DIA
BUKAN ALASAN UNTUKKU MENANGIS DAN TERTAWA
“Ia datang. Pada akhirnya Ia benar-benar
kembali,” keluhnya. Ditariknya nafas
dalam-dalam, dihembuskannya perlahan berusaha menenangkan diri. Berkali-kali
hal itu ia lakukan, tetapi hatinya masih tetap sakit. Wajahnya terlihat lesu,
pucat, tatapannya kosong. Tak satupun bintang yang menarik baginya malam itu,
karena ada hal yang lebih menyita perhatiannya. Pertemuannya dengan masa
lalunya.
Siang itu, semua yang berusaha ia
lupakan 2 tahun terakhir semuanya terurai kembali dihadapannya, semuanya
terlihat nyata.
“Tak bisakah kau ijinkan aku hidup
tenang?” tanyanya dalam hati, lebih pada dirinya sendiri.
Malam itu ia kembali pada rutinitasnya
beberapa tahun lalu, duduk menyendiri, menatap
langit yang tak berujung, hitam kelam.
--------------------------------
Pagi-pagi sekali Keysa bangun,
dilihatnya jam bekernya telah menunjukkan pukul 5 pagi. Setelah sholat subuh,
seperti biasa, ia segera mandi dan bersiap pergi kerja.
“Semangat Key, kamu harus bangkit.” Ucap
Keysa pada bayangannya dicermin. “Dia sudah tidak berarti lagi bagi hidupmu
kan? Kamu bisa melalui ini, 2 tahun ini kamu berhasil, jadi jangan sia-siakan
kerja kerasmu Key.” Ucapnya lagi mantap masih memandang bayangan dirinya dalam cermin.
Ditatapnya bayangannya dicermin, diperhatikaannya lekat-lekat wajahnya. Ia
masih tak mengerti mengapa dulu laki-laki itu tega meninggalkannya.
Meninggalkannya begitu saja dengan alasan keluarga hingga detik ini. Dan
sekarang ia kembali, membuat dadanya terasa sesak. Ia tak mau meminta
penjelasan apapun, tidak pada orang yang bahkan tidak pernah mencarinya selama
2 tahun ini untuk meminta maaf.
Setelah sadar dari lamunannya, tatapan
Keysa kemudian beralih ke jam di tangannya “sudah waktunya berangkat” ucapnya,
ditatapnya kembali penampilannya hari itu di dalam cermin “sempuran” batinnya
dalam hati. Kemudian ia berangkat setelah berpamitan pada kedua orang tuanya.
-------------------------------------------
Keysa tiba ditempat praktiknya,
dilihatnya sudah ada beberapa orang yang duduk di ruang tunggu pasien. Keysa
segera mempercepat langkahnya memasuki klinik.
“Pagi dok.” Sapa security ramah sambil membukakan pintu ketika dilihatnya Keysa
hendak masuk.
“Pagi Pak Ahmad.” Jawab Keysa sambil
memberikan senyum termanisnya pagi itu pada security itu yang di bajunya
tertulis nama Ahmad.
Baru beberapa langkah Keysa berjalan, Pak
Ahmad kembali memanggilnya.
“Dokter Keysa sebentar.”
Keysa yang sempat terkejut kontan saja
langsung berbalik melihat kembali ke arah Pak Ahmad berdiri.
“Iya Pak.” Jawab Keysa tanpa melupakan
untuk tersenyum, karena itu modal utamanya, keramahan.
“Ada yang menunggu dokter sejak tadi
pagi, tapi sekarang sudah pulang, baru saja sebelum dokter datang.” Keysa yang
merasa itu hal wajar sedikit mengangkat alisnya tak mengerti. Toh selama ini ia
memang selalu ditunggu pasien-pasiennya.
“Sepertinya saya baru melihatnya dok. Seorang
laki-laki, dari pakaiannya sepertinya dia bukan orang sembarangan karena
penampilannya rapi sekali. Dan sepertinya juga dia kemari bukan untuk berobat.”
Ucap Pak Ahmad kemudian seakan mengarti kebingungan Keysa.
Keysa berpikir sejenak siapa yang
mencarinya. Karena tidak memiliki ide, Keysa segera mengabaikan orang itu.
“Terimakasih Pak. Kalau dia perlu
penting dengan saya, pasti dia akan datang lagi.” Ucap Keysa yang kemudian
pamit untuk masuk keruangannya.
Hari itu pasien Keysa cukup banyak. Ia
bersyukur, kesibukannya selama ini sebagai dokter telah membantunya melupakan
masalahnya selama 2 tahun ini.
Setelah selesai dengan semua pasiennya,
Keysa memutuskan untuk pulang.
“Mbak Laras.” Panggil Keysa pada perawat
yang selalu setia mendampinginya ini ketika dilihatnya Laras sedang sibuk
dengan daftar-daftar pasien.
“Iya dok.” jawab Laras yang segera
beralih ke arah Keysa.
“Sudah selesai kan Mbak? Aku boleh
pulang duluan?” Tanya Keysa pada Laras.
Laras hanya tersenyum dan mengangguk.
“Heeem…habis ini dokter Roni yang jaga?” tanya Keysa kembali
sebelum ia benar-benar pergi.
“Iya dok. Nanti dokter Roni sampai jam
9 malam. Sebentar lagi juga datang.
Nggak mau nunggu dok?” Tanya Laras kemudian sambil tersenyum. Keysa yang
mengerti bahwa Laras sedang menggodanya hanya tersenyum dan menggelengkan
kepalnya, kemudian ia berpamitan pada perawat itu.
Klinik tempat Laras bekerja adalah
klinik 24 jam yang dibangunnya bersama empat teman kuliahnya. Sehingga mereka
mengatur jadwal piket setiap harinya selain piket mereka di rumah sakit.
Diantara ke empat temannya tersebut, belakangan Keysa merasakan ada yang aneh
dari perhatian Roni kepadanya. Keysa senang, namun masih ada masalah yang
menurutnya harus lebih dulu ia selesaikan sebelum ia benar-benar
mempertimbangkan Roni untuk masuk ke dalam kehidupannya.
Keysa segera menuju tempat parkir. Hari
itu ia lelah sekali. Ia hanya ingin segera tiba dirumah dan istirahat.
Baru saja sampai di pintu, dilihatnya
laki-laki yang tidak asing baginya yang baru saja dilihatnya lagi dari jauh
siang kemarin. Jantungnya seakan berhenti berdetak, kedua kakinya seakan lemas
tak berdaya. “Ia datang.” Ucapnya dalam hati. Tatapannya kosong kearah
laki-laki itu.
“Dok.” Ucap Pak Ahmad yang kemudian
menyadarkan Keysa yang entah sudah
berapa lama berdiri di depan meja security.
Keysa tampak gugup, dilihatnya sekilas
Pak Ahmad, kemudian pandangannya kembali beralih ke sosok laki-laki yang
sekarang sedang berdiri di luar yang masih belum sadar bahwa Keysa ada di dekat
pintu.
“Dok. Laki-laki yang saya katakana tadi
pagi, sejak kemarin saya sudah melihatnya dok. Sekarang dia menunggu dokter di
luar.” Ucap Pak Ahmad yang kembali menyadarkan Keysa sambil menunjuk kearah
laki-laki yang dikenalnya itu.
Keysa yang tiba-tiba diserang ketakutan
jadi teramat gugup. Kemudian ia memutuskan untuk segera pergi dari tempat itu
sebelum laki-laki itu melihatnya. Diberikannya senyum sekilas kearah Pak Ahmad sebagai
ucapan terimakasih yang kemudian membukakan pintu untuk Keysa.
Keysa berjalan cepat ke arah mobilnya
diparkir. Ia hanya berharap laki-laki itu tidak melihatnya. Namun terlambat.
Tatapan mereka bertemu saat Keysa sekilas melihat kearah laki-laki itu.
“Key.” Ucap laki-laki itu berusaha
menghampiri Keysa.
Keysa segera mempercepat langkahnya.
Tidak dipeduliakannya panggilan laki-laki itu dan suara langkah kaki yang
berusaha mengejar. Diambilnya kunci mobil, dan kemudian dibukanya. Ia hanya
ingin segera masuk ke dalam mobil dan pergi. Tepat saat Keysa hendak membuka
pintu mobil, tangan laki-laki itu menahannya.
“Keysa, tunggu.” Ucap laki-laki itu
pelan.
Keysa hanya terdiam. Menahan detak
jantungnya yang mungkin sekarang sudah tidak ia rasakan lagi ketika tangan
laki-laki itu menyentuh bahunya. Sentuhan yang selama ini ia kenal dan selalu
ia rindukan.
“Key.” Ucap laki-laki itu lirih menunggu
reaksi Keysa yang masih tetap diam tak mempedulikannya.
Keysa kemudian mencoba membuka pintu
mobilnya tanpa mempedulikan laki-laki itu, namun tangan kiri laki-laki itu
menanahannya.
“Key. Please. Bisa kita bicara sebentar?” Pinta laki-laki itu lebih
terlihat seperti memohon.
Keysa masih diam, berusaha mengatur
nafasnya. Mengatur hatinya, dan yang paling penting mengatur air matanya agar
tidak jatuh di depan laki-laki itu.
“Key. Please.” Ucap laki-laki itu lagi.
Keysa yang sudah membulatkan tekad untuk
kuat, akhirnya memutuskan untuk menghadapi laki-laki itu.
“Hi, Ton.” Ucap Keysa tiba-tiba.
Laki-laki yang dipanggilnya Anton itu
terkejut melihat perubahan Keysa yang tiba-tiba. Hampir saja ia tersentak
mundur.
“Key.” Ucap Anton lagi.
Keysa hanya tersenyum memandang lekat
wajah laki-laki di depannya.
“Udah lama gak ketemu. Ada perlu apa
cari aku?” tanya Keysa ringan dengan senyum diwajahnya, berusaha bersikap
biasa. Ditahannya air matanya yang sudah bersiap menyeruak keluar.
Anton yang tidak menyangka akan
mendapatkan perlakuan seperti itu dari Keysa hanya bisa diam, dilepasnya
genggamannya dari lengan Keysa dan dari pintu mobil. Selama ini ia membayangkan
jika Keysa akan berteriak histeris dan memakinya kemudian menangis, namun ia salah. Keysa yang dilihatnya saat ini
tampak anggun dan tenang. Dia jadi gugup sendiri melihat Keysa yang begitu
sempurna dimatanya. Keysa yang ini dilihatnya adalah Keysa yang hingga kini
membuatnya jatuh cinta. Ia sadar, jika Keysa bersikap seperti ini, itu pertanda
buruk untuknya.
“Kok jadi kamu yang diam? Kenapa Ton,
bingung?” tanya Keysa kemudian sambil tersenyum, sinis pada Anton. Ditatapnya
laki-laki itu tepat dimanik-manik matanya. Laki-laki itu gugup, pikir Keysa. Ia
merasa menang.
“Ok, Ton. Kalau sudah tidak ada yang mau
dibicarakan lagi. Aku masih ada perlu, bisa kamu minggir sedikit? Aku mau masuk
mobil.” Ucap Keysa tegas ketika dilihatnya Anton masih tetap diam tak bereaksi,
Keysa segera membuka mobilnya.
Jangan kamu pikir kamu akan lihat Keysa
yang akan memohon-mohon penjelasan padamu Ton, kamu gak akan pernah lihat itu.
Cukup sudah 2 tahun waktu yang ku berikan, ucap Keysa dalam hatinya setelah ia
berhasil duduk di dalam mobilnya. Tak butuh waktu lama untuk Keysa segera
meninggalkan Anton yang masih mematung menyaksikan kepergian Keysa.
---------------
“Kenapa kamu datang lagi?” teriak Keysa
disela isak tangisnya. Tangis Keysa tumpah sesaat setelah ia meninggalkan Anton
di tempat parkir. Ia tidak ingin Anton melihatnya rapuh, Keysa tidak ingin
Anton melihat air matanya.
Dikemudikannya mobilnya ke arah pantai,
hari itu ia ingin sendiri. Ia tidak ingin Ibunya tahu masalahnya. Ia tidak
ingin Ibunya tahu bahwa Anton kembali hadir dalam kehidupannya. Sudah cukup
Anton membuat dirinya dan keluarga besarnya malu. Ia tidak ingin Ibu dan
Ayahnya kembali terkenang lagi masalah itu.
Ditepikannya mobilnya di tepi pantai. Ia kelur mobil, ditinggalkan
sepatunya di dalam mobil dan ia berjalan disepanjang tepi pantai itu tanpa alas
kaki.
Hatinya tenang ketika air laut membasuh
kakinya, mengalirkan sensasi dingin yang mampu menyejukkan jiwanya, membantunya
menghapus sedikit demi sedikit sakit dihatinya.
Setelah lelah berjalan ia duduk sendiri
menghadap kearah pantai. Sunset itu
begitu indah, pikirnya. Dulu ia sering sekali ke pantai ini bersama Anton saat
Anton mengunjunginya, duduk berdua sekedar menikmati indahnya sunset di pantai itu terasa menyenangkan.
Semua kenangan itu terus bergulir satu persatau. Memberikan sensasi ganjil di
hatinya. Dadanya sesak, untuk kesekian kali air matanya jatuh.
Hanya ini yang tersisa darinya dan
Anton, pikirnya. Kenangan indah meskipun menyakitkan ketika diingatnya
pengkhianatan Anton padanya.
Setelah lelah, dan sunset itupun
menghilang, Keysa memutuskan untuk kembali pulang kerumah. Ia ingin segera
tidur malam itu.
----------------------------
Pukul 10 malam Keysa bersiap tidur,
ketika handphonenya berbunyi. Diambilnya
handphone itu dari tempatnya, tertera
nama Roni di sana. Keysa tersenyum, jauh dilubik hatinya, ia senang.
“Assalamualaikum.” Sapa Keysa ramah.
“Walaikumsalam. Hi Key, udah mau tidur?”
tanya suara disebarang.
“Iya tadinya, tapi suara telfon kamu
menggangguku.” Ucap Keysya.
“Jadi gak suka nie aku telfon?” Tanya
Roni bercanda.
“Iya gak suka, tapi udah terlanjur gak
apa deh, lagian kasian orang yang pengen denger suara ku.” Ucap Keysa lagi
tertawa geli.
Roni yang mendengar ocehan Keysa jadi
tertawa geli. Sejak satu tahun terakhir ini, Roni memang memberikan perhatian
lebih pada Keysa. Roni tidak bisa berbohong pada dirinya bahwa sejak dulu ia
menyukai Keysa, sejak mereka masih kuliah. Namun Kesay tidak pernah melihatnya
karena selalu ada Anton di hati Keysya, hingga akhirnya kesempatan itu datang
padanya ketika Anton meninggalkan Keysa.
“Baru pulang Ron?” tanya Keysa.
“Iya, capek banget. Tadi kok gak nunggu
aku dateng?” Tanya Roni.
Dan akhirnya malam itu Keysa tidur pukul
12 malam. Keysa selalu merasa nyaman setiap ngobrol dengan Roni. Roni smart,
tampan dan yang paling penting bagi Keysa Roni mencintainya, mungkin, pikir
Keysa. Malam itu ia melupakan Anton dan tidur dengan tenang membayangkan apa
yang akan terjadi esok ketika Roni mengajaknya keluar.
-----------------------------
“Akhirnya.” Ucap Keysa setelah melihat hasil kerjanya
sejak pagi. Keysa tersenyum sendiri melihat wajahnya. Mungkin aku tidak cantik,
tapi aku akan membuat semua mata tertuju pada ku karna itu aku, ucap Keysa
percaya diri. Hari itu ia ada janji dengan Roni. Kebetulan sekali hari itu
Keysa dan Roni libur.
Baru saja Keysa akan keluar kamar,
Ibunya memanggilnya.
“Key, Roni sudah datang.” Panggil
Ibunya.
Keysa yang memang sudah siap sejak tadi
segera mengambil tas dan handphonennya, kemudian dilihatnya sekali lagi
bayangannya dicermin “sempurna” ucapnya dan kemudian keluar dari kamar.
“Bu, Keysa pergi dulu ya.” Pamitnya pada
ibunya ketika dilihatnya ibunya sedang di dapur.
Ibu Keysa kemudian mengikuti anaknya
hingga ke ruang tamu. Tanpa banyak basa-basi, Roni kemudian pamit ke Ibu Keysa
untuk mengajak putrinya pergi. Ibu Keysa yang sangat mendukung hubungan mereka
tentu saja mengijinkan. Diperhatikannya Keysa dan Roni, terselip sedikit doa
dalam hatinya. “Ya Allah, jadikanlah dia jodoh yang tepat dan terbaik untuk
anak ku dari-Mu.”. dilihatnya kemudian mereka menghilang.
Dari kejauhan, seseorang yang sejak tadi
memperhatikan Keysa dan Roni kemudian pergi menjalankan mobilnya mengikuti
mereka berdua.
----------------
“Hari ini kita mau kemana Ron?” tanya
Keysa pada Roni sesaat setelah mereka berangkat.
“Ada deh. Surprise dong.” Ucap Roni pada
Keysa.
Keysa akhirnya mengalah setelah membujuk
Roni habis-habisan namun tetap tak berhasil membuat laki-laki itu bicara.
Perjalanannya tidak begitu jauh, kurang
lebih satu jam kemudian mereka tiba disebuah vila. Disekitar vila itu merupakan
perkebunan teh dan ada hutan cemara di sekeliling vila itu.
Sangat sejuk, pikir Keysa ketika ia
turun dari mobil. Dihirupnya udara yang segar dalam-dalam seakan takut jika ia
membuka mata nantinya udara itu akan menghilang.
“Bagaimana?” Tanya Roni yang sudah
berdiri di sebelahnya.
“Ini keren banget Ron. Aku suka, suka
sekali. Makasih ya.” Ucap Keysa tulus sambil merentangkan tangan dan memejamkan
mata, berusaha menikmati setiap detik kesegaran udara yang dihirupnya. Hatinya
begitu tenang dan nyaman.
Roni hanya tersenyum melihat ulah gadis
di sebelahnya ini. Dibiarkannya Keysa menikmati pemandangan disekitarnya
terlebih dahulu.
“Key, kita masuk yuk.” Ajak Roni
kemudian kepada Keysa. Roni mengajak Keysa masuk ke vila keluarganya. Tidak
terlalu besar, namun cukup unik dan klasik menurut pandangan Keysa. Ia
menyukainya.
“Key, sini deh. Aku tunjukin sesuatu.”
Ajak Roni menarik tangan Keysa setelah mereka ada di dalam rumah.
Keysa yang penasaran hanya bisa
mengikuti kemana langkah kaki Roni membawanya. Roni mengajak Keysa naik ke sebuah
tangga, sepertinya akan ke atap, pikir Keysa.
Dan ternyata pikirannya benar. Di atap
itu ada taman bunga yang indah yang tertata rapi. Ada sebuah ayunan besar di
tengah taman itu.
“Indah sekali.” Ucap Keysa yang
benar-benar tidak bisa menyembunyikan kekagumannya terutama setelah ia tahu
bahwa dari sana ia bisa melihat jauh
seluruh perkebunan teh dan hutan cemara yang ada di sana yang tersusun
rapi. Sangat indah, ucap Keysa lagi dalam hatinya.
“Makasih ya Ron, kamu udah ajak aku
ketempat yang indah kayak gini.” Ucap Keysa tulus. Roni hanya tersenyum.
“Kamu akan lebih berterimakasih lagi
kalau melihatnya malam nanti. Kamu akan
lihat pemandangan yang berbeda , gelap memang, tapi lampu-lampu dari desa itu
akan memantulkan sedikit cahaya sehingga kita bisa melihat indahnya daerah ini
pada malam hari.” Ucap Roni kemudian.
“Apa itu berarti kita harus menginap?”
tanya Keysa ragu.
“Hanya jika kamu tidak keberatan.” Ucap
Roni kemudian.
“Tapi aku belum ijin Ibu tadi.” Ucap
Keysa jujur dan sedikit ragu.
“Aku udah ijin ke Ibu tadi. Kamu boleh
telfon Ibu kalau gak percaya.” Ucap Roni menjelaskan. Keysa hanya tersenyum.
Roni selalu tahu apa yang ia pikirkan dan butuhkan, karena itulah ia nyaman
berada di dekat Roni.
“Ok. Hari ini kita keliling perkebunan
dan hutan dulu gimana?” Tawar Roni pada Keysa. Keysa segera mengiyakan tawaran
Roni tanpa panjang lebar.
---------------------
Seharian mereka berdua mengelilingi
perkebunan itu, hampir sebaagian perkebunan itu milik keluarga Roni. Beberapa
pekerja yang telah mengenal Roni menyapa mereka. Keysa melihat Roni begitu
ramah, dewasa, pintar dan tak begitu banyak bicara namun ia tipe orang yang
sangat peka. Keysa tidak bisa bohong pada dirinya bahwa ia memang mencintai
Roni.
“Kenapa senyum-senyum?” tanya Roni pada
Keysa ketika dilihatnya gadis itu tersenyum sendiri.
“Heeem..gak ada apa-apa kok. He..he..”
Jawab Keysa yang kemudian memberikan senyum termanisnya pada Roni. Roni yang
gemas melihat tingkah Keysa kemudian mengacak-acak raambut Keysa. Keysa yang
tidak terima rambutnya berantakan marah-marah pada Roni, dan Roni hanya bisa
menghidar serangan-serangan dari Keysa. Akhirnya mereka berdua berkejar-kejaran
di sekitar perkebunan itu. Mereka berdua terlihat sebagai pasangan yang sangat
bahagia.
“Ron, aku kan gak bawa baju ganti.” Ucap
Keysa mengingatkan ketika mereka sudah duduk di rumput depan vila. Keysa duduk
disebelah Roni. Disandarkannya kepalanya dibahu Roni.
Roni yang mulanya berpikir sebentar,
kemudian memiliki ide untuk mereka berbelanja di pasar terdekat sambil membeli
beberapa makanan untuk bekal mereka
nanti malam. Keysa menyetujui ide itu. Akhirnya mereka pergi berbelanja.
------------------------------
“Gimana? Aneh ya aku pakai baju ini?”
tanya Keysa pada Roni ssetelah ia selesai mandi.
Tidak ada baju yang menurut Keysa bagus
di pasar itu.
“Heeem…lumayan” ucap Roni setelah menimbang-nimbang.
Keysa yang tidak terima akhirnya berwajah
masam duduk di sebelah Roni yang sedang asik menonton TV. Sebenarnya Roni hanya
ingin menggoda Keysa. “Kamu pakai apa aja cocok Key.” Ucap Roni dalam hati
ketika dilihatnya Keysa masih cemberut.
“Kita makan apa malam ini Key?” tanya
Roni kemudian mengalihkan perhatian Keysa.
“Bagaimana kalau sup jagung saja biar
hangat kan tadi kita beli jagung.” Ucap Keysa memberi usul yang langsung disetujui oleh Roni.
Akhirnya mereka segera masak. Roni
memperhatikan Keysa sangat cekatan dalam memasak. Setelah selesai, mereka
sepakat untuk makan malam di taaman atas sambil melihat pemandangan di sekitar
mereka.
Malam itu sungguh sempurna. Selesai
makan, Roni mengajak Keysa duduk di ayunan yang ada ditengah taman. Keysa duduk
disebelah Roni. Mereka mengobrol tentang banyak hal, mulai dari pekerjaan, pengetahuan,
dan kehidupan.
“Key, dingin ya?” tanya Roni yang
melihat Keysa sudah agak menggigil. Keys hanya tersenyum. Waktu memang beranjak
semakin malam, tanpa terasa sudah pukul 10 malam. Dipegangnya tangan Keysa,
sangat dingin. Kemudia ditariknya gadis itu mendekat kepadanya, dipeluknya
Keysa, dimasukkannya kedua tangan Keysa kedalam jaketnya. Keysa hanya menurut.
Mereka masih disana dengan posisi Roni
memeluk Keysa dari belakang ketika tanpa sadar seseorang memperhatikannya dari
jauh.
“Key, kamu sudah benar-benar melupakan aku?”
Tanya laki-laki itu lebih pada dirinya sendiri.
“Key, aku sayang kamu.” Ucap Roni lirih
ditelinga Keysa.
Keysa yang masih dalam pelukannya
tiba-tiba terdiam. Keysa yakin Roni bisa merasakan denyut jantungnya sekarang
karena mereka begitu dekat, dan Keysa juga bisa mendengar detak jantung Roni
karena wajah Keysa tepat didada Roni yang sama kuatnya dengan detak jantungnya
sendiri.
“Key.” Panggil Roni kemudian ketika dilihatnya
Keysa masih terdiam tak bereaksi.
Keysa hanya menggumam lirih.
“Apa aku punya kesempatan Key?” tanya
Roni kemudian.
Lama kemudian keduanya terdiam. Roni
masih menunggu reaksi Keysa yang masih tetap dalam pelukannya. Suasanan semakin
dingin, Roni mempererat pelukannya pada Keysa dan Keysa tidak melawan.
“Ron.” Panggil Keysa kemudian akhirnya
bersuara.
Ditatanya hatinya sendiri agar ia tidak
menyakiti Roni. Keysya berusaha menjcari kalimat yang tepat.
“Aku gak tahu apa yang aku rasain ke
kamu. Aku nyaman ada di deket kamu. Aku gak ingin kehilangan kamu. Aku gak tahu
apa itu benar-benar cinta untuk kamu. Sepertinya memang iya itu cinta, tapi
Ron.” Ucap Keysa tiba-tiba berhenti. Ia berhenti sejenak untuk mempersiapkan
hatinya.
“Ron, kamu tahu kan nasibku 2 tahun
lalu?” Tanya Keysa pada Roni dan Roni hanya mengangguk.
“Ron, sampai detik ini hidupku masih
terpengaruh dengan masalah itu. Masih ada dia di sana Ron, di hatiku.” Ucap
Keysa. Roni terdiam, merasakan dadanya tiba-tiba sakit mendengar ucapan Keysa.
Tanpa sadar, ia mengendurkan pelukannya, Keysa mengyadari itu.
Kemudian Keysa memilih duduk tidak lagi
bersandar pada Roni. Di tatapnya wajah Roni lekat-lekat.
“Ron, aku tahu pasti kamu kecewa. Tapi
aku ingin kamu tahu yang sebenarnya. Ron, aku yakin aku sayang sama kamu. Tapi
aku juga yakin, ketika laki-laki itu datang nantinya, hatiku masih tepengaruh
oleh kedatangannya. Dan aku gak mau ngecewain kamu. Aku mau kita memulai
hubungan kita di saat aku benar-benar hanya mencintaai kamu Ron. Di saat aku
yakin kedatangannya tidak lagi mengganggu pikiran ku.” Ucap Keysa kemudian.
Tanpa sadar Roni langsung memeluk Keysa
kembali seerat mungkin seakan tidak akan pernah ia lepaskan.
“Key, aku harap itu benar-benar cinta
untukku. Dan aku akan siap nunggu sampai kamu bilang hati kamu hanya untukku.”
Ucap Roni.
Keysa hanya mengangguk, berjanji pada
dirinya sendiri tidak akan menyakiti Roni.
Malam itu mereka berdua berpelukan erat,
seakan tidak mampu melepaskan satu sama lain. Roni yakin Keysa mencintainya.
“Aku mencintaimu Ron. Aku yakin itu
cinta untukmu. Tapi Ijinkan Aku menghapusnya dan meyakinkan diriku bahwa Dia
bukan lagi alasan untukku menangis dan tertawa”. Ucap Keysa dalam hatinya.
Mungkinkah ini cinta?
Setelah ia pergi dan tersakiti
Mungkinkah benar rasa?
Setelah ia hancur
Mungkinkah ia kembali?
Kedalam relup hati
Yang pernah tersakiti,
Yang pernah terhianati
------The End -----
Tidak ada komentar:
Posting Komentar