyum termanisnya pagi itu pada security itu yang di bajunya tertulis nama Ahmad.
Baru beberapa langkah Keysa berjalan, Pak Ahmad kembali memanggilnya.
“Dokter Keysa sebentar.”
Keysa yang sempat terkejut kontan saja langsung berbalik melihat kembali ke arah Pak Ahmad berdiri.
“Iya Pak.” Jawab Keysa tanpa melupakan untuk tersenyum, karena itu modal utamanya, keramahan.
“Ada yang menunggu dokter sejak tadi pagi, tapi sekarang sudah pulang, baru saja sebelum dokter datang.” Keysa yang merasa itu hal wajar sedikit mengangkat alisnya tak mengerti. Toh selama ini ia memang selalu ditunggu pasien-pasiennya.
“Sepertinya saya baru melihatnya dok. Seorang laki-laki, dari pakaiannya sepertinya dia bukan orang sembarangan karena penampilannya rapi sekali. Dan sepertinya juga dia kemari bukan untuk berobat.” Ucap Pak Ahmad kemudian seakan mengarti kebingungan Keysa.
Keysa berpikir sejenak siapa yang mencarinya. Karena tidak memiliki ide, Keysa segera mengabaikan orang itu.
“Terimakasih Pak. Kalau dia perlu penting dengan saya, pasti dia akan datang lagi.” Ucap Keysa yang kemudian pamit untuk masuk keruangannya.
Hari itu pasien Keysa cukup banyak. Ia bersyukur, kesibukannya selama ini sebagai dokter telah membantunya melupakan masalahnya selama 2 tahun ini.
Setelah selesai dengan semua pasiennya, Keysa memutuskan untuk pulang.
“Mbak Laras.” Panggil Keysa pada perawat yang selalu setia mendampinginya ini ketika dilihatnya Laras sedang sibuk dengan daftar-daftar pasien.
“Iya dok.” jawab Laras yang segera beralih ke arah Keysa.
“Sudah selesai kan Mbak? Aku boleh pulang duluan?” Tanya Keysa pada Laras.
Laras hanya tersenyum dan mengangguk.
“Heeem…habis ini  dokter Roni yang jaga?” tanya Keysa kembali sebelum ia benar-benar pergi.
“Iya dok. Nanti dokter Roni sampai jam 9  malam. Sebentar lagi juga datang. Nggak mau nunggu dok?” Tanya Laras kemudian sambil tersenyum. Keysa yang mengerti bahwa Laras sedang menggodanya hanya tersenyum dan menggelengkan kepalnya, kemudian ia berpamitan pada perawat itu.
Klinik tempat Laras bekerja adalah klinik 24 jam yang dibangunnya bersama empat teman kuliahnya. Sehingga mereka mengatur jadwal piket setiap harinya selain piket mereka di rumah sakit. Diantara ke empat temannya tersebut, belakangan Keysa merasakan ada yang aneh dari perhatian Roni kepadanya. Keysa senang, namun masih ada masalah yang menurutnya harus lebih dulu ia selesaikan sebelum ia benar-benar mempertimbangkan Roni untuk masuk ke dalam kehidupannya.
Keysa segera menuju tempat parkir. Hari itu ia lelah sekali. Ia hanya ingin segera tiba dirumah dan istirahat.
Baru saja sampai di pintu, dilihatnya laki-laki yang tidak asing baginya yang baru saja dilihatnya lagi dari jauh siang kemarin. Jantungnya seakan berhenti berdetak, kedua kakinya seakan lemas tak berdaya. “Ia datang.” Ucapnya dalam hati. Tatapannya kosong kearah laki-laki itu.
“Dok.” Ucap Pak Ahmad yang kemudian menyadarkan Keysa  yang entah sudah berapa lama berdiri di depan meja security.
Keysa tampak gugup, dilihatnya sekilas Pak Ahmad, kemudian pandangannya kembali beralih ke sosok laki-laki yang sekarang sedang berdiri di luar yang masih belum sadar bahwa Keysa ada di dekat pintu.
“Dok. Laki-laki yang saya katakana tadi pagi, sejak kemarin saya sudah melihatnya dok. Sekarang dia menunggu dokter di luar.” Ucap Pak Ahmad yang kembali menyadarkan Keysa sambil menunjuk kearah laki-laki yang dikenalnya itu.
Keysa yang tiba-tiba diserang ketakutan jadi teramat gugup. Kemudian ia memutuskan untuk segera pergi dari tempat itu sebelum laki-laki itu melihatnya. Diberikannya senyum sekilas kearah Pak Ahmad sebagai ucapan terimakasih yang kemudian membukakan pintu untuk Keysa.
Keysa berjalan cepat ke arah mobilnya diparkir. Ia hanya berharap laki-laki itu tidak melihatnya. Namun terlambat. Tatapan mereka bertemu saat Keysa sekilas melihat kearah laki-laki itu.
“Key.” Ucap laki-laki itu berusaha menghampiri Keysa.
Keysa segera mempercepat langkahnya. Tidak dipeduliakannya panggilan laki-laki itu dan suara langkah kaki yang berusaha mengejar. Diambilnya kunci mobil, dan kemudian dibukanya. Ia hanya ingin segera masuk ke dalam mobil dan pergi. Tepat saat Keysa hendak membuka pintu mobil, tangan laki-laki itu menahannya.
“Keysa, tunggu.” Ucap laki-laki itu pelan.
Keysa hanya terdiam. Menahan detak jantungnya yang mungkin sekarang sudah tidak ia rasakan lagi ketika tangan laki-laki itu menyentuh bahunya. Sentuhan yang selama ini ia kenal dan selalu ia rindukan.
“Key.” Ucap laki-laki itu lirih menunggu reaksi Keysa yang masih tetap diam tak mempedulikannya.
Keysa kemudian mencoba membuka pintu mobilnya tanpa mempedulikan laki-laki itu, namun tangan kiri laki-laki itu menanahannya.
“Key. Please. Bisa kita bicara sebentar?” Pinta laki-laki itu lebih terlihat seperti memohon.
Keysa masih diam, berusaha mengatur nafasnya. Mengatur hatinya, dan yang paling penting mengatur air matanya agar tidak jatuh di depan laki-laki itu.
“Key. Please.” Ucap laki-laki itu lagi.
Keysa yang sudah membulatkan tekad untuk kuat, akhirnya memutuskan untuk menghadapi laki-laki itu.
“Hi, Ton.” Ucap Keysa tiba-tiba.
Laki-laki yang dipanggilnya Anton itu terkejut melihat perubahan Keysa yang tiba-tiba. Hampir saja ia tersentak mundur.
“Key.” Ucap Anton lagi.
Keysa hanya tersenyum memandang lekat wajah laki-laki di depannya.
“Udah lama gak ketemu. Ada perlu apa cari aku?” tanya Keysa ringan dengan senyum diwajahnya, berusaha bersikap biasa. Ditahannya air matanya yang sudah bersiap menyeruak keluar.
Anton yang tidak menyangka akan mendapatkan perlakuan seperti itu dari Keysa hanya bisa diam, dilepasnya genggamannya dari lengan Keysa dan dari pintu mobil. Selama ini ia membayangkan jika Keysa akan berteriak histeris dan memakinya kemudian menangis, namun  ia salah. Keysa yang dilihatnya saat ini tampak anggun dan tenang. Dia jadi gugup sendiri melihat Keysa yang begitu sempurna dimatanya. Keysa yang ini dilihatnya adalah Keysa yang hingga kini membuatnya jatuh cinta. Ia sadar, jika Keysa bersikap seperti ini, itu pertanda buruk untuknya.
“Kok jadi kamu yang diam? Kenapa Ton, bingung?” tanya Keysa kemudian sambil tersenyum, sinis pada Anton. Ditatapnya laki-laki itu tepat dimanik-manik matanya. Laki-laki itu gugup, pikir Keysa. Ia merasa menang.
“Ok, Ton. Kalau sudah tidak ada yang mau dibicarakan lagi. Aku masih ada perlu, bisa kamu minggir sedikit? Aku mau masuk mobil.” Ucap Keysa tegas ketika dilihatnya Anton masih tetap diam tak bereaksi, Keysa segera membuka mobilnya.
Jangan kamu pikir kamu akan lihat Keysa yang akan memohon-mohon penjelasan padamu Ton, kamu gak akan pernah lihat itu. Cukup sudah 2 tahun waktu yang ku berikan, ucap Keysa dalam hatinya setelah ia berhasil duduk di dalam mobilnya. Tak butuh waktu lama untuk Keysa segera meninggalkan Anton yang masih mematung menyaksikan kepergian Keysa.
                                                ---------------
“Kenapa kamu datang lagi?” teriak Keysa disela isak tangisnya. Tangis Keysa tumpah sesaat setelah ia meninggalkan Anton di tempat parkir. Ia tidak ingin Anton melihatnya rapuh, Keysa tidak ingin Anton melihat air matanya.
Dikemudikannya mobilnya ke arah pantai, hari itu ia ingin sendiri. Ia tidak ingin Ibunya tahu masalahnya. Ia tidak ingin Ibunya tahu bahwa Anton kembali hadir dalam kehidupannya. Sudah cukup Anton membuat dirinya dan keluarga besarnya malu. Ia tidak ingin Ibu dan Ayahnya kembali terkenang lagi masalah itu.
Ditepikannya mobilnya di  tepi pantai. Ia kelur mobil, ditinggalkan sepatunya di dalam mobil dan ia berjalan disepanjang tepi pantai itu tanpa alas kaki.
Hatinya tenang ketika air laut membasuh kakinya, mengalirkan sensasi dingin yang mampu menyejukkan jiwanya, membantunya menghapus sedikit demi sedikit sakit dihatinya.
Setelah lelah berjalan ia duduk sendiri menghadap kearah pantai. Sunset itu begitu indah, pikirnya. Dulu ia sering sekali ke pantai ini bersama Anton saat Anton mengunjunginya, duduk berdua sekedar menikmati indahnya sunset di pantai itu terasa menyenangkan. Semua kenangan itu terus bergulir satu persatau. Memberikan sensasi ganjil di hatinya. Dadanya sesak, untuk kesekian kali air matanya jatuh.  
Hanya ini yang tersisa darinya dan Anton, pikirnya. Kenangan indah meskipun menyakitkan ketika diingatnya pengkhianatan Anton padanya.
Setelah lelah, dan sunset itupun menghilang, Keysa memutuskan untuk kembali pulang kerumah. Ia ingin segera tidur malam itu.
                                    ----------------------------
Pukul 10 malam Keysa bersiap tidur, ketika handphonenya berbunyi. Diambilnya handphone itu dari tempatnya, tertera nama Roni di sana. Keysa tersenyum, jauh dilubik hatinya, ia senang.
“Assalamualaikum.” Sapa Keysa ramah.
“Walaikumsalam. Hi Key, udah mau tidur?” tanya suara disebarang.
“Iya tadinya, tapi suara telfon kamu menggangguku.” Ucap Keysya.
“Jadi gak suka nie aku telfon?” Tanya Roni bercanda.
“Iya gak suka, tapi udah terlanjur gak apa deh, lagian kasian orang yang pengen denger suara ku.” Ucap Keysa lagi tertawa geli.
Roni yang mendengar ocehan Keysa jadi tertawa geli. Sejak satu tahun terakhir ini, Roni memang memberikan perhatian lebih pada Keysa. Roni tidak bisa berbohong pada dirinya bahwa sejak dulu ia menyukai Keysa, sejak mereka masih kuliah. Namun Kesay tidak pernah melihatnya karena selalu ada Anton di hati Keysya, hingga akhirnya kesempatan itu datang padanya ketika Anton meninggalkan Keysa.
“Baru pulang Ron?” tanya Keysa.
“Iya, capek banget. Tadi kok gak nunggu aku dateng?” Tanya Roni.
Dan akhirnya malam itu Keysa tidur pukul 12 malam. Keysa selalu merasa nyaman setiap ngobrol dengan Roni. Roni smart, tampan dan yang paling penting bagi Keysa Roni mencintainya, mungkin, pikir Keysa. Malam itu ia melupakan Anton dan tidur dengan tenang membayangkan apa yang akan terjadi esok ketika Roni mengajaknya keluar.
                                    -----------------------------
“Akhirnya.”  Ucap Keysa setelah melihat hasil kerjanya sejak pagi. Keysa tersenyum sendiri melihat wajahnya. Mungkin aku tidak cantik, tapi aku akan membuat semua mata tertuju pada ku karna itu aku, ucap Keysa percaya diri. Hari itu ia ada janji dengan Roni. Kebetulan sekali hari itu Keysa dan Roni libur.
Baru saja Keysa akan keluar kamar, Ibunya memanggilnya.
“Key, Roni sudah datang.” Panggil Ibunya.
Keysa yang memang sudah siap sejak tadi segera mengambil tas dan handphonennya, kemudian dilihatnya sekali lagi bayangannya dicermin “sempurna” ucapnya dan kemudian keluar dari kamar.
“Bu, Keysa pergi dulu ya.” Pamitnya pada ibunya ketika dilihatnya ibunya sedang di dapur.
Ibu Keysa kemudian mengikuti anaknya hingga ke ruang tamu. Tanpa banyak basa-basi, Roni kemudian pamit ke Ibu Keysa untuk mengajak putrinya pergi. Ibu Keysa yang sangat mendukung hubungan mereka tentu saja mengijinkan. Diperhatikannya Keysa dan Roni, terselip sedikit doa dalam hatinya. “Ya Allah, jadikanlah dia jodoh yang tepat dan terbaik untuk anak ku dari-Mu.”. dilihatnya kemudian mereka menghilang.           
Dari kejauhan, seseorang yang sejak tadi memperhatikan Keysa dan Roni kemudian pergi menjalankan mobilnya mengikuti mereka berdua.
                                                ----------------
“Hari ini kita mau kemana Ron?” tanya Keysa pada Roni sesaat setelah mereka berangkat.
“Ada deh. Surprise dong.” Ucap Roni pada Keysa.
Keysa akhirnya mengalah setelah membujuk Roni habis-habisan namun tetap tak berhasil membuat laki-laki itu bicara.
Perjalanannya tidak begitu jauh, kurang lebih satu jam kemudian mereka tiba disebuah vila. Disekitar vila itu merupakan perkebunan teh dan ada hutan cemara di sekeliling vila itu.
Sangat sejuk, pikir Keysa ketika ia turun dari mobil. Dihirupnya udara yang segar dalam-dalam seakan takut jika ia membuka mata nantinya udara itu akan menghilang.
“Bagaimana?” Tanya Roni yang sudah berdiri di sebelahnya.
“Ini keren banget Ron. Aku suka, suka sekali. Makasih ya.” Ucap Keysa tulus sambil merentangkan tangan dan memejamkan mata, berusaha menikmati setiap detik kesegaran udara yang dihirupnya. Hatinya begitu tenang dan nyaman.
Roni hanya tersenyum melihat ulah gadis di sebelahnya ini. Dibiarkannya Keysa menikmati pemandangan disekitarnya terlebih dahulu.
“Key, kita masuk yuk.” Ajak Roni kemudian kepada Keysa. Roni mengajak Keysa masuk ke vila keluarganya. Tidak terlalu besar, namun cukup unik dan klasik menurut pandangan Keysa. Ia menyukainya.
“Key, sini deh. Aku tunjukin sesuatu.” Ajak Roni menarik tangan Keysa setelah mereka ada di dalam rumah.
Keysa yang penasaran hanya bisa mengikuti kemana langkah kaki Roni membawanya. Roni mengajak Keysa naik ke sebuah tangga, sepertinya akan ke atap, pikir Keysa.
Dan ternyata pikirannya benar. Di atap itu ada taman bunga yang indah yang tertata rapi. Ada sebuah ayunan besar di tengah taman itu.
“Indah sekali.” Ucap Keysa yang benar-benar tidak bisa menyembunyikan kekagumannya terutama setelah ia tahu bahwa dari sana ia bisa melihat  jauh  seluruh perkebunan teh dan hutan cemara yang ada di sana yang tersusun rapi. Sangat indah, ucap Keysa lagi dalam hatinya.
“Makasih ya Ron, kamu udah ajak aku ketempat yang indah kayak gini.” Ucap Keysa tulus. Roni hanya tersenyum.
“Kamu akan lebih berterimakasih lagi kalau melihatnya  malam nanti. Kamu akan lihat pemandangan yang berbeda , gelap memang, tapi lampu-lampu dari desa itu akan memantulkan sedikit cahaya sehingga kita bisa melihat indahnya daerah ini pada malam hari.” Ucap Roni kemudian.
“Apa itu berarti kita harus menginap?” tanya Keysa ragu.
“Hanya jika kamu tidak keberatan.” Ucap Roni kemudian.
“Tapi aku belum ijin Ibu tadi.” Ucap Keysa jujur  dan sedikit ragu.
“Aku udah ijin ke Ibu tadi. Kamu boleh telfon Ibu kalau gak percaya.” Ucap Roni menjelaskan. Keysa hanya tersenyum. Roni selalu tahu apa yang ia pikirkan dan butuhkan, karena itulah ia nyaman berada di dekat Roni.
“Ok. Hari ini kita keliling perkebunan dan hutan dulu gimana?” Tawar Roni pada Keysa. Keysa segera mengiyakan tawaran Roni tanpa panjang lebar.
                                                ---------------------
Seharian mereka berdua mengelilingi perkebunan itu, hampir sebaagian perkebunan itu milik keluarga Roni. Beberapa pekerja yang telah mengenal Roni menyapa mereka. Keysa melihat Roni begitu ramah, dewasa, pintar dan tak begitu banyak bicara namun ia tipe orang yang sangat peka. Keysa tidak bisa bohong pada dirinya bahwa ia memang mencintai Roni.
“Kenapa senyum-senyum?” tanya Roni pada Keysa ketika dilihatnya gadis itu tersenyum sendiri.
“Heeem..gak ada apa-apa kok. He..he..” Jawab Keysa yang kemudian memberikan senyum termanisnya pada Roni. Roni yang gemas melihat tingkah Keysa kemudian mengacak-acak raambut Keysa. Keysa yang tidak terima rambutnya berantakan marah-marah pada Roni, dan Roni hanya bisa menghidar serangan-serangan dari Keysa. Akhirnya mereka berdua berkejar-kejaran di sekitar perkebunan itu. Mereka berdua terlihat sebagai pasangan yang sangat bahagia.
“Ron, aku kan gak bawa baju ganti.” Ucap Keysa mengingatkan ketika mereka sudah duduk di rumput depan vila. Keysa duduk disebelah Roni. Disandarkannya kepalanya dibahu Roni.
Roni yang mulanya berpikir sebentar, kemudian memiliki ide untuk mereka berbelanja di pasar terdekat sambil membeli beberapa makanan  untuk bekal mereka nanti malam. Keysa menyetujui ide itu. Akhirnya mereka pergi berbelanja.
                                    ------------------------------
“Gimana? Aneh ya aku pakai baju ini?” tanya Keysa pada Roni ssetelah ia selesai mandi.
Tidak ada baju yang menurut Keysa bagus di pasar itu.
“Heeem…lumayan” ucap Roni  setelah menimbang-nimbang.
Keysa yang tidak terima akhirnya berwajah masam duduk di sebelah Roni yang sedang asik menonton TV. Sebenarnya Roni hanya ingin menggoda Keysa. “Kamu pakai apa aja cocok Key.” Ucap Roni dalam hati ketika dilihatnya Keysa masih cemberut.
“Kita makan apa malam ini Key?” tanya Roni kemudian mengalihkan perhatian Keysa.
“Bagaimana kalau sup jagung saja biar hangat kan tadi kita beli jagung.” Ucap Keysa memberi  usul yang langsung disetujui oleh Roni.
Akhirnya mereka segera masak. Roni memperhatikan Keysa sangat cekatan dalam memasak. Setelah selesai, mereka sepakat untuk makan malam di taaman atas sambil melihat pemandangan di sekitar mereka.
Malam itu sungguh sempurna. Selesai makan, Roni mengajak Keysa duduk di ayunan yang ada ditengah taman. Keysa duduk disebelah Roni. Mereka mengobrol tentang banyak hal, mulai dari pekerjaan, pengetahuan, dan kehidupan.
“Key, dingin ya?” tanya Roni yang melihat Keysa sudah agak menggigil. Keys hanya tersenyum. Waktu memang beranjak semakin malam, tanpa terasa sudah pukul 10 malam. Dipegangnya tangan Keysa, sangat dingin. Kemudia ditariknya gadis itu mendekat kepadanya, dipeluknya Keysa, dimasukkannya kedua tangan Keysa kedalam jaketnya. Keysa hanya menurut.
Mereka masih disana dengan posisi Roni memeluk Keysa dari belakang ketika tanpa sadar seseorang memperhatikannya dari jauh.
“Key, kamu sudah benar-benar melupakan aku?” Tanya laki-laki itu lebih pada dirinya sendiri.
“Key, aku sayang kamu.” Ucap Roni lirih ditelinga Keysa.
Keysa yang masih dalam pelukannya tiba-tiba terdiam. Keysa yakin Roni bisa merasakan denyut jantungnya sekarang karena mereka begitu dekat, dan Keysa juga bisa mendengar detak jantung Roni karena wajah Keysa tepat didada Roni yang sama kuatnya dengan detak jantungnya sendiri.
 “Key.” Panggil Roni kemudian ketika dilihatnya Keysa masih terdiam tak bereaksi.
Keysa hanya menggumam lirih.
“Apa aku punya kesempatan Key?” tanya Roni kemudian.
Lama kemudian keduanya terdiam. Roni masih menunggu reaksi Keysa yang masih tetap dalam pelukannya. Suasanan semakin dingin, Roni mempererat pelukannya pada Keysa dan Keysa tidak melawan.
“Ron.” Panggil Keysa kemudian akhirnya bersuara.
Ditatanya hatinya sendiri agar ia tidak menyakiti Roni. Keysya berusaha menjcari kalimat yang tepat.
“Aku gak tahu apa yang aku rasain ke kamu. Aku nyaman ada di deket kamu. Aku gak ingin kehilangan kamu. Aku gak tahu apa itu benar-benar cinta untuk kamu. Sepertinya memang iya itu cinta, tapi Ron.” Ucap Keysa tiba-tiba berhenti. Ia berhenti sejenak untuk mempersiapkan hatinya.
“Ron, kamu tahu kan nasibku 2 tahun lalu?” Tanya Keysa pada Roni dan Roni hanya mengangguk.
“Ron, sampai detik ini hidupku masih terpengaruh dengan masalah itu. Masih ada dia di sana Ron, di hatiku.” Ucap Keysa. Roni terdiam, merasakan dadanya tiba-tiba sakit mendengar ucapan Keysa. Tanpa sadar, ia mengendurkan pelukannya, Keysa mengyadari itu.
Kemudian Keysa memilih duduk tidak lagi bersandar pada Roni. Di tatapnya wajah Roni lekat-lekat.
“Ron, aku tahu pasti kamu kecewa. Tapi aku ingin kamu tahu yang sebenarnya. Ron, aku yakin aku sayang sama kamu. Tapi aku juga yakin, ketika laki-laki itu datang nantinya, hatiku masih tepengaruh oleh kedatangannya. Dan aku gak mau ngecewain kamu. Aku mau kita memulai hubungan kita di saat aku benar-benar hanya mencintaai kamu Ron. Di saat aku yakin kedatangannya tidak lagi mengganggu pikiran ku.” Ucap Keysa kemudian.
Tanpa sadar Roni langsung memeluk Keysa kembali seerat mungkin seakan tidak akan pernah ia lepaskan.
“Key, aku harap itu benar-benar cinta untukku. Dan aku akan siap nunggu sampai kamu bilang hati kamu hanya untukku.” Ucap Roni.
Keysa hanya mengangguk, berjanji pada dirinya sendiri tidak akan menyakiti Roni.
Malam itu mereka berdua berpelukan erat, seakan tidak mampu melepaskan satu sama lain.  Roni yakin Keysa mencintainya.
“Aku mencintaimu Ron. Aku yakin itu cinta untukmu. Tapi Ijinkan Aku menghapusnya dan meyakinkan diriku bahwa Dia bukan lagi alasan untukku menangis dan tertawa”.  Ucap Keysa dalam hatinya.

Mungkinkah ini cinta?
Setelah ia pergi dan tersakiti
Mungkinkah benar rasa?
Setelah ia hancur
Mungkinkah ia kembali?
Kedalam relup hati
Yang pernah tersakiti,
Yang pernah terhianati
------The End -----




Tidak ada komentar:

Posting Komentar